Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL)

Yang Penting2 dari Rakornas Telematika &Media 2008 KADIN: Blue Print, Kepastian Hukum, Persaingan Ketat

Juni 25, 2008 · Tidak ada Komentar

Rakornas Telematika & Media 2008 KADIN Indonesia telah diselenggarakan
dengan lancar dan sukses pada hari Senin 23 Juni 2003, yang dibuka oleh
Bapak MenKominfo M. Nuh dan sambutan oleh Ketua Umum KADIN Indonesia
M.S. Hidayat.

Dari 3 presentasi yang disampaikan oleh 3 Operator, yaitu bapak Diruttel
Rinaldi Firmansyah, Direktur Mobile-8 pak Merza Fachys dan Direktur
INDOSAT pak Wahyu Wijayadi, menyuarakan kesimpulan yang sama atau
serupa, yaitu judul Subject Milis diatas: Blue Print, Kepastian Hukum,
dan Persaingan yang terlalu ketat sebab normalnya hanya ada 3-4 operator
dalam satu negara
. Diperkirakan akan terjadi merger operators dalam
kurun waktu kurang dari 3 tahun mendatang, agar persaingan bisnis
Telekomunikasi menjadi lebuh mudah dikendalikan.

Yang paling menonjol dan menentukan semuanya adalah belum adanya Blue
Print Telematika yang baku
yang dapat menjadi acuan para pelaku bisnis.
Mastel tahun lalu telah menyampaikan Draft Blue Print, Kadin menurut pak
Teguh juga sudah membuat, dan terakhir, kami juga ikut serta dalam
meeting2 penyusunan Blue Print atau Road Map Telematika yang
dikoordinasikan oleh Ditjen Postel/BRTI akhir tahun 2007 y.l.

Blue Print Telematika Indonesia ini memang harus sangat komprehensif,
mencakup berbagai aspek perencanaan dan kebutuhan masa depan:
- Arah perkembangan Teknologi, mana yang dipilih?
- Struktur Industri Telematika yang dikehendaki, baik operasional
layanan jasa-nya maupun Industri Manufacturing-nya.
- Kebijakan Investasi bagi Operator dan Manufacturing
- Kebijakan Persaingan Usaha dan Pentaripan

Kami akui bahwa draft-draft Blue Print yang pernah ada belum mencakup
semua hal diatas secara komprehensif dan bersifat futuristik (bisa
meramalkan kondisi minimal 10-tahun ke depan).

Bila Blue Print yang komprehensif ini sudah tersusun, maka segala
peraturan turunannya dapat menjadi sinkron dan terarah dalam
pelaksanaannya, yaitu UU, PP, KepMen, KepDirjen, dll.

Ini juga secara otomatis menjawab pertanyaan soal kepastian hukum dalam
bisnis Telematika di Indonesia.

Silahkan diberikan tanggapan dan saran-saran yang positif demi kemajuan
bangsa dan negara.

→ No CommentsKategori: Uncategorized
yang berkaitan: , , ,

Yogya Cybercity Pertama Indonesia “Republik Hot Nglesot”. Apakah dampaknya pada Industri Telematika?

Juni 8, 2008 · Tidak ada Komentar

Yogyakarta, mantan Ibukota Republik Indonesia di zaman Revolusi 1945, saat ini telah berkembang sebagai Ibukota “Republik Hot Nglesot”, sebab sudah banyak sekali lokasi-lokasi tempat anak-anak muda ber-lesehan di tikar sambil minum kopi panas dan makan nasi kucing, sambil berselancar di dunia maya. Hal ini dimungkinkan karena di lokasi-lakasi cafe atau cybercafe tersebut telah dipasang jaringan Wifi atau HotSpot yang memungkinkan para pengunjungnya berselancar di Internet secara gratisan, dengan imbalan memesan sekadar secangkir kopi, snack atau nasi kucing dengan harga yang sangat murah, khas tarif mahasiswa dan pelajar, di kisaran Rp1.000-an.
Kondisi ini dimungkinkan oleh karena makin murahnya sewa jaringan Broadband Internet di kota itu, sekitar Rp 350.000 – Rp 500.000 ber bulan Flat-Rate. Pemilik cafe tinggal memasang perangkat Transceiver WiFi untuk membuat HotSpot di cafe mereka. Selain di cafe-cafe, HotSpots juga dipasang di Mal-mal dan beberapa lokasi Taman Kota.

Surabaya merupakan kota kedua yang memiliki HotSpots gratisan di Taman-taman Kota yang peluncurannya dilakukan oleh Bapak MenKominfo pada awal tahun 2008 ini.

Sedangkan Pelopor HotSpots gratisan di Kota Bandung adalah Melsa Net, dengan imbalan branding Produk Layanan Internet mereka. Ini perlu dicontoh oleh para Penyelenggara Jasa Internet lainnya seperti IM2, Indonet, CBN, First Media dan Telkom Speedy di Bandung.

Di Jakarta kita dapat memperoleh HotSpot gratisan di lokasi Tugu Monas yang disediakan oleh Telkom Speedy. Di banyak Mal-mal dan Cybercafe di Jakarta masih banyak yang mengenakan tarif khusus dari para Penyelenggara Jasa Internet, seperti di Mal Pondok Indah-II, Citos, dan di Restoran di Bandara Sukarno-Hatta.

Di kota Batam juga sudah banyak Mal-mal yang memberikan layanan HotSpot gratis dengan harapan agar makin banyak pengunjung yang datang untuk berbelanja.
Sebenarnya penyelenggaraan HotSpots gratis ini dapat pula dibiayai dari hasil pemasangan iklan di halaman depan Web para Penyelenggara, yaitu cybercafe, Mal-mal, dan Penyelenggara Jasa Internet, saat para pengguna jasa melakukan Login.

Dengan makin maraknya HotSpots gratisan ini, maka sudah tentu akan memberikan dampak terhadap Industri Telematika dan Budaya Kerja Masyarakat Indonesia. Industri Telematika pertama yang akan terpengaruah adalah Warnet-warnet yang saat ini jumlahnya sekitar 10.000-an, sebab jumlah pengunjungnya akan makin berkurang, beralih ke tempat-tempat layanan HotSpots gratisan yang lebih nyaman untuk berselancar di Dunia Maya. Pukulan beruntun pada Industri Warnet datang pula dari makin banyaknya para pelanggan layanan jasa Telpon Seluler 3g/HSDPA yang mampu memberikan layanan Broadband Internet dimana saja dan kapan saja dengan tarif yang relatif murah.

Namun saat ini para Pengusaha Warnet masih sedikit beruntung, sebab para Operator Jasa 3G/HSDPA masih belum memberikan layaan bermutu tinggi, sebab mereka pada umumnya lebih mem-fokuskan perluasan jangkauan dari pada perbaikan mutu layanan.

Dampak positif bagi budaya kerja bangsa Indonesia dengan maraknya HotSpots gratisan ini dan layanan jasa 3G/HSDPA adalah makin banyak masyarakat Indonesia yang memilih untuk melakukan Kerja Jarak Jauh atau Teleworking. Di saat makin meningkatnya harga BBM, maka Teleworking dapat menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan BBM, dan penghematan biaya masyarakat. Budaya ini perlu secepatnya diperluas dan disosialisasikan bila bangsa Indonesia ingin maju secara cepat dan mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kemajuan Teknologi Telematika ini.

Industri lainnya yang akan diuntungkan adalah para Penyelenggara Online News, seperti Detik.com, Kompas.com, PressTalk.info dan QBHeadlines.com. Mereka diuntungkan karena akan makin banyak pengakses situs mereka, sehingga mereka lambat atau cepat akan menggantikan suratkabar, minnguan dan majalah berbentuk hardcopy atau lemabr-lembar kertas tulis. Media Online ini akan dapat meraih makin banyak iklan berbayar dengan imbalan yang sangat besar.

Lalu apakah yang harus dilakukan oleh para Pengusaha Warnet, dimana masa depan mereka akan makin suram? Ada strategi bisnis yang berbunyi sbb: “If you cannot fight them, the you should join them!” Ini barangkali strategi yang tepat bagi para Warnetters untuk merubah tempat layana mereka menjadi Cybercafe murah atau gratisan, dengan imbalan para pengunjung membeli makanan atau minuman, atau barang di kedai mereka. Alternatif lainnya adalah menjalin kerjasama dengan Penyelenggara Pendidikan Jarak-jauh, agar para mahasiswa mereka melakukannya dari Warnet-warnet dengan biaya murah atau gratis, dengan mengambil imbalan dari Uang Kuliah para mahasiswa tersebut.
Dibawah ini adalah tulisan Wartawan Kompas tentang perkembangan HotSpot di Yogyakarta dan beberapa kota lainnya sebagai referensi.

————0———-

Republik “Hot Ngelesot” KOMPAS, Minggu, 8 Juni 2008 | 00:37 WIB :Budi Suwarna dan Lusiana Indriasari

Orang Yogya sedang mengalami demam hotspot. Fasilitas hotspot disediakan di mana-mana, mulai kampus, sekolah, taman kanak-kanak, kedai, kos-kosan, arena futsal, hingga angkringan. Saking banyaknya hotspot, anak-anak muda di sini berseloroh, ”Kalau ada republik hotspot, Yogyakarta pasti jadi ibu kotanya.”

Jika Anda jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza (Amplas) di Jalan Laksda Adisucipto, Anda akan mudah menjumpai anak-anak muda menenteng laptop. Mudah ditebak, mereka pasti akan mampir ke salah satu kafe yang dilengkapi hotspot (area di mana orang bisa mengakses internet tanpa kabel). Mereka akan memesan segelas minuman, kemudian menyalakan laptopnya dan mulai berinternet selama dua jam sesuai batas maksimal yang ditetapkan kafe-kafe di sana.

Pemandangan serupa bisa ditemui di mal Jogjatronik di Jalan Brigjen Katamso, tepatnya di lantai tiga. Jumat (6/6) sore, ada dua belas orang duduk lesehan di selasar toko sambil memangku laptopnya dan asyik beraselancar di dunia maya. Sama seperti di Amplas, mereka adalah para pemburu hotspot. Bedanya, mereka tidak perlu mampir di kedai dan membeli minuman sebagai prasyarat menikmati fasilitas hotspot. Mereka cukup memanfaatkan gelombang hotspot gratisan yang meluber hingga ke selasar toko. Pemburu hotspot di tempat ini mungkin termasuk orang yang hemat atau mungkin bokek.

Sejumlah kedai di sepanjang Selokan Mataram, Gejayan, Sagan, dan Terban juga banyak yang ber-hotspot. Biasanya kafe itu akan memasang spanduk bertuliskan ”Free Hotspot, Unlimited”. Ada juga yang bertuliskan ”Hot Ngelesot”. Maksudnya, fasilitas hotspot bisa digunakan sambil ngelesot atau lesehan di lantai.

Fasilitas hotspot di kedai-kedai semacam itu pun gratis. Di Kafe Djendelo Tanah Airkoe, misalnya, Anda cukup membeli segelas Es Teh Djendelo Bersoebsidi seharga Rp 4.000 dan Anda sudah bisa memanfaatkan fasilitas hotspot mulai kafe itu buka di siang hari hingga tutup pukul 22.00. Itu kalau Anda tidak malu!

Nyatanya, kata Korlap Djendelo, Yusuf Sinaga, ada beberapa pelanggan yang tidak punya rasa malu. ”Main internet dari pagi sampai malam kok cuma pesan satu gelas teh. Saya sudah mendelik-mendelik dan hilir mudik di depannya, eh dia cuek aja,” katanya.

Tidak mau ketinggalan, kos-kosan, lapangan futsal, dan TK juga dilengkapi hotspot. Ibu-ibu lebih senang hanyut dalam dunia maya ketimbang ngerumpi dengan sesama sambil menunggu anaknya selesai belajar dan bermain di TK.

Yang lebih fenomenal, hotspot juga bisa dijumpai di angkringan. Salah satunya angkringan di halaman Sawitsari, Condongcatur, Sleman. Kamis (5/6) malam, ada 10 anak muda tenggelam dalam dunia maya. Ada yang sekadar chatting, bergabung dengan milis, membuka situs Friendster, YouTube, bahkan ada yang sedang bertransaksi bisnis (mungkin jutaan rupiah) sambil menyeruput kopi dan makan nasi kucing (nasi seukuran porsi makan kucing yang harganya cuma Rp 1.000 per bungkus).

Ah, di sini simbol-simbol saling bertabrakan. Angkringan yang merupakan simbol kaum jelata Yogyakarta bertabrakan dengan internet yang menjadi simbol kelas menengah. Gaya metropolis pengunjung bertabrakan dengan gojek kere (humor kaum jelata) khas Yogya yang biasa beredar di angkringan.

”Bapakmu masih kerja di Segitiga Bermuda? Kenapa enggak pindah ke Segiempat Bermuda atau Trapesium Bermuda?” canda salah satu pengunjung.

”Booming”

Bagaimana demam hotspot terjadi? Riza Tantular, Manager Citranet, perusahaan penyedia jasa internet, mengatakan, fenomena ini sebenarnya dimulai sejak munculnya kafe dan kedai kopi kecil seperti yang ada di sepanjang Selokan Mataram tahun 2004. ”Kedai-kedai itu menyediakan fasilitas hotspot untuk menarik mahasiswa,” ujarnya.

Setelah Amplas—yang dilengkapi fasilitas hotspot—berdiri tahun 2006, demam hotspot kian menjadi. Orang makin betah nongkrong, sambil berselancar di dunia maya.

Para pemilik tempat usaha mengakui, hotspot bisa menjadi alat yang efektif untuk memancing pelanggan. Franzeska Mei, General Manager Neofutsal, mengatakan, pengunjungnya terus bertambah setelah pihaknya memasang fasilitas hotspot. Dia mengaku hanya mengeluarkan dana Rp 380.000 per bulan untuk berlangganan internet. ”Dana yang dikeluarkan sebanding dengan penambahan pengunjung,” katanya.

Manager Data Internet PT Telkom Kandatel Yogyakarta Taryoko mengatakan, penggunaan akses internet nirkabel di Yogya memang mengalami ledakan sejak tahun lalu. Orang tinggal menambahkan perangkat access point seharga Rp 400.000 ke koneksi internet dan, bimsalabim, layanan hotspot tersedia.

Taryoko menambahkan, saat ini pelanggan Speedy (produk layanan internet Telkom) di Yogyakarta berjumlah 7.000 orang. Dia memperkirakan lebih dari 100 pelanggan telah menambahkan fasilitas hotspot.

Riza dan Taryoko yakin demam hotspot akan terus berlanjut. Pasalnya, pengguna internet di Yogyakarta makin praktis dan mobil. Apalagi laptop yang dilengkapi perangkat Wi-Fi (wireless fidelity) semakin murah. Dengan uang kurang dari Rp 5 juta, orang sudah bisa memiliki laptop dengan Wi-Fi.

Gejala itu memang semakin nyata. Indikasinya, penjualan laptop di Yogyakarta laris bak kacang goreng. Arie Asimilia, Media Relation Emax Fortune Jogja—distributor notebook Apple—mengatakan, sejak membuka gerai di Amplas tiga bulan lalu, pihaknya mencatat angka penjualan sangat tinggi. Bahkan, angka penjualan di gerai ini melampaui angka penjualan gerai Emax di Jakarta. Sayangnya, dia tidak bersedia menyebutkan jumlahnya.

Sekarang, lanjutnya, pembeli di gerainya harus menunggu 14 hari kerja untuk mendapatkan notebook. Notebook yang banyak dicari adalah yang harganya berkisar Rp 10 juta-Rp 11 juta dengan model trendi. Kebanyakan pembelinya mahasiswa.

Diaz Ario, Junior Project Manager PT Dyandra Promotion Yogyakarta, yang sering mengadakan pameran komputer mengatakan, penjualan laptop satu-dua tahun terakhir di Yogyakarta memang gila-gilaan, terutama yang harganya berkisar Rp 3 juta-Rp 4 juta. ”Sekali pameran, ratusan laptop yang terjual. Banyak yang tidak kebagian sehingga laptop pajangan pun ditawar,” katanya.

→ No CommentsKategori: Yogya First Cybercity dan Dampak terhadap Industri ICT
yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , ,

IGADD dan Business 2.0: Hasil Business Luncheon Kamis 5 Juni 2008

Juni 5, 2008 · Tidak ada Komentar

Siang hari ini Kamis 5 Juni 2008 kami ikut menghadiri acara Business Lunch yang diselenggarakan oleh IGADD dan MASTEL di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan Jakarta.

IGADD atau Investors Group Against Digital Divide adalah sebuah organisasi non-profit yang didirikan oleh Dr. Ilham Habibie dari The Habibie Center dan Prof. Craig Warren Smith dari MIT, masing-masing selaku Co-Chairman. Tujuan utamanya adalah membuat lingkungan yang kondusif bagi para Investors besar maupun kecil agar mau berinvestasi
bagi pembanguan Backbone Jaringan Broadband maupun Jaringan Acces ke para pengguna jasa, dan menjadikannya sebagai broadband yang bermanfaat bagi Rakyat Indonesia.

Dalam acara itu, ada tiga orang pembicara, yaitu Bapak Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar, Pak Ilham Habibie, dan pak Craig Warren Smith.

Bapak Dirjen menyampaikan perkembangan mutakhir pembangunan jaringan Serat Optik DN maupun LN yang menghubungkan Jakarta dengan Singapore, Kuala Lumpur, Australia, Vietnam, Hongkong dan Tokyo yang telah mendapat ijin, dan ada yang sudah mulai instalasi. Tender untuk Jaringan SO Palapa Ring saat ini juga sudah dimulai. Diharapkan pada tahn 2009 berbagai Jaringan Backbone SO ini sudah akan beroperasi.

Yang masih diharapkan adalah investor untuk hubungan Backbone dari Manado ke Filipina, agar makin banyak alternatifnya, dan dipakai untuk sistem back-up/redundancy.

Untuk Jaringan Akses ke pelanggan, maka akan dipakai Jaringan WiMAX, selain dari existing jaringan Seluler Mobile, dan 3G/HSDPA, dan WiFi/HotSpots.

Pak Dirjen Postel boleh berbagga, bahwa semmua jaringan itu dibangun melalui kerjasama Public-Private-Partnership (PPP).

Sebagai penutup, pak Dirjen mengutip lagu Martin Luther King dalam mengharapakan impiannya: “I have a Dream….”. Suatu hari Indonesia akan maju pesat dengan jaringan Broadband Internet. Semoga!

Pak Ilham Habibie menjelaskan tentang organisasi IGADD, Visi, Misi dan Tujuannya. Dilaporkan bahwa IGADD saat ini telah menandatangani MOU dengan DEPKOMINFO dan MASTEL.

Pak Craig Warren Smith memberikan uraian tentang cara untuk merealisasikan tujuan IGADD, yaitu melalui kerjasama dengan berbagai pihak, Pemerintah/Regulator, Organisasai2 Internasional (World Bank, ITU, dll), NGO Indonesia (MASTEL, Universitas2, dll), Para Investor LN maupun DN (Goldman Sachs, dll), Perbankan (BCA, HSBC, BRI, Mandiri, dll).

Dari hasil tanya-jawab, dapat disimpulkan bahwa “Meaningful Broadband” di Indonesia hanya akan dapat dicapai bilamana melibatkan semua stakeholders, baik investor maupun operator jaringan infrastruktur Broadband, maupun penyedia dan pengguan Content untuk meramaikan penggunaan Jaringan Broadband itu bagi kemajuan bangsa dan negara.

Menyangkut Investors, sesuai kepanjangan dari IGADD, ada investor besar dan operator2 besar untuk jaringan Backbone yang panjang dan mahal (kabel SO bawah laut), namun lebih banyak lagi investor2 dan operator2
kecil untuk jaringan akses lokal yang relatif murah dan bisa didanai dari DN. Juga untuk content-nya umumnya bisa disediakan dan di-operasikan oleh anak-anak bangsa Indonesia. Inilah makna penting dari Business 2.0, partisipasi semua pihak yang berkepentingan, sebagaimana dengan era Web 2.0 Social Networking yang melibatkan partisipasi semua pihak yang berkepentingan.

Semoga tujuan yang mulia dari IGADD ini didukung oleh semua elemen bangsa Indonesi demi mencapai Masyarakat Indonesia yang maju, cerdas, aman, makmur, damai dan sejahtera. Insya Allah, Indonesia Bisa!

Wassalam,
Sumitro Roestam
Sent via Open Source Software Blankon “Lontara” version 3.0 Made in Indonesia
————————————————————————–
Pakailah Software Legal - Awas ada sweeping Laptop di Bandara Cengkareng!
————————————————————————–

→ No CommentsKategori: Meaningful Broadband
yang berkaitan: , , ,

Dapatkah Perubahan Budaya Kerja Teleworking Mencegah kenaikan Harga BBM Dalam Negeri?

Mei 16, 2008 · 1 Komentar

Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu dalam hari-hari ini sedang dalam proses memantapkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM, sebagai salah satu cara untuk mengurangi subsidi BBM akibat dari naiknya harga-harga minyak mentah di Pasar Internasional.

Indonesia dahulunya adalah termasuk negara peng-ekspor minyak dunia dan sampai saat ini masih menjadi Anggota OPEC (Organisasi Negara-negara Peng-ekspor Minyak), walaupun saat ini Indonesia sudah menjadi negara yang meng-impor minyak (net oil importing country), sebab kebutuhan akan minyak mentah Indonesia sudah mencapai 1,2 juta barrel per hari, versus Produksi Minyak Mentah sebesar sekitar 1 juta barrel per hari. Namun perlu kita ketahui bahwa Indonesia juga adalah peng-ekspor Gas Bumi (LNG) terbesar di dunia, peng-ekspor Batubara, dan peng-ekspor terbesar CPO yang dapat digunakan sebagai Biofuel.

Kalau saja berbagai bentuk energi tersebut diatas dapat dipertukarkan, maka sebenarnya Indonesia adalah negeri “Net Exporter of Energy”. Sehingga secara makro, maka dampak kenaikan harga BBM dunia malah akan sangat menguntungkan Indonesia, bertambahnya Devisa Negara karena sebagai “Net Exporter of Energy”. Dana besar ini malah dapat dipakai untuk mensejahterakan Rakyat Indonesia.

Di Indonesia telah pula diketahui banyak sumber energi alternatif sebagai supplement atau pengganti energi BBM, yaitu:

  1. Biogas yang berasal dari kotoran sapi,

  2. Etanol yang berasal dari tanaman Enau (satu pohon enau dapat menghasilkan 1-liter etanol murni) yang merupakan biofuel.

  3. Briket Arang yang dibuat dari sampah kota (diproduksi di Ciamis dengan harga Rp 1.600/kg briket arang),

  4. Bahan bakar dari serbuk gergaji (di lokasi-lokasi penggergajian kayu), dll

  5. Energi matahari yang diubah menjadi energi listrik dengan Solar Panel (dipakai di pedalaman Kalimantan Tengah),

  6. Energi Ombak yang diubah menjadi energi listrik di Panati Selatan Pulau Jawa.

  7. Energi Angin yang dapat dikombinasikan dengan energi matahari untuk mengisi Battery Penyimpan Energi Listrik,

  8. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

Itu semua kalau secara intensif dan dilakukan secara terkoordinasi di seluruh Indonesia, maka hasilnya akan berupa pengurangan kebutuhan BBM yang cukup signifikan.

Kembali kepada topik utama, maka kami akan uraikan bahwa dengan merubah budaya kerja dari bekerja masuk kekantor tiap hari (5-hari atau 6-hari kerja), menjadi budaya bekerja jarak jauh atau Teleworking, Indonesia akan dapat menghemat pemakaian BBM lebih banyak lagi. Dengan Teleworking, maka para karyawan tidak lagi harus masuk kantor tiap hari, tetapi cukup masuk kantor 1 -hari atau 2-hari saja dalam 1-minggu.

Sudah tentu tidak semua jenis pekerjaan dapat dilaksanakan secara jarak jauh. Yang cocok untuk kerja jarak jauh adalah pekerjaan para Top Executives, Managers, dan karyawan yang hanya memerlukan kerja otak saja yang dapat melaksanakan kerja jarak jauh. Masuk kantor secara fisik hanya diperlukan saat akan konsultasi dengan Pimpinan atau Staff, dan rapat-rapat yang memerlukan kehadiran fisik.

Di Indonesia saat ini terdapat sejumlah 27 juta orang yang sehari-harinya biasa mengakses Internet untuk berbagai keperluan bisnis maupun non-bisnis. Dengan asumsi bahwa hanya 50%-nya dari jumlah tersebut diatas yang dapat atau mau melakukan Teleworking (Kerja Jarak Jauh), dan asumsi penghematan BBM sebesar 5-liter per hari per orang, maka Total penghematan BBM dapat mencapai:

  • 27-jutax50%x5-liter = 67,5 juta liter per hari, atau

  • 67,5-juta liter x 360 hari = 24,27 juta liter per tahun

Dengan harga Bensin rata-rata Rp 5000/liter, maka akan dihemat dana subsidi BBM sebesar Rp 121,35 milyar per tahun.

Keuntungan lainnya dari penerapan Budaya Teleworking adalah berkurangnya kepadatan lalulintas, sehingga memperlancar transportasi di kota-kota besar di Indonesia.

Kesimpulan dari analisis ini:

  1. Dampak terbesar yang dapat diperoleh untuk mencegah naiknya Harga BBM di dalam negeri adalah melalui pengaturan pendapatan negara dari hasil penjualan Ekspor Energi Indonesia, sebab Indonesia adalah “Net Exporter Energy”, serta restrukturisasi penggunaan BBM di dalam negeri (tingkatkan pemakaian energi dari gas bumi, dan kurangi pemakaian energi BBM).

  2. Extensifikasikan penggunaan Energi Alternatif untuk menghemat BBM

  3. Kembangkan Budaya Kerja Jarak Jauh, yang dapat menghemat energi BBM secara moderat, serta mengurangi kemacetan lalulintas.

Semoga dapat menjadi bahan pertimbangan para Pemimpin di negeri ini dalam upaya mensejahterakan Rakyat Indonesia.

→ 1 CommentKategori: Uncategorized

Pidato Steve Job di Acara Wisuda Stanford University: “Stay Hungry. Stay Foolish”

Mei 1, 2008 · & Komentar

Steve Jobs adalah salah satu tokoh penting di Dunia Teknologi Informasi seangkatan dan sekelas dengan Bill Gates, mantan CEO Microsoft yang akan berkunjung ke Indonesia pada tanggal 9 Mei 2008.

Steve Jobs

Ketika saya membaca Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University, yang isinya adalah biografi Steve Jobs sendiri dan merupakan perjuangan hidupnya dalam mencapai keberhasilan sampai dengan saat ini, saya sangat terharu dan kagum atas keuletannya dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Steve Jobs juga ternyata memiliki filosofi kehidupan yang sangat dalam maknanya, yang saya harapkan dapat menjadi contoh tauladan kita semua dan generasi muda Indonesia pada umumnya.

Judul Pidato: “Stay Hungry. Stay Foolish” adalah sangat cocok bagi generasi muda Indonesia untuk bekerja keras dalam membangun negeri Indonesia yang kita cintai. Terjemahan Pidato Steve Jobs ini kami peroleh dari Sdri. Dewi Sri Takarini, alumni sebuah perguruan tinggi di Australia. Silahkan disimak dan direnungkan.

——————-0———————

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik
Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran bayi perempuan karena ingin. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab:
“Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangka n. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:

Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik
dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya
bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi,
takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak
perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi
orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari
hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk
terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.
Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang.

Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah
mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang
gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu
mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun
sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun asangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah
bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya,
yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.

Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut
konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:
Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda
sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog“, yang menjadi salah
satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu
Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish.

→ 13 CommentsKategori: Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford Univ.
yang berkaitan: , , , ,

Senandung Ayat-ayat Cinta di Hari HaKI se Dunia ke-8, Sabtu 26 April 2008

April 27, 2008 · Tidak ada Komentar

Ditengah kesibukan kita se-hari-hari dan ramainya Milis tentang akan
hadirnya Bill Gates serta Proyek NAMRU-II, kita semua jadi terlena untuk
memperingati hari penting dunia, yaitu Hari HaKI Dunia ke-8 yang jatuh
pada hari Sabtu kemarin, 26 April 2008.

Untuk itu kami lampirkan repotasi wartawan bisnis.co.id, sdr. Suwantin
Oemar dengan judul diatas sebagai bahan diskusi.

Penghancuran Software Bajakan

  1. Indonesia selaku anggota World Intelectual Property Organization(WIPO) yang telah memilkik UU HaKI sudah tentu perlu bersikap cerdas dan cerdik dalam memanfaatkan keanggotaan di WIPO ini bagi semaksimalnya kepentingan nasional bangsa dan negara Indonesia.
  2. Jangan sampai keanggotaan Indonesia di WIPO ini malah menyebabkan kerugian besar dalam bidang perekonomian dan perdagangan Internasional, serta memberikan kesengsaraan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Misalnya, banyaknya Kepemilikan Intelektual Bangsa Indonesia berupa hasil karya seni dan budaya asli Indonesia malah terlepas dari tangan kita, menjadi milik bangsa dan negara asing. Sepertli lagu-lagu karya asli bangsa Indonesia, pola desain batik, ukiran, tenunan, kerajinan tangan, dll, tanpa kita sadari, terlepas dari tangan bangsa Indonesia.
  3. Mengapa UKMK dan Individu Indonesia belum atau tidak sadar, atau tidak mampu mendaftarkan Kekayaan Intelektual mereka berupa Paten nama/brand/merek dan Copyrights selama ini? Sebabnya antara lain adalah karena kurangnya sosialisasi Pemerintah/ Lembaga yang ditugasi tentang permasalahan ini, berbelitnya administrasi yang harus ditempuh, lamanya proses dan mahalnya biaya (atau banyaknya perantara) untuk mendapatkan HaKI mereka.
  4. Di Era Internet dan majunya jaringan Broadband/3G Indonesia, seharusnya banyak “short-cuts” yang bisa ditempuh untuk meningkatkan effisiensi dan kecepatan proses dalam mendapatkan HaKI bagi rakyat kecil atau individu bangsa Indonesia. Kami bersedia untuk memberikan bantuan advis bagi kemajuan bangsa dan negara.
  5. Yang terjadi selama ini adalah kebalikannya, Pemerintah sibuk dengan berbagai upaya untuk melindungi Kekayaan Intelektual milik bangsa Asing, menakut-nakuti para UKM, merampas hak milik mereka dengan dalih Sweeping Software Illegal, tanpa ada upaya khusus untuk melepaskan mereka dari jeratan Hukum UU HaKI, sebelum dilakukan sweeping.
  6. Upaya butir 5 tersebut diatas adalah perjuangan kami bersama kawan-kawan yang memiliki pandangan yang sama, untuk membebaskan rakyat kecil, UKMK, masyarakat umum dan individu bangsa Indonesia dari jeratan UU HaKI Indonesia yang kita buat sendiri, sehingga tidak membuat sengsara mereka, putus asa, menyerah sebagai pengusaha UKMK (contoh, sudah banyak pengusaha warnet yang berpindah bisnis).
  7. Dari hasil diskusi di Milis-milis, kami dapat berikan kesimpulan penting untuk dapat menyusun strategi keberhasilan perjuangan pada butir 6 diatas, yaitu:
  • Masyarakat Indonesia pada umumnya sudah terbiasa (istilah lainnya, kecanduan) memakai Software-software Proprietary. Ini diakui oleh individu para mantan Pejabat, seperti pengakuan pak Djiwatampu, bahwa sangat sulit melepaskan kebiasaan mereka untuk berubah memakai Software Legal Open Source. Dampaknya, mereka selalu “menyerang” usul innovatif dan kreatif untuk melepaskan Bangsa Indonesia dari ketergantungan atau kecanduan penggunaan Software Proprietary, dengan berbagai argumentasi dan alasan agar usul tersebut gagal atau ditolak mayoritas masyarakat Indonesia.
  • Karena ketidak-tegasan dan ketidak-jelasan kebijakan Pemerintah dalam menyikapi penerapan UU HaKI Indonesia, maka dilapangan terjadi Pesaingan Bisnis yang tidak sehat, sebab banyak Perusahaan/UKM berbisnis secara tidak fair (tidak sehat), yang memakai Software Full Proprietary berlisensi (CAPEX tinggi) dibiarkan bersaing secara tidak sehat dengan Perusahaan/UKM yang menggunakan Software Illegal (CAPEX rendah) yang berjalan melalui berbagai upaya untuk dapat lepas dari jeratan hukum.
  • Ketidak-jelasan Pemerintah dalam menyikapi pilihan Penggunaan SW Legal Proprietary atau SW Legal Open Source, sebab seperti butir 7-A diatas, banyak Instansi yang sudah terbiasa ( istilah lainnya, kecanduan) memakai SW Proprietary (36% legal, 64% bajakan, hasil Survey di 11 kota oleh DEPKOMINFO 2007). Sebetulnya secara Logis, rasional dan gampang, pilihan bagi Instansi Pemerintah seharusnya adalah penggunaan SW Legal Open Source, selain murah atau gratis, juga tidak kalah canggih dengan SW Proprietary yang saat ini dipakai untuk tugas2 harian perkantoran (Open Office atau Multimedia Office untuk menggantikan MS Office). Tentu ada sedikit pengecualiannya, beberapa SW Proprietary khusus, seperti AutoCAD, misalnya.

Kalau Pemerintah Jerman dan beberapa negara Amerika Latin dapat membuat keputusan Pemerintah yang tegas untuk menggunakan SW Open Source bagi Instansi Pemerintah tanpa ada protes para Vendor Proprietary, mengapa Pemerintah Indonesia tidak bisa? Jawabannya sederhana, karena keengganan untuk merubah kebiasaan (kecanduan) menggunakan SW2 Proprietary (legal +illegal).

Jadi bagaimanakah solusi bagi bangsa Indonesia. Solusi jalan tengah yang kami usulkan sudah kami jelaskan secara panjang-lebar di Milis2, dimana essensinya, dilakukan Regulasi (Himbauan?) agar ada Segmentasi Fokus Bisnis Software di Indonesia. Para Vendor SW Proprietary agar memfokuskan pemasaran produk2nya (juga iming2 produknya) ke Perusahaan yang kaya, Individu yang kaya saja, agar dapat dipastikan mereka tidak
akan melakukan pembajakan software atau penggunaan SW Proprietary Illegal.

Sedangkan SW Open Source mendapat jatah pasar Instansi Pemerintah umumnya dan UKMK, masyarakat umum Indonesia dan individu, karena keterbatasan anggaran atau dana mereka, sehingga kemapuan mereka hanyalah membeli SW Legal Open Source yang murah atau gratis, dan terhindar dari perbuatan Illegal membajak SW Proprietary. Tentu saja Perusahaan Besar, Individu kaya tidak dilarang untuk membeli murah SW Open Source atau meng-copynya secara gratis, sebab ini tidak melanggar hukum dan malah meningkatkan keunggulan kompetitif mereka (menghemat biaya CAPEX).

Silahkan diberikan tanggapan dan saran-saran yang positif demi kemajuan dan kemandirian bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.

Wassalam,
S Roestam
Masyarakat Informasi


================================================
Senandung Ayat-Ayat Cinta pada Hari HaKI sedunia
oleh : Suwantin Oemar

================================================


Hari ini, seluruh negara anggota World Intellectual Property
Organization (WIPO), termasuk Indonesia, memperingati hari hak atas
kekayaan intelektual (HaKI) sedunia.

Peringatan kedelapan hari HaKI sedunia pada tahun ini memilih tema
Celebrating Innovation and Promoting Respect for Intellectual Property.
Indo-nesia merayakannya dengan menggelar berbagai kegiatan, antara lain
acara gerak jalan yang dijadwalkan dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf
Kalla.

Peringatan itu berlangsung di tengah masih maraknya pelanggaran terhadap
HaKI di dalam negeri, terutama pembajakan software, lagu dan film.

Pembajakan hak cipta tidak saja terjadi terhadap karya milik asing, tapi
juga karya cipta putra-putri Indonesia. Film laris Ayat-Ayat Cinta pun
dibajak habis-habisan.

Peredaran VCD/DVD Ayat-Ayat Cinta bajakan sangat luas, baik di pusat
perbelanjaan maupun di atas kereta api Jabodetabek dan jembatan
penyeberangan. Produk film laris itu hanya dijual berkisar
Rp7.000-Rp10.000 per keping.

Maraknya pelanggaran terhadap hak cipta, merek dagang, dan desain
industri mencerminkan kurangnya penghargaan dan penghormatan terhadap
karya cipta milik orang lain.

Para pembajak karya cipta hanya mementingkan keuntungan bagi dirinya
sendiri. Tidak pernah terpikir bahwa perbuatan itu tidak saja merampas
hak-hak orang lain, tetapi juga turut andil mematikan kreativitas anak
bangsa dan industri rekaman.

Perbuatan para pembajak itu juga merugikan negara karena hilangnya
potensi pemasukan dari pajak.

Pertanyaannya sekarang adalah, apa makna peringatan hari HaKI sedunia
bagi Indonesia? Apakah hanya sekadar seremonial?

Peringatan hari HaKI sedunia bagi Indonesia hendaknya bisa menjadi
cermin dan evaluasi bagi pemerintah. Event itu hendaknya juga dijadikan
momentum untuk menoleh ke belakang, menyangkut perlindungan hukum
terhadap HaKI.

Apabila kita bertanya kepada diri sendiri, sejauh mana Indonesia
berhasil memberikan perlindungan hukum terhadap HaKI dan rasa nyaman
kepada investor?

Jawabannya mungkin beragam, bergantung pada kita melihat dari sisi mana.
Akan tetapi fakta di lapangan menunjukkan tingkat pelanggaran HaKI masih
tinggi.

Lihat saja hasil kajian yang dilakukan oleh International Intellectual
Property Allliance (IIPA). Pada tahun lalu, Indonesia masih bercokol di
tempat teratas tingkat pembajakan software.

IIPA adalah gabungan dari enam asosiasi yang mewakili industri Amerika
Serikat (AS) berkaitan dengan hak cipta.

Anggota IIPA mewakili 1.900 perusahaan yang memproduksi dan memasarkan
produk yang dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta.

Tingkat peredaran sofware bajakan di dalam negeri, menurut data IIPA,
mencapai 85%, sedangkan tingkat pembajakan produk musik dan rekaman
mencapai 92%.

Kita bisa saja membantah data yang disodorkan oleh IIPA tersebut. Akan
tetapi, hasil kajian lembaga itu selalu menjadi acuan bagi United States
Trade Representative (USTR) dalam memasukkan negara-negara yang perlu
diawasi, berkaitan dengan pelanggaran hak cipta

Peringatan hari HaKI sedunia kali ini, hendaknya menjadi momentum untuk
meningkatkan kesadaran, pemahaman dan mendorong lahirnya inovasi-inovasi
baru di tengah masyarakat.

Karya-karya dan inovasi baru masyarakat hanya muncul apabila para
penciptanya merasa aman dan nyaman, dari tindakan pembajakan.

Menurut kalangan konsultan HaKI, pemahaman masyarakat Indonesi terhadap
hak intelektual masih kurang.

Para pengusaha, khususnya sektor usaha kecil dan menengah (UKM), juga
kurang memahami manfaat pendaftaran merek dagang, desain industri, hak
cipta, dan paten.

Beban bagi UKM

Bagi UKM, mendaftarkan HaKI manjadi beban tersendiri karena mereka harus
mengeluarkan sejumlah uang. Ketidakpahaman mengenai manfaat HaKI itu
disebabkan oleh kurangnya sosialisasi.

Apabila saja kelompok usaha UKM paham akan manfaat pendaftaran terhadap
HaKI, mereka pasti berbondong-bondong untuk mendaftarkan. Mereka baru
sadar dan berteriak-teriak setelah merek dagang, desain industri, hak
cipta atau paten mereka dibajak oleh orang.

Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk sosialisasi? Tentu saja semua
instansi yang terkait dengan HaKI.

Instansi pemerintah hendaknya lebih proaktif melakukan sosialisasi ke
sentra-sentra produksi UKM dan tidak sekadar mengadakan seminar dan
lokakarya di hotel-hotel berbintang.

Potensi HaKI Indonesia itu sebenarnya ada di sentra-sentra produksi UKM
yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Masalah penting lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah sejauh mana
penegakan hukum HaKI di dalam negeri. (suwantin.oemar@bisnis.co.id)

→ No CommentsKategori: Penerapan HaKI yang menguntungkan Indonesia
yang berkaitan: , , ,

Diskusi Panel: “Prospek Menara Bersama bagi Pengembangan Industri Telekomunikasi di Indonesia”

April 22, 2008 · Tidak ada Komentar

Koran Tempo pada hari Kamis 17 April 2008 telah memprakarsai sebuah Diskusi Panel tentang Prospek Menar aBersama bagi Pengembangan Industri Telekomuniksai di Indonesia, di Ball Room Hotel Mulia Jakarta.

Hadir sebagai Panelis adalah:

1. Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar dan Ashar Hasyim - Direktur Standardisasi Ditjen Postel

2. Ketua BKPM Muhammad Luthfi

3. Mas Wigrantoro Roes Setiyadi - Ketua Mastel

4. Agus P Simorangkir - Pengamat Telekomunikasi

Sebagai Moderator adalah Wicaksono - Redaktur Pelaksaan Koran Tempo.

Idee membuat Permen Kominfo tentang perihal tersebut diatas dilandasi oleh upaya untuk meningkatkan efisiensi biaya dan efisiensi sarana Infrastruktur Telekomunikasi berupa Menara, sehingga diharapkan bisa menurunkan biaya investasi (CAPEX) dan operasional (OPEX) layanan telekomunikasi di Indonesia, yang akan diwujudkan berupa tarif yang lebih murag bagi para pengguna jasa.

Dari hasil Diskusi tersebut diatas, maka telah ada kesamaan pendapat antara Depkominfo dan BKPM, bahwa Pembangunan Menara Bersama akan menjadi “icon” kemandirian bangsa Indonesia yang mendapat dukungan penuh kedua instansi Pemerintah tersebut, seperti yang dituangkan dalam Pasal 5 ayat 2 Permen Kominfo Nomor 02/PER/M.KOMINFO/3/2008:

  • “Penyedia Menara, Pengelola Menara atau Kontraktor Menara yang bergerak dalam bidang usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat 1 adalah Badan Usaha Indonesia yang seluruh modalnya atau kepemilikan sahamnya dimiliki oleh pelaku usaha dalam negeri”

Pasal 6 Permen tersebut diatas mengharuskan penggunaan standar baku untuk menjamin keamanan lingkungan dengan memperhitungkan kekuatan dan kestabilan konstruksi Menara Bersama.

Pasal 7 adalah kententuan untuk kelengkapan Menara dengan sarana pendukung dan identitas hukum yang jelas.

Pasal 8 dan 9 adalah tentang keharusan pemenuhan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di kawasan tertentu, antara lain:

  • Kawasan Bandar Udara/Pelabuhan
  • Kawasan Pengawasan Militer
  • Kawasan Cagar Budaya
  • Kawasan Pariwisata, atau
  • Kawasan Hutan Lindung

Pasal 10, 11 dan 12 adalah ketentuan untuk Penggunaan Menara secara Bersama-sama diantara para Penyelenggara Telekomunikasi.

Pasal 13, 14 dan 15 berisikan prinsip-prinsip penggunaan Menara Bersama, terutama:

  • Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha yang tidak sehat
  • Penyelenggara Telekomunikasi yang memiliki Menara, Penyedia atau Pengelola Menara harus menginformasikan ketesediaan kapasitas Menara-nya
  • Keharusan menggunakan sistem antrian dengan cara “First come, First serve”

Pasal 17 menetapkan bahwa Pengawasan dan Pengendalian pelaksanaan Permen ini dilaksanakan oleh Dirjen Postel.

Pasal 18 adalah Pengecualian Permen ini:

  • Menara yang digunakan untuk keperluan Jaringan Utama
  • Menara yang dibangun pada daerah-daerah yang belum mendapatkan layanan telekomunikasi atau yang tidak layak secara ekonomis.

Pasal 20 adalah Ketentuan Peralihan:

  • Penyelenggara Telekomunikasi atau Penyedia Menara yang telah memiliki Izin Mendirikan Menara dan telah membangun Menara-nya sebelum Peraturan ini ditetapkan, harus menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam peraturan ini paling lama 2 (dua) tahun sejak peraturan ini berlaku (17 Maret 2008).
  • Penyelenggara Telekomunikasi atau Penyedia Menara yang telah memiliki Izin Mendirikan Menara namun belum membangun Menara-nya sebelum (sesudah??) peraturan ini ditetapkan, harus menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam peraturan ini.

Beberapa butir-butir penting yang perlu dicatat dari dari Presentasi dan hasil tanya-jawab antar Panelist dan Peserta vs Panelist adalah sbb:

1. Pak Mas Wigrantoro:

  • Tower, sebagai komponen pasif, bukanlah sebuah Tool for Competitive Strategy yang bisa dikonversikan ke Revenue Resource.
  • Tower Bersama bisa menjadi sebuah lahan bisnis baru.
  • Apakah Kominfo selanjutnya akan mengatur komponen-komponen pasif, seperti battery, dll?
  • Dalam Hukum, apa yang tertulis adalah lebih penting atau menentukan dari pada apa yang diucapkan.
  • Karena dewasa ini permodalan asing menempati jumlah yang cukup signifikan dalam kepemilkan Perusahaan-perushaan Telekomunikasi di Indonesia, mampukah modal nasional memenuhi kebutuhan pembangunan Menara Bersama Indonesia di kemudian hari? (Rp 60 Trilyun s/d Rp 120 Trilyun).
  • Perlu kejelasan peraturan agar Investor tidak lari.

2. Pak M. Luthfi - Ketua BKPM:

  • Tugas BKPM adalah mengusahakan modal asing agar masuk ke Indonesia se-maksimal mungkin.
  • BKPM sebagai Implementing Agency akan menuruti apa keinginan Industri.
  • Tiap negara punya kebijakan sendiri untuk melindungi kepentingan nasional.
  • Permen No. 2/2008 tidak melanggar Keppres tentang Penanaman Modal Asing, sebab Permen ini untuk mengubah dan memperbaiki Keppres.
  • Perusahaan Telekomunikasi yang sebagian modalnya adalah dari Asing, bila sesudah membangun Menara Bersama dan kemudian dikelola oleh Anak Perusahaannya yang kemudian masuk Bursa Nasional (go Public), maka Anak Perusahaan ini dapat dianggap sebagai Perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
  • Hari Senin 21 April 2008 direncanakan ada pertemuan dengan perbankan nasional untuk membahas penyediaan dana investasi Menara Bersama.

3. Tanggapan dan Pertanyaan dari Floor:

  • Pemda memiliki kewenangan menerbitkan Izin Pembangunan Menara di daerah. Bila tidak sesuai Planning Tata Kota, maka izin tidak diterbitkan.
  • Walaupun sosialisasi Menara Bersama ini telah dimulai tahun 2006, namun masih banyak interpretasi ganda dari pasal-pasal Permen 2/08 yang bisa menimbulkan kerancuan.
  • Masa transisi kepemilikan Menara Bersama hanya selama 2 tahun. Bilamana Operator PMA ingin memisahkan pengelolaan Menara Bersama pada Anak Perusahaan yang dibuat Go Public sehingga bisa dianggap sebagai PMDN, diperlukan jangka waktu minimal 3 tahun sebelum Go Public. Jadi ada ketidak-sinkronan waktu. Dapatkan hal ini disesuaikan dalam Permen 2/08?

→ No CommentsKategori: Menara Bersama Telekomunikasi
yang berkaitan: , , ,

Tarif Sewa Jaringan Turun, maka Tarif Akses Internet juga harus Diturunkan

April 15, 2008 · & Komentar

Siaran Pers Ditjen Postel terlampir dibawah ini memberikan gambaran bahwa dengan diturunkannya Tarif Sewa Jaringan mulai 1 April 2007, maka sudah seharusnya Para Penyelenggara Telekomunikasi dan Jasa Internet menurunkan Tarif Akses Internet secara proporsional.

Tabel Tarif Akses Internet dibawah ini adalah tarif pada awal 2008, sehingga sudah seharusnya diturunkan secara proporsional.

Silahkan para Operator dan Penyelenggara Jasa Internet memberikan tanggapannya.

——————–0——————

Siaran Pers No. 35/DJPT.1/KOMINFO/4/2008

Jaminan Kepastian Publik Untuk Berselancar Di Internet Dengan Tarif Yang Jauh Lebih Murah

Masih terkait dengan Siaran Pers No. 32/DJPT.1/KOMINFO/4/2008 tertanggal 7 April 2008 tentang Penurunan Tarif Sewa Jaringan Berkontribusi Terhadap Penurunan Tarif Akses Internet, Ditjen Postel melalui Siaran Pers ini masih bermaksud menjelaskan lebih lanjut tentang dampak penurunan tarif sewa jaringan. Pasca pemberlakuan Keputusan Dirjen Postel No. 115 Tahun 2008 tentang Persetujuan Terhadap Dokumen Jenis Layanan Sewa Jaringan, Besaran Tarif Sewa Jaringan, Kapasitas Tersedia Sewa Layanan Jaringan, Kualitas Layanan Sewa Jaringan, dan Prosedur Penyediaan Layanan Sewa Jaringan Tahun 2008 Milik Penyelenggara Dominan Layanan Sewa Jaringan, maka diharapkan tarif internet akan semakin murah, karena logikanya dan juga koheren dengan realitanya seandainya tarif sewa jaringan murah, maka biaya akses internet akan murah. Sewa jaringan ini atau yang lebih dikenal dengan sirkit sewa ( leased line ) adalah penyediaan jaringan transmisi untuk komunikasi elektronik yang menghubungkan dua titik terminasi secara permanen untuk digunakan secara eksklusif dengan kapasitas transmisi yang simetris.

Penurunan tarif internet ini tidak hanya akan dirasakan para pelanggan sewa jaringan (leased line) yaitu khususnya para penyelenggara jasa internet, tetapi juga otomatis berimbas dan dapat dinikmati pengguna akhir (masyarakat umum) setelah para penyelenggara jasa internet merevisi ulang kontrak dengan penyedia sewa jaringan internet. Sebagai contoh, dengan mengacu pada d okumen sewa jaringan milik PT. Telkom sebagai penyelenggara jaringan penyedia layanan sewa jaringan dominan dapat diketahui, bahwa dipastikan penurunan tarif berkisar antara 46-81 persen sesuai jarak untuk point to point (belum ke area end user -nya), seperti misalnya biaya instalasi sebesar Rp2.400.000,- baik sewa jaringan hingga 5 km maupun lebih dari 500 km. Sewa jaringan antara 5 hingga 20 km dikenai biaya langganan sebesar Rp 2.450.000,- /bulan atau turun 81% dari sewa eksisting yang mencapai Rp 13.106.000,- /bulan. Untuk sewa jaringan antara 25-100 km dikenai biaya langganan Rp6.900.000,- atau turun antara 47-83%. Sementara, untuk 150 dan 200 km dikenai Rp8.550.000,- atau turun 79% dari tarif sebelumnya, Rp 44.776.000,-

Sebagai gambaran, sebelum Keputusan Dirjen Postel No. 115 Tahun 2008 tersebut diterbitkan, tarif akses internet di Indonesia tersebut berdasarkan indikator yang pernah terungkap di dalam suatu seminar Mastel pada akhir bulan Pebruari 2008 adalah tersebut di bawah ini. Hanya saja, dalam implementasinya, pasca adanya keputusan tersebut tingkat penurunannya agak sedikit memerlukan waktu, karena pihak penyelenggara jasa internet membutuhkan waktu secepat mungkin untuk merevisi kontrak mereka dengan para penyedia sewa jaringan. Namun demikian, seandainya terlambat penurunannya, maka pengguna internet akan memiliki banyak pilihan untuk menggunakan tariff akses internet yang lebih murah disbanding lainnya. Data perbandingan hingga saat ini (mengingat revisi kontrak di antara penyelenggara sewa jaringan dan penyelenggara jasa internet masih berlangsung) adalah di sekitar kisaran angka sebagai berikut:

  1. Dial up PSTN Telkomnet Speedy, tarifnya Rp 57/menit.
  2. Dial up CDMA 2000 1x EVDO StarOne dan Fren, tarifnya Rp 47/menit.
  3. ADSL Telkomsspeedy, tarifnya Rp 350/Mbyte .
  4. Semi-Broadband GPRS 115 kpbs max, tarif awalnya sekitar Rp 10/kbyte.
  5. Broadband EDGE s/d HSDPA 7,2 Mbps tarif Pasca Bayar Rp 350/Mbyte dan IM2 Prabayar Rp 600/Mbyte.
  6. Akses via RT/RW-net, tarif Flat-Rate Rp 50.000-Rp 200.000/bulan.
  7. Akses via Power Line Communications (PLC), harga pokok Rp 80.000 / bulan/pelanggan dan harga jual= Rp 120.000/bulan/pelanggan Flat-Rate.
  8. Akses via HotSpot WiFi ada yg berbayar Rp 5.000-10.000/jam, dan gratis (Telkom, di 6.000 lokasi).
  9. Akses via HP, PDA dan Infra Red atau Bluetooth, tarifnya sesuai layanan Operator Mobile GSM, 3G dan CDMA .
  10. Akses Internet via Warnet dan Cybercafe dengan tarif Rp 3.000-10.000/jam .

Jika dibandingkan dengan beberapa negara lain, tarif yang ditetapkan PT Telkom masih jauh lebih rendah dibandingkan Australia, Singapura, dan Thailand. Hanya saja jika dibandingkan dengan India (data perbandingan milik PT Telkom dibandingkan di India yang tertera pada Siaran Pers No. 32/DJPT.1/KOMINFO/4/2008 adalah baru untuk point to point, belum ke end-user), tarif internet Indonesia masih lebih mahal, karena:

  1. India menggunakan tingkat WACC (Weighted Average Cost of Capital) yang lebih rendah dan membangun jaringannya dengan menggunakan kabel fiber optik di darat [Inland Fiber Optic Cable) mengingat topografi dan geografinya didominasi oleh daratan dibanding lautan.
  2. Secara geografis, India tidak banyak menggunakan kabel laut SKKL (Inmarine Fiber Optic Cable) seperti Indonesia , sehingga biaya investasi lebih rendah.

Data pengguna internet di Indonesia (yang dikutip dari data APJII sampai dengan perkiraan akhir tahun 2007, dengan catatan dari Ditjen Postel hingga bulan Maret 2008 diperkirakan sudah mencapai sekitar 27 juta pemakai) menunjukkan sebagai berikut:

Tahun

Pelanggan

Pemakai

1998

134.000

512.000

1999

256.000

1.000.000

2000

400.000

1.900.000

2001

581.000

4.200.000

2002

667.002

4.500.000

2003

865.706

8.080.534

2004

1.087.428

11.226.143

2005

1.500.000

16.000.000

2006

1.700.000

20.000.000

2007

2.000.000

25.000.000

→ 2 CommentsKategori: Biaya Akses Internet Terjangkau
yang berkaitan: ,

Cara Cerdas dan Efektif untuk Melawan Penyebaran Film Fitna

April 9, 2008 · Tidak ada Komentar

Para Pemirsa yang Budiman,

  • Siapakah yang ingin kita proteksi dari Menonton Film FTNA?
  • Apakah Pemisa di Indonesia ataukah Pemirsa di Luar Negeri?

Menurut saya, logikanya seharusnya Pemirsa di Luar Negeri yang ingin kita larang menonton Film Fitna, sebab Pemirsa di Indonesia sudah tahu bahwa Film Fitna itu dibuat untuk memfitnah atau menjelekkan ummat Islam, sehingga mereka paling banter menonton sekali saja, sesudah itu akan bosan.

Sedangkan para Pemirsa di Luar Negeri yang umumnya kurang faham tentang Islam, akan terpengaruh dari hasil menonton Film FITNA itu, sehingga mereka akan memiliki pandangan yang negatif terhadap ummat Islam.

Kalau pemikiran saya ini yang benar, maka segala upaya yang selama ini dilakukan adalah upaya yang TERBALIK, kita keliru dengan memblokir akses Pemirsa di Indonesia. Demikian juga kesepakatan dengan Google, adalah kesepakatan yang Terbalik. Seharusnya Pemirsa di Luar Negeri yang dilarang nonton Film Fina itu, atau seharusnya Film Fitna itu dihapus dari Youtube.com.

Jadi langkah yang lebih tepat adalah sbb:

  1. Mengirim sebanyak-banyaknya Flag di Situs URL Youtube yang mengandung isi Film Fitna, agar Content ini dihapus oleh Admiistrator Youtube.com.
  2. Membuat sebanyak-banyaknya Content dengan judul FITNA, tetapi isinya meng-counter isi Film Fitna Asli dari Geert Wilders, sehingga Content Fitna asli ini akan tenggelam di lautan Content Fitna yang meng-counter isi asli Film Finta itu.

Silahkan berikan pendapat Anda melalui Polling di URL:

KLIK DISINI

→ No CommentsKategori: Melawa Penyebaran Film Fitna
yang berkaitan: , , ,

Trend Baru Manajemen: BLOG bagi para CEO Perusahaan

April 6, 2008 · & Komentar

Blog adalah salah satu Aplikasi Web 2.0 untuk Social Networking melalui Jaringan Internet.

CEO adalah figur pilihan yang sangat menentukan maju-mundurnya suatu Perusahaan yang dipimpinnya. Oleh karena itu melalui Blog, para CEO dapat mengkomunikasikan Visi, Misi, Strategi dan Program-program Perusahaan yang dipimpinnya kesdeluruh jajaran Eksekutif dan Karyawan, para Mitra Bisnis, dan Pemerintah/Regulator secara lebih cepat, efisien dan murah.

Melalui Blog CEO ini pula akan dapat dimengerti pandangan2 dan harapan CEO kepada seluruh jajaran Karyawan Perusahaan, serta para Mitra Kerja Perusahaan. Melalui Blog CEO ini pula dapat terjadi komunikasi dua arah yang efektif dan efisien.

Hasilnya dapat dipastikan ada akan ada keharmonisan hubungan kerja Pimpinan dan para Karyawan Perusahaan itu, yang akan menghasilkan kemajuan perusahaan yang dipimpin oleh CEO yang mempunyai Blog khusus tersebut.

Di banyak negara-negara maju, trend BLOG para CEO telah berkembang pesat. Kami ingin memberikan contoh BLOG CEO dari 2 perusahaan tersebut, yaitu:

1. Blog Mr. Jonathan Shwatrz, CEO & President SUN Microsystems, Inc., dengan Biografi sbb:

Jonathan Schwartz is chief executive officer and president of Sun Microsystems, and a member of Sun’s board of directors. He became Sun’s CEO in 2006, succeeding the Company’s co-founder and current chairman of the board, Scott McNealy.

Schwartz was promoted to president and chief operating officer in 2004, and managed all operational functions at Sun - from product development and marketing, to global sales and service. An inveterate communicator, Schwartz has led Sun’s drive to engage the marketplace, and redefine corporate transparency.

A leader behind many of Sun’s open source and standard setting initiatives, Jonathan’s been an outspoken advocate for the network as a utility with more than just value for the computing industry - but as a tool for driving economic, social and political progress.

Prior to his position as COO, Schwartz served as Sun’s executive vice president for software, its Chief Strategy Officer, and held a variety of leadership positions across product and corporate development. He joined Sun in 1996 after the Company acquired Lighthouse Design, where he was CEO and co-founder. Prior to that, Schwartz was with McKinsey Co.

Schwartz received degrees in economics and mathematics from Wesleyan University.

URL Blog Mr. Jonathan Schwatrz dapat dilihat di:

http://www.sun.com/aboutsun/executives/schwartz/bio.jsp

2. Blog Mr. Jim Estill, CEO Perusahaan Distribusi Komputer SYNNEX Ontario, Kanada, dengan Biografi sbb:

Jim Estill

Mengenai Saya

I started a computer distribution company - EMJ Data from the trunk of my car in 1979. With a great team we built the company up to $350,000,000 in sales and sold to SYNNEX in Sept 2004. Now I am CEO of SYNNEX Canada. We sell about a Billion $ in computer products in Canada. We sell all the brands you would recognize like HP, Apple, Intel, Lexmark, Acer, Sony, Microsoft etc through computer resellers and retailers from Future shop and Zellers to Bob’s computer store. We are also a leader in bar code and POS equipment. This blog represents my personal views and not those of SYNNEX or any other company.

Minat

Musik Favorit

Buku Favorit

Blog

Nama Blog Anggota Tim
Lihat  Blog  ini CEO Blog - Time Leadership
Lihat  Blog  ini Name holder for old blogspot

URL Blog Mr. Jim Estill adalah sbb:

http://www.blogger.com/profile/9195253
Kami harapkan artikel/tulisan ini dapat memberikan inspirasi bagi para CEO Indonesia untuk membuat Blog masing-masing demi kelancaran komunikasi Intern Perusahaan maupun dengan para Mitra Kerja mereka, sehingga menghasilkan Perusahaan yang seluruh jajaran eksekutif dan karyawannya bergerak sinkron dan harmonis. Hasilnya, Perusahaan akan makin maju pesat, seperti contoh kedua Perusahaan di Luar Negeri tersebut diatas.
Silahkan pak Rinaldi Firmansyah – CEO TELKOM, pak Johnny Swandi Sjam -CEO INDOSAT, pak Hasnul Suhaimi -CEO EXCEL, pak Indar Atmanto -CEO IM2 dan para CEO Indonesia lainnya untuk segera membuat BLOG CEO masing-masing. Siapa yang lebih dahulu akan menjadi Leader/Panutan bagi yang lainnya.

Untuk membuat sebuah BLOG hanya diperlukan waktu 5 menit, gratis di WordPress, Blogspot, Multiply dan lain-lain.
Di kalangan para Menteri dan Birokat, sudah ada contohnya, yaitu:

a. Blog Bapak MenHankam Joewono Soedarsono, di URL:

http://juwonosudarsono.com/wordpress/index.php

b. Blog Bapak Dr. Ir. Gatot Hari P Direktur SEAMOLEC SEAMEO di URL:

http://gatothp2000.wordpress.com/

c. Blog Bapak Eddy Satiya – Deputy Menko Perekonomian bidang Infrastruktur dan Pembangunan Regional, dengan URL:

http://eddysatriya.blogsome.com/

Semoga membawa kemajuan bagi Perusahaan, Bangsa dan Negara Indonesia.

→ 2 CommentsKategori: BLOG CEO
yang berkaitan: , , ,