Monthly Archives: September 2009

One-Stop-Shop for New and Refurbished Networking Products

In an Era whereby time is considered an important factor to make a business a success or a failure, many Purchasing Executives would appreciate a One-Stop-Shop that could help them to find out quickly their needs of new and refurbished networking products, such as switches, routers, servers, firewalls, telecommunications and security products to fulfill their company’s monthly purchasing lists. One such a place is provided in this URL Link.

The common categories of the networking products would include the following:

  1. Patch Cables: The Infinit Technology Solutions CAT5E Patch Cables and CAT6 Patch Cables are the perfect solution for distributing data, voice and video. These patch cables are constructed with high quality wire and a shortened body plug to keep Near End Crosstalk(NEXT) levels to a minimum while providing the necessary bandwidth to support mission critiacal applications. Fiber Patch Cables are also available in two classifications, namely the 50/125 Multimode Fiber Patch Cables and the 62.5/125 Multimode Fiber Patch Cables to support the latest demand for fiber optic cable patching installations.
  2. Network Routers: Major brand routers are available to ensure good quality of voice, video, data and multimedia communication network routing for the large or small enterprises. These branded routers include 3COM Routers, CISCO Routers, Enterasys Routers, Foundry Routers, Juniper Routers, and Nortel Routers.
  3. Network Security: These products are needed to ensure secure voice, video, data and multimedia transmissions across the enterprise networks. Major brands include: Barracuda, Check Point, Cisco Firewalls, Cisco VPN, Crossbeam Systems, and Juniper Firewalls.
  4. Network Switches: These network switches operate at layer two of the OSI model are used to link multiple computers in a Local Area Network. Major brands available include: 3COM Switches, Cisco Switches, Enterasys Switches, Extreme Switches, Force10 Switches, Foundry Switches, HP Switches, Juniper Switches, and Nortel Switches.
  5. Aerosoft RFID Tags: These RFID tags are used in many apllications, such as in Education, Government, Health Care, Hospitality, Logistics and Transportation, Manufacturing, and in Retail solutions. By tagging products, items or computers with RFID, the management will be able to monitor their location, movements and quantity at the press of a button.
  6. Keyboard, Video and Mouse (KVM) Switches are available from many top brands, such as: Aten KVM Switches, Aten Video Splitters, Aten Video Switches, Dell, HP/Compaq, IBM, and Seneca Data.
  7. Telecommunications Products, such ad IP Phone, Unified Communications and Accessories are available from many major brands: Cisco IP Phones, Cisco UC500 Series, Used Avaya Definity, Used Avaya Merlin Legend, Used Avaya Merlin Magix, Used Avaya Partner, Used Merlin, and Used Nortel.
  8. Wireless Products: available two top brand wireless networking products, namely from 3COM and CISCO.
  9. Advertisements

Informasi Penjualan Satelit ProtoStar I dan II

Rencana penjualan satelit ProtoStar II atau Indostar memicu kontroversi. Penjualan tersebut dinilai bisa memengaruhi nasib slot orbit yang dimiliki pemerintah Indonesia.Rencana penjualan satelit ProtoStar II atau Indostar memicu kontroversi. Penjualan tersebut dinilai bisa memengaruhi nasib slot orbit yang dimiliki pemerintah Indonesia.ProtoStar Ltd yang terbelit utang sekitar 495 juta dollar AS berencana menjual semua asetnya, baik Satelit Protostar I maupun II.

Pengadilan Amerika Serikat memberikan batas waktu hingga 17 Sepetember 2009 bagi pihak yang tertarik membeli aset perusahaan tersebut.Presiden dan Chief Executive Officer ProtoStar Ltd Philip Father, seperti dikutip dalam keterangan resmi di situs perusahaan itu menyebutkan penjualan aset adalah langkah terbaik untuk keluar dari masalah yang dihadapi saat ini.

Protostar merupakan perusahaan yang berdomisili di Bermuda dan beroperasi di Amerika Serikat.Perusahaan ini menyediakan jasa satelit komunikasi geostationary berkekuatan tinggi yang digunakan untuk layanan direct-to-home (DTH) televisi satelit dan akses Internet broadband di wilayah Asia Pasifik.

Protostar mengoperasikan dua satelit, yakni satelit Protostar I (dimiliki oleh Protostar I Ltd) dan satelit Protostar II (dimiliki oleh Protostar II Ltd).

Satelit Protostar I diluncurkan pada 7 Juli 2008 dan menyediakan jangkauan Ku-band untuk layanan digital DTH, televisi high-definition, dan Internet broadband di wilayah layanan Asia Tenggara hingga Timur Tengah, serta transponder C-band yang menyediakan backhaul seluler, traditional last mile telecom, dan layanan penyiaran dasar.

Sedangkan Satelit Protostar II diluncurkan pada 16 Mei 2009 dan baru beroperasi pada 17 Juni 2009. Nah, di satelit Protostar II inilah munculnya kepentingan Indonesia.

Jika merujuk pada keterangan resmi situs Protostar disebutkan satelit Protostar II menyediakan pelayanan kepada PT Media Citra Indostar (MCI) dan PT MNC Skyvision, operator layanan televisi satelit DTH terbesar di Indonesia dengan merek dagang Indovision.

Satelit Protostar II atau di Indonesia dikenal dengan nama Indostar II menempati slot orbit 107,7 derajat BT dan bekerja di pita frekuensi 2,5 GHz selebar 150 MHz.Satelit yang menelan investasi sebesar 300 juta dollar AS tersebut membawa 32 transponder.

Dari 32 tranponder yang dimiliki, 10 transponder aktif dan 3 transponder cadangan akan difungsikan sebagai penguat gelombang frekuensi S-Band untuk menyediakan jasa layanan penyiaran langsung ke rumah-rumah atau (Direct-To-Home/DTH)

MCI mengharapkan adanya satelit baru tersebut akan membuat televisi berbayar Indovision memiliki jumlah saluran (channel) sebanyak 120 channel dari sebelumnya 56 channel.

Meningkatnya jumlah channel juga diharapkan akan membuat angka pelanggan menjadi satu juta pada akhir tahun nanti.

Indostar-II juga menggunakan frekuensi KU-Band yang didesain untuk layanan DTH dan telekomunikasi di India.

Sedangkan transponder KU-Band lainnya digunakan untuk akses Internet berkecepatan tinggi dan layanan telekomunikasi di Filipina, Taiwan, maupun Indonesia.

Aksi penjualan Protostar sontak memunculkan sejumlah pertanyaan.

Pertanyaan utama tentunya tentang nasib dari slot orbit yang menjadi hak milik dari pemerintah Indonesia dan masalah kepemilikan dari satelit itu sendiri.Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Id-wibb) Bambang Sumaryo Hadi mendesak MCI mengklarifikasi status investasinya di satelit Protostar II.Jika benar berinvestasi sepertiga di aset tersebut, MCI dinilai mengetahui akan ada penjualan aset.

“Nah, jika dijual seperti itu bagaimana nasib slot orbit yang notabene hak pemerintah Indonesia,” tegas dia kepada Koran Jakarta, Senin (24/8).

Direktur Kelembagaan Internasional Ditjen Postel Ikhsan Baidirus mengatakan sejak awal surat yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengelola slot orbit 107,7 derajat BT adalah kepada MCI. “Perusahaan tersebut mengatakan akan membangun satelit di Amerika Serikat. Masalahnya pengadaan satelit itu kan bervariasi ada yang bayar kontan atau leasing. Ini yang perlu diklarifikasi lebih jauh ke MCI,” kata dia.

Ikhsan meyakini slot orbit yang menjadi hak milik dari pemerintah Indonesia tetap aman karena telah terdaftar di International Telecommunication Union (ITU).

“Jika ditanya satelitmu mana oleh ITU, maka kita akan merujuk kepada satelit milik MCI itu. Masalah ada penjualan oleh mitra MCI, itu hal lain.

Kita perlu mendalami kerja sama antara MCI dengan mitranya,” katanya.

Untuk diketahui, di mata pemerintah Indonesia MCI adalah pengelola Indostar II, namun wewenang dalam pelaksanaan untuk penyiaran mutlak dikendalikan oleh MNC Sky Vision. Kedua perusahaan ini masih dalam genggaman taipan Hary Tanoesudibjo.

Nasib Frekuensi

Regulator telekomunikasi sendiri menyatakan akan berkonsentrasi terhadap nasib dari frekuensi yang dimiliki oleh MCI. Apalagi, perusahaan itu menempati spektrum premium untuk wimax mobile.

“Kami akan memantau penjualan tersebut. Jangan sampai, sumber daya alam menjadi mubazir,” tegas Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi.

Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan MCI Arya Mahendra menegaskan layanan yang diberikan oleh perusahaannya kepada masyarakat Indonesia tetaplah aman. Karena tidak ada hubungannya antara penjualan aset tersebut dan layanan Indovision.

“Bahkan, Indovision tetap berekspansi untuk menunjukkan bukti ke masyarakat semua aman-aman saja,” kata dia, akhir pekan lalu. Ekspansi yang dilakukan MCI adalah membeli hak siar Liga Inggris belum lama ini dan berencana akan menambah 30 channel pada November nanti.

“Jika kami tidak yakin aset yang dimiliki aman, tentunya ekspansi tidak dilakukan. Anda tahu kan berapa harga Liga Inggris. Puluhan miliar rupiah,” tegasnya.

Arya pun membantah selentingan bahwa perusahaannya menyewa satelit ke Protostar. Hal itu diperlihatkan dengan nama satelit adalah Protostar II atau Indostar II.

“Pakai logika sajalah, jika tidak ada investasi mana mungkin nama satelit bisa disebut sesuai merek yang kita mau,” kata dia.

Pada kesempatan lain, Ketua Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Tonda Priyanto menduga sikap optimistis yang ditunjukkan MCI terhadap kepemilikan asetnya karena kerja sama yang dilakukan dengan Protostar berbentuk Condosat.

Condosat adalah kondisi di mana satu satelit menggunakan beberapa filling. “Kerja sama mengisi filling, tidak membuat kepemilikan slot menjadi berganti.

Slot tetap dimiliki negara bersangkutan. Tetapi itu tentunya akan lebih jelas jika pola kerja samanya dibuka,” tandas dia. dni/E-2 (sumber: Warsono).

——–0——–

Yesterday, ProtoStar Ltd. filed two separate motions seeking approval of procedures to separately sell substantially all of the assets of two of its subsidiaries – ProtoStar I Ltd. and ProtoStar II Ltd. All three of the entities filed voluntary chapter 11 bankruptcy petitions in the United States Bankruptcy Court for the District of Delaware on July 29, 2009.

ProtoStar was formed in 2005 to “acquire, modify, launch and operate high-power geostationary (i.e., fixed with respect to a given point on Earth) communication satellites optimized for direct-to-home satellite television and broadband internet access across the Asia-Pacific region.” ProtoStar operates two such satellites – the ProtoStar I Satellite (owned by ProtoStar I Ltd.) and the ProtoStar II Satellite (owned by ProtoStar II Ltd.). The ProtoStar I Satellite launched on July 7, 2008 and “provides Ku-band coverage for digital DTH services, high-definition television and broadband internet to under-served areas from Southeast Asia to the Middle East, while C-band transponders on the satellite enable ProtoStar to provide cellular backhaul, traditional last mile telecom and basic broadcasting services.” The ProtoStar II Satellite launched on May 16, 2009 and became operational on June 17, 2009 following in-orbit testing. At that time, the ProtoStar II Satellite began providing services to PT Media Citra IndoStar and PT MNC Skyvision (the largest DTH satellite television service operator in Indonesia).

According to the motions, there is no stalking horse bidder for ProtoStar I’s assets, but “potential acquirers have expressed an interest to purchase the assets.” However, ProtoStar is seeking the authority to enter into a stalking horse agreement and provide a break-up fee and expense reimbursement in an amount of up to three percent of the cash purchase price (in aggregate). There is also no stalking horse bidder for the assets of ProtoStar II and the company is similarly seeking the ability to enter into a stalking horse agreement later. However, ProtoStar II seeks advance approval of a three percent break-up fee and a separate $500,000 expense reimbursement.

The bidding and auction procedures sought for both sets of assets include the following (differences between the two proposed sets of procedures are noted):

  • Bid Deadline: 4:00 p.m. (Eastern) on September 17, 2009
  • Good Faith Deposit: 10% of proposed purchase price
  • Minimum Overbid (in the event a stalking horse bidder is selected): $500,000
  • Credit Bidding: ProtoStar’s lenders are entitled to submit a credit bid at any time before or at the auctions
  • Auction: September 23, 2009

In addition, each motion attaches a proposed form of asset purchase agreement for bidders to use in submitting their bids (a bidder must include a copy of the form agreement with its bid which is marked to show any requested changes to that form).

(source: Randall Reese)

Motorola Luncurkan HP berbasis Android

Motorola has revealed its much-awaited first Android-based phones, which put a heavy emphasis on social networking services.
The handsets, which will be launched progressively from next month, will use Motorola’s new Motoblur solution, which shows aggregated content from sites such as Facebook, Myspace, Twitter and Gmail on the phone’s home screen.
Users will be able to read messages, update their status and check news feeds and calendar schedules from the home screen.
CEO Sanjay Jha said Motoblur “will be available on our first Android-powered device and on multiple Android devices in our upcoming portfolio,” indicating that more Android phones are in the offing.
The Android product line is seen as critical to the recovery of Motorola’s loss-making handset division, whose market share has fallen to 5% from a peak of around 20%.
The first Android handset for the US, the Cliq, will launch as a T-Mobile exclusive by November. It will be a 3G smartphone with a full Qwerty keyboard and Wi-Fi.
Another Android phone, the Dext, will launch internationally. Orange will begin selling it in the UK and France from early next month. Motorola has also secured deals with Spain’s Telefónica and America Movil in Latin America.
Meanwhile, emerging handset maker INQ, a Hutchison Whampoa subsidiary, announced it plans to develop an Android handset by next year.
CEO Frank Mehan told GigaOm that the large phone vendors have been sluggish to adopt Android, leaving a niche that smaller companies like INQ are rushing to fill.
Mehan added that Motorola made the right move by turning to Android to help reignite sales.

Pasar Layanan Broadband Asia tumbuh diatas 18% tahun 2008

The Asian broadband market grew at a healthy 18% over the past year ending in June, with China contributing to two-thirds of growth in subscribers, the Broadband Forum said.
The Chinese market also accounted for 28% of the world’s growth over the past 12 months.
The latest Point Topic research shows that Asia is now home to nearly 40% of the world’s 444.3 million broadband subscribers, the Broadband Forum said.
“This year has shown that broadband expansion is not limited to the top industrialized countries, but is a key factor in assisting developing nations to gain a foothold in today’s tough market,” Broadband Forum chairman George Dobrowski said.
China continues to lead the world in broadband subscribers, reaching 93.5 million by the end of the quarter.
Japan took third place with 31.1 million lines, and was the only nation in the top 10 to show increased subscriber growth quarter-on-quarter over the last year.
The only other Asian nation to reach the top 10, South Korea, ended the quarter with nearly 15.9 million subs.
In the rankings of Asian countries, Australia narrowly beat out India for fourth place, with 7.2 million versus 6.6 million broadband users. Next came Taiwan, then Vietnam, Hong Kong, Malaysia, the Philippines, Singapore, New Zealand, Thailand and in last place, Indonesia.
Hong Kong, Indonesia, the Philippines, Australia and New Zealand are also currently experiencing faster broadband growth, the research shows.
Asian IPTV usage grew by around 54%, the Forum said, with the region’s operators adding 1.2 million subscribers last quarter alone. Asia now has around 3 million IPTV subscribers.
Top 10 broadband countries
China
93,549,000
USA
86,227,582
Japan
31,085,500
Germany
24,086,250
France
18,324,300
UK
17,838,200
South Korea
15,876,992
Italy
12,855,463
Brazil
10,469,755
Canada
9,618,107
Dylan Bushell-Embling

Microsoft memotong 27-jenis pekerjaan di Kantor Redmond dan Bellevue

Didera oleh Krisis Finansial AS yang masih berlanjut, Raksasa Software Microsoft akhirnya memutuskan untuk mengurangi 27-jenis pekerjaan di Kantor Pusat Redmond dan Bellevue. Ini adalah kelanjutan dari pengurangan karyawan sebanyak 5.000 orang yang dimulai pada Januari 2009.

Selain dari Krisis Finansial AS uang masih berlanjut, pengurangan karyawan ini juga diakibatkan oleh makin ketatnya persaingan usaha Software, disamping persaingan dengan pembuat softwarea Proprietary lainnya, juga akibat makin meningkatnya penggunaan Software Open Source yang kemampuan dan fiturnya makin canggih, serta dukungan dari Komunitas Open Source di seluruh dunia.

Menurut jurubicara Microsoft, Lou Gellos, pengurangan jenis pekerjaan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi kerja dan produktivitas karyawan. Saat ini keseluruhan jumlah karyawan Microsoft mencapai 92.000 orang di seluruh dunia.

Boss Google di China keluar untuk bentuk Usaha Baru

Boss Google cabang China, Lee Kaifu akan memberikan Press Release pada hari Senin 7 September 2009 bahwa Ia akan berhenti kerja di Google untuk membuat sebuah perusahaan baru guna membantu para pengusaha China.

Lee yang berasal dari Taiwan telah sukses dalam membangun pasar Google di China untuk menandingi Mesin Pencari Internet buatan China, yaitu Baidu yang menguasai 75,7% pasar versus Google yang menguasai 19,8% pasar.

Kehadiran Lee pada tahun 2005 di Google cabang China membuat suatu berita besar saat itu, karena Ia sebelumnya bekerja untuk Microsoft Corporation dimana Ia telah membuat perjanjian untuk tidak bekerja bagi kempetitor Microsoft. Akibatnya Google saat itu harus membayar kompensasi yang cukup mahal kepada Microsoft.

Lee adalah sebuah contoh bagi para Eksekutif Muda Indonesia yang mampu mencapai posisi puncak di perusahaan multinasional, lalu keluar untuk membangun perusahaan nasional untuk membantu kemajuan bangsanya.

Tidak adakah diantara para pakar TI Indonesia yang mampu untuk membangun Mesin Pencari di Internet guna memandingi Google secara lokal di Indonesia seperti halnya Baidu di China? Ini akan memberikan penambahan penghasilan nasional Indonesia dan melepas ketergantungan kepada asing.

Silahkan ditanggapi.

Kehadiran iPhone 3G dan 3GS memacetkan Jaringan Seluler ATT USA

Kehadiran prangkat Telpon Seluler iPhone 3G dan 3GS membuat pemakainya makin sering memanfaatkannya untuk download berbagai video, musik, games,, access peta lokasi tempat makan siang, mencoba plugin baru, belanja, browsing, FB, chatting, SMS, dll. Ini karena kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh perangkat iPhone tersebut kepada para pengguna.

Namun dampaknya terhadap traffic jaringan seluler menjadi sangat terasa, terutama pada konsentrasi-konsentrasi para pengguna iPhone di kota-kota besar Amerika Serikat, walaupn penyelenggara seluler AT&T telah berusaha menambah jaringan backhaul dan backbone menggunakan serat otuk untuk menambah kapasitas jaringan seluler mereka. Untuk wilayah-wilayah yang ada blank spot-nya, AT&T juga perlu menambah menara-menara BTS baru agar pelanggan mereka dapat terlayani.

Kemudahan iPhone membuat para pelanggan meningkat penggunaannya menjadi 100% dari pada penggunaan perangkat telepon seluler merek lainnya. Akibatnya banyak pelanggan yang merasa jengkel, karena untuk menerima SMS saja perlu waktu yang lama, panggilan telpon yang sering drop dan harus diulang-ulang, mutu suara yang buruk, dll.

Pengalaman yang sama juga dilalami oleh para pelanggan iPhone dan BlackBerry Indonesia, mutu layanan yang menurun, dan sulitnya memperoleh sinyal 3G. Kapan peningkatan kapasitas jaringan seluler 3G di Indonesia akan ditingkatkan, agar efisiensi penggunaan perangkat telpon seluler yang makin canggih itu memang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat?

Para Operator Penyelenggara layanan telpon seluler Indonesia harus mempunyai program yang paralel antara meningkatnya traffic akibat makin seringnya pengguna mengakses jaringan mereka dengan peningkatan kapasitas jaringan itu. Kalau tidak dilaksanakan, maka para pelanggan akan merasa dikecewakan.