Monthly Archives: July 2008

WiMAX berkembang pesat di tataran Internasional. Quo Vadis Indonesia?

Layanan WiMAX tumbuh pesat diluar Amerika Serikat, terutama di wilayah Asia-Pasifik, menurut sebuah studi oleh Konsultan Springboard. Penghasilan layanan WiMAX akan tumbuh dari sebesar US$58 juta pada tahun 2007 menjadi US$5,6 Milyar pada tahun 2012. Pasar untk India adalah sebesar 35,7% dan Jepang 16,9%. Vendor terbesar WiMAX adalah Motorola, Alcatel-Lucent, Samsung, Nortel dan Cisco.

Analyst Pyramid Research menyarankan agar penyelenggara WiMAX berhati-hati dalam dalam persaingan dengan penyelenggara Incumbent yang menyediakan layanan ADSL (kalau di Indonesia, ditambah 3G). Umumnya penyelenggara WiMAX menetapkan tarif lebih mahal dari pada penyelenggara ADSL (dan 3G untuk Indonesia). Contoh di Bulgaria, penyelenggara WiMAX Max Telecom menetapkan tarif US32 per bulan vs US$18 dari penyelenggara incumbent BTC, atau lebih mahal US$14 untuk kecepatan Downlik yang sama. Nilai Premium yang diberikan oleh Max Telecom adalah Uplink yang lebih cepat, yaitu sebesar 512 kbps versus 128 kbps dari incumbent.

Laporan lain tentang layanan broadband WiFi oleh konsultan Maravedis menyebutkan bahwa pada kwartal pertama tahun 2008 telah terjadi penambahan pelanggan WiFi sebanyak 200.000, sehingga jumlah pelanggan WiFi menjadi sekitar 2 juta, dimana dari 264 penyelenggara, setengahnya mengkhususkan layanan broadband Internet berkecepatan tinggi, sedangkan setengahnya lagi memberikan layanan tambahan seperti VoIP dan video.

Laporan ini tentu belum termasuk laporan tentang perkembangan pesat layanan WiFi di dua kota di Indonesia, yaitu “Republik Hot Ngelsot” Yogya dan Solo dalam menyongsong “Visit Indonesia Year 2008”, dimana pertumbuhan layanan HotSpots gratisan di berbagai lokasi Cafe dan Warung-warnung tempat ber-Internet nglesot (duduk di tikar). Laporan ini bisa dilihat di URL:

https://mastel.wordpress.com/category/yogya-first-cybercity-dan-dampak-terhadap-industri-ict/

Negara-negara berkembang sangat berkeinginan dalam mempercepat pertumbuhan Broadband Internet. Di Indonesia telah ada Kelompok IGADD (Investor Group Against Digitak Divide) dimana anggotanya adalah Mastel, Depkominfo dan The Habibie Center. Keinginannya adalah pada akhir tahun 2008 jumlah pelanggan Internet Broadband mencapai 20 juta-an.

Di India, masyarakat menerapkan layanan kombinasi WiMAX dan Wireless Mesh dari Nortel untuk menghubungkan dua kampus universitas Nort Eastern Regional Institute of Science and Technology di Negara Bagian Arunachal Pradesh. Pilihan ini karena wilayah itu berpegunungan, sehingga penggunaan jaringan kabel tradisional kurang menguntungkan.

Situasi di Bangladesh dalam penerapan WiMAX masih tidak jelas, dimana Aosiasi ISP Bangladesh (semacam APJII) menyatakan banyak kontradiksi dalam regulasi penyelenggaraan WiMAX. Ada sekitar 500 ISP yang harusnya terkena sangsi pelanggaran, namun tidak diapa-apakan.

WiMAX dan Broadband Wireless sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang pesat di Amerika dan negara-negara Eropa Barat, namun sukses awal malah diperkirakan akan muncul di negara-negara berkembang.

Apakah kesempatan majunya WiMAX akan dimulai di Indonesia? Mudah-mudahan penerapan WiMAX di Indonesia masih lebih baik dari pada di Bangladesh.

Silahkan ditanggapi dan diberikan saran-saran yang positif.

———————————- Referensi —————————

WiMax Thriving on the International Stage

Posted by Carl Weinschenk on July 8, 2008 at 1:40 pm

WiMax is making its greatest impact outside of the United States. This Springboard study says that WiMax revenue in the Asia Pacific region will grow from $58 million last year to $5.6 billion by 2012, and the number of users will grow from 230,000 to 33.9 million during the same period. The report says that India (35.7 percent) and Japan (16.9 percent) will be the largest markets in the region. The biggest vendors will be Motorola, Alcatel-Lucent, Samsung, Nortel and Cisco.

A Pyramid Research analyst suggests that WiMax providers, while likely to be successful in emerging markets, must play a careful game against the incumbent digital subscriber line (DSL) services. WiMax providers often charge quite a bit more for comparable downlink speeds. The faster uplink of WiMax may not support a substantial price premium.

The piece, in Wireless Design Asia, offers an interesting comparison between a DSL and a WiMax provider in Bulgaria. The WiMax provider, Max Telecom, charges $14 more ($32 versus $18) than the DSL provider, BTC. The only difference in the offering is that the uplink is 512 kbps, while the DSL provider only offers 128 kbps.

Another report released this week takes a broader view of Wi-Fi. Maravedis says that it added more than 200,000 new subscribers during the first quarter of 2008, which brings the total worldwide to almost 2 million. The most interesting element of the study in this report is the fact that about half of the 264 operators Maravedis followed only provide high-speed Internet, while the others offer additional services such as VoIP or video.

Developing nations clearly are eager for wireless broadband. There are private uses of the technology, such as a WiMax and wireless mesh combination from Nortel
that will link the two campuses of the North Eastern Regional Institute of Science and Technology in the Arunachal Pradesh state of India. The rugged terrain, according to this story, makes use of traditional cable less than ideal.

But, of course, the real money will be made by licensed providers , and the jockeying is well under way. bdnews24.com reports that there is a lot of activity as the Bangladeshi government prepares to issue WiMax licenses. This suggests the potential for a vibrant market. The story describes a press conference during which the ISP Association of Bangladesh said that there are contradictions in the government’s rules. The story says there are more than 500 unsanctioned ISPs in the nation. The ISPAB spokesperson suggested that these organizations, which could participate in the rollout of WiMax, should be worked into the regulatory framework.

Clearly, WiMax and broadband wireless have great potential in North America and Western Europe. Its earliest successes, however, may come from less developed regions.

Advertisements

Penghematan Energy 2008-2011: Bagaimana Caranya? –>Teleworking dan Biofuel Rakyat

Menarik sekali ucapan Wapres Jusuf Kalla tentang krisis Energy Dunia, bahwa Indonesia berada pada posisi ditengah, yaitu sebagai produser Energi dan sekaligus juga sebagai Konsumer Energi. Indonesia adalah Exportir terbesar Dunia bahan bakar Gas (LNG). Namun kita saat ini menjadi Net-Importer BBM, sebab produksi BBM kita lebih sedikit dari konsumi BBM Nasional. Kalau saja kita bisa mengurangi kebutuhan BBM melalui berbagai upaya penghematan konsumsi BBM atau mengalihkan ke sumber Bahan Bakar Gas (BBG), maka Indonesia malah akan diuntungkan dengan naiknya harga BBM di Luar Negeri, sebab kita menjadi Net-Exporter BBM.

Namun bagaimanakah cara kita melakukan penghematan BBM ini? Kalau cara yang sedang diwacanakan oleh Pemerintah dengan melakukan penghematan BBM (Listrik) melalui pemadaman listrik di berbagai wilayah Indonesia secara reguler, maka akan berdampak kepada penurunan Produktivitas Nasional, Rencana ini didukung oleh HIPMI seperti diucapkan oleh calon Ketua Umumnya, sdr. Erwin Aksa pada acara Dialog Ketahanan Energi dan Pangan di Palembang.

Kami sarankan agar Kantor2 atau Perusahaan yang mengalami jadwal pemadaman listrik pada hari-hari tertentu tetap bisa produktif, maka agar diterapkan Kerja Jarak Jauh atau Teleworking bagai para karyawannya yang memungkinkan, yaitu menggunakan PC atau Laptop dirumah masing-masing bagi yang memilikinya, dan bagi yang belum memilikinya makan para karyawan itu dapat menggunakan PC di Warnet-warnet atau Cybercafe yabg sudah banyak tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Sudah pasti hal ini akan memerlukan perubahan budaya kerja masyarakat, dari yang bekerja masuk kantor tiap hari, menjadi bekerja jarak jauh dari rumah atau warnet/cybercafe. Hanya pada hari-hari tertentu mereka kembali bekerja normal di Kantor. Seperti disampakan oleh Bapak Wapres Jusuf Kalla, dicelah-celah krisis, selalu ada hikmahnya, yaitu masyarakat Indonesia bisa makin produktif dan effisien melalui penerapan budaya kerja Teleworking. Selain menghemat pemakainan BBM, jalan-jalan di kota-kota besar akan menjadi sepi dan lengang, sehinga masyarakat tidak kehilangan waktu karena macetnya jalan-jalan seperti pada era sebelumnya.

Cara lainnya untuk menghemat BBM adalah dengan cara memproduksi Biofuel oleh kelompok-kelompok masyarakat Indonesia, sebab teknologi ini sudah diterapkan di Indonesia oleh beberapa orang, termasuk oleh salah seorang Anggota MASTEL, yaitu Bapak Darmoni Badri di Purwokerto, Jaaw Tengah. Dengan sedikit penelitian tambahan, perangkat Produksi Biofuel dapat dibuat di Indonesia secara massal dan murah. Contohnya bisa dilihat di URL:

Biofuel Rakyat

Cara lainnya untuk menghemat BBM adalah dengan menggunakan “Brown Energy”, yaitu mencampur bensin atau solar dengan H-H-O hasil elektrolisis campuran air dan KOH (Kaolin) atau Soda Kue. Namun  kami sarankan agar BPPT atau Lembaga Riset lainnya melakukan Standardisasi campuran air dan KOH atau Soda Kue agar tidak terjadi ledakan atau kerusakan mesin mobil atau GenSet yang menggunakan teknologi ini. Brown Energy ini ditemukan oleh Mr. Yull Brown dari Australia dan di Indonesia telah dibuktikan penggunaannya oleh  sdr. Pumpida Hidayatullah dan sdr. Futung Mustari. Silahkan dipelajari URL dibawah ini:

Brown Energy

Silahkan ditanggapi dan dilaksanakan untuk secepatnya melepaskan Indonesia dari Krisis Energi/BBM.