Monthly Archives: July 2011

Emerald Atlantis menetapkan Vendor TE SubCom untuk bangun SKKL Trans-Atlantik 100x100G

Subsea cable startup Emerald Atlantis is pressing ahead with a project to deploy 100what it says will be the world’s first 100 x 100G subsea cable network.

Emerald Atlantis announced it has given subsea cable vendor TE SubCom an instruction to proceed with building the Emerald Express trans-Atlantic cable.
The first stage of the project will involve deploying 5,200km of cable linking the US, Canada, the UK and Iceland. It will now enter the route survey stage in early August, and should enter service late next year.
The cable has been designed to support 100 x 100Gbps across each of its six fiber pairs.
Emerald Atlantis president Greg Varisco said this capacity and a planned ‘great circle’ routing configuration are needed to “meet the tremendous demand for [low-latency trans-Atlantic] bandwidth driven by cloud services.”
The Emerald Express will be routed through branching stations off Newfoundland and Ireland to enable future expansion to more countries.
Emerald Atlantis was created to address a perceived demand for trans-Atlantic bandwidth from Fortune 1,000 companies. Its founder and institutional investor is the Wellcome Trust, a charitable foundation to support biomedical research.
(sumber: Dylan Bushell-Embing telecomasia.net  July 21, 2011)
Advertisements

TELKOM tertarik beli StarOne INDOSAT

JAKARTA, 27 Juni 2011: PT Telkom Tbk mengklaim tidak tertarik membeli layanan operator fixed wireless access (FWA) StarOne karena akan fokus pada bisnis broadband.

“Sekarang ini kami belum memikirkannya [membeli StarOne], meski kami pernah membicarakan hal itu dengan Indosat belum lama ini dan belum merupakan pembicaraan yang mendalam,” ujar Head of Corporate Communication PT Telkom Tbk Eddy Kurnia hari ini.

Menurut dia, saat ini perkembangan bisnis, regulasi, maupun teknologi sudah berubah, sehingga kami hanya akan fokus pada pengembangan akses broadband yang hasilnya memberikan pertumbuhan signifikan.

Direktur Utama Indosat Harry Sasongko menantang operator manapun yang ingin membeli unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) mereka, StarOne.

Meski berniat menjual, Harry sadar bahwa proses peralihan kepemilikan tidaklah mudah. Ini menyangkut izin frekuensi yang menjadi kewenangan negara.
Asset sale masih on going. Kalau ada yang mau bayar ayo. Sampai saat ini belum ada penawaran,” jelas Harry belum lama ini.

Calon pembeli yang santer disebutkan selama ini, Telkom, lanjutnya, juga belum melakukan langkah konkret.
Menurut Harry, penjualan unit usaha StarOne secara bisnis bisa dilakukan. Namun karena melibatkan peralihan frekuensi, maka proses transaksi tidak bisa dilakukan dengan cepat.

Kan susah, ada frekuensi dan kewajiban. Kita memiliki frekuansi 42,5 MHz. Dan ini terkait lisensi dan punya pemerintah. Jadi pengalihan tidak bisa sembarangan, tidak semudah itu. Teknis regulasi harus dipenuhi. Kita kaji semuanya,” ucapnya.

Eddy mengatakan Telkom tetap memandang bisnis voice penting karena kontribusinya untuk perusahaan masih sangat besar meskipun pertumbuhannya untuk ‘voice’ melambat tetapi tidak bisa disangkal, ke depan adalah eranya broadband, sehingga pihaknya perlu fokus juga ke sini.

Sementara itu, Direktur Layanan Korporasi Rakhmat Junaidi enggan menanggapi tantangan dari Indosat tersebut. (sumber: Arif Pitoyo – bisnis.com)

Pemerintah Tak Batasi Konten Internasional

JAKARTA 12 Juli 2011: Pemerintah tidak akan membatasi konten internasional yang masuk ke Indonesia karena keberadaannya dinilai mampu mendorong semangat inovasi dan kreativitas start up lokal di negeri ini dalam menghadapi era konvergensi.
Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S. Dewa Broto mengatakan konten internasional seperti disediakan oleh Google dan Yahoo hingga kini tercatat masih mendominasi pemanfaatannya oleh pengguna Internet di Indonesia.

Menurut dia, tingginya pemanfaatan konten tersebut oleh masyarakat telah menyebabkan kedua perusahaan itu membuka perwakilannya di Indonesia, disertai pengembangan berbagai konten yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan peluang yang sangat besar terhadap aktivitas pengembangan dan penyediaan konten di Indonesia, dengan kebutuhannya yang tinggi terkait dengan perkembangan konvergensi.

“Kami tidak akan seperti China yang menghalang-halangi konten internasional. Keberadaan mereka justru diharapkan mampu mendorong start up lokal untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan konten,” ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Gatot menuturkan hingga kini pemerintah terus berupaya mendorong pengembangan konten oleh start up lokal dalam menghadapi era konvergensi, meski diakui belum adanya dukungan terhadap kebutuhan modal.

Dalam hal ini, dorongan pengembangan konten tersebut sudah dilakukan melalui penggelaran Inaicta (Indonesia ICT Award) setiap tahun yang memberikan penghargaan bagi start up lokal dengan kreativitas dan inovasi yang tinggi terhadap penyediaan konten.  (sumber: Arief Novianto – bisnis.com)

TELKOM serius garap Cloud Computing

JAKARTA 12 Juli 2011: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) serius menggarap layanan cloud computing melalui peluncuran TelkomCloud Computing, dengan membidik pelanggan di segmen enterprise dan usaha kecil dan menengah (UKM).

Operating Vice President Public Relation Telkom, Agina Siti Fatimah, mengatakan perseroan menetapkan TelkomCloud Computing sebagai satu layanan unggulan dari empat area pertumbuhan Telkom yang diharapkan dapat meningkatkan revenue portofolio information.

“Telkom Cloud Computing merupakan payung bagi layanan-layanan cloud computing yakni TelkomVPS dan TelkomCollaboration yang ditujukan untuk pelanggan usaha kecil dan menengah,” ujarnya dalam peluncuran layanan TelkomCloud Computing, hari ini.

Agina menuturkan layanan cloud computing yang diselenggarakan Telkom itu merupakan pengembangan dari layanan yang sebenarnya sudah dilakukan sejak awal 2000 melalui bisnis IT Managed Services yang meliputi IT Operation Management Services, Data Recovery Services dan Data Center Infrastructure.

Dia menambahkan layanan TelkomCloud telah digunakan oleh lebih dari 60 perusahaan dari berbagai industri, dan sebagian besar berasal dari industri keuangan yang sangat mementingkan security terhadap pengelolaan data yang mereka miliki. (sumber: Arif Pitoyo – bisnis.com)

TELKOM ingin sinergikan Jasa Wireless dan Kabel Secepatnya

JAKARTA 12 Juli 2011: PT Telkom Tbk berharap segera merealisasikan pembelian kembali (buyback) saham Singapore Telecom (SingTel) sebesar 35% di Telkomsel guna menyinergikan jasa wireless dan wireline, tidak hanya dari produk tetapi juga distribusi dan pemasaran.

Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan pihaknya memprioritaskan buyback saham SingTel di Telkomsel pada tahun ini sebagai amanah dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilakukan belum lama ini.

“Jika buyback terealisasi, banyak sisi positif yang bisa didapat Telkom secara grup yakni berupa sinerginya jasa wireless dan wireline tidak hanya dari produk tetapi juga saluran distribusi dan pemasaran,” tuturnya hari ini.

Menurut dia, kalau itu terjadi, maka Telkom tidak perlu repot-repot lagi bicara spin off menara Telkomsel ke anak usaha lainnya, Mitratel, karena semua sudah satu.

Manajemen Telkom mengklaim telah menyampaikan keinginan untuk buyback tersebut secara informal ke pihak SingTel berulang kali.

“Kalau secara formal kita belum lakukan karena harus menunggu dulu kajian dari lima advisor yang ditunjuk untuk mengevaluasi Telkomsel. Kita maunya datang nanti secara formal dengan konsep yang jelas,” katanya.

Rinaldi memperkirakan nilai dari Telkomsel di bawah dari Telkom di mana equitasnya mencapai Rp44 triliun. “Saya perkirakan di bawah Telkom. Tetapi angka sebenarnya tentu menunggu dulu hasil evaluasi dari para divisor,” katanya.

Menurut dia, untuk buyback perseroan menyiapkan berbagai strategi pendanaan, mulai dari kas internal, pinjaman sinergi dengan bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau penerbitan obligasi. Selain itu ada kajian penerbitan treasury stock atau menawarkan saham Telkom ke SingTel.

“Tetapi jika treasury stock dilakukan harus mendapatkan izin dari pemerintah sebagai pemegang saham Telkom,” jelasnya. (sumber: Arif Pitoyo- Bisnis.com)