Monthly Archives: June 2009

Masa senja Suratkabar dan tumbuhnya Media Online

Persuratkabaran dunia dewasa ini sedang mengalami masa senja dengan menurunnya pendapatan mereka akibat Krisis Finansial global serta beralihnya pelanggan mereka ke media-media online. Selama lima tahun yang lampau persuratkabaran di AS masih mampu merekam pendapatan yang cukup tinggi karena memperoleh banyak pendapatan periklanan dari Pemerintah AS dan perusahaan-perusahaan swasta dalam kerangka mempengaruhi opini publik untuk mendukung kebijakan Pemerintah George Bush untuk menginvasi dan menduduki Iraq. Mereka dikecam karena tidak memberitakan kebenaran dan turut-serta dalam pembohongan publik.

Dengan naiknya Presiden AS ke-44 Barack Obama pada awal 2009 yang tidak lagi mau melakukan pembohongan publik dan mengobral anggaran iklan, serta saat yang bersamaan terjadinya Krisis Finansial global, maka terjadi penurunan drastis pendapatan media persuratkabaran konvensional ini. Tercatat penurunan pendapatan suratkabar Gannet, New York Time, The McClatchy Co., The Washington Post, dan lain-lain antara -60% sampai -97% pada akhir 2008.

Namun pada saat yang bersamaan perusahaan persuratkabaran tersebut juga mengembangkan media online yang meningkat pendapatnnya cukup besar antara 12% sampai 68% pada akhir 2008.

Kondisi penurunan pendapatan persuratkabaran di Indonesia tidaklah sama dengan di AS, sebab masih terbatasnya jumlah pengguna Internet dan broadband di Indonesia yang hanya mencapai 35 juta orang. Namun kita bisa meramalkan bahwa nasib serupa akan dialami oleh persuratkabaran Indonesia.

Kompas adalah media suratkabar Indonesia yang terdepan dalam mempersiapkan beralihnya pelanggan ke media online dengan membuat situs online Kompas.com yang full-multimedia pertama di Indonesia. Kompas juga telah menggandeng Operator-operator telekomunikasi dan seluler.

Dengan makin canggihnya perangkat handphone, PDA dan netbook dan software-software aplikasi yang user-friendly, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, di Indonesia juga akan terjadi penurunan drastis pelanggan media suratkabar konvensional ke media online. Apalagi dengan tersedianya jaringan fixed line broadband, fixed wireless broadband dan mobile wireless broadband seperti 3G yang makin luas jangkauannya, maka proses peralihan pelanggan media konvensional ke media online akan makin cepat. Diharapkan pula terjadi perubahan budaya masyarakat Indonesia agar lebih sering menggunakan media online.

Silahkan ditanggapi.

Advertisements

DEPKOMINFO Jamin Pengguna Blackberry, asalkan…

Jakarta – Depkominfo memberi pernyataan terkait kemungkinan penghentian peredaran BlackBerry. Mereka memang menolak sementara permohonan pengajuan sertifikasi yang diajukan RIM terkait belum adanya service centre resmi RIM di Indonesia.

Namun diakui, Depkominfo sebatas menangani masalah pemberian sertifikat perangkat telekomunikasi. Mereka tak berwewenang untuk sama sekali menstop impor suatu perangkat telekomunikasi atau menghentikan perdagangan karena itu merupakan kewenangan instansi lain dan harus dengan dasar hukum sangat kuat.

Akan tetapi, seperti dikutip detikINET dari keterangan tertulis Depkominfo, Minggu (28/6/2009), tetap ada kemungkinan penghentian impor oleh Ditjen Bea Cukai selama importir tak mampu menunjukkan sertifikasi terbitan Depkominfo.

Sedangkan masyarakat pengguna BlackBerry diharap tetap tenang karena tak ada rencana Depkominfo memerintahkan penyelenggara telekomunikasi menghentikan layanannya. Pun bagi masyarakat yang ingin membeli BlackBerry di Indonesia tak ada larangan apapun.

Hanya saja jaminan Depkominfo ini hanya berlaku terhadap penggunaan BlackBerry yang bersertifikasi, berlabel dan bukan produk ilegal.

Alasan utama Depkominfo menolak sementara pengajuan sertifikasi BlackBerry semata-mata karena RIM tidak memiliki pusat layanan di Indonesia yang dinilai dapat merugikan konsumen jika terjadi masalah di perangkatnya.

(sumber: Detikinet)

Persaingan ketat Dunia Maya: MySpace PHK 67% Karyawannya

Persaingan di Dunia Maya makin hari makin seru. Indonesia termasuk sepuluh besar pengguna Jaringan Sosial Di Dunia Maya, seperti MySpace, Multiply, FaceBook, WordPress, Blogspot, Youtube, YM, Yahoo Mail, Google Mail, Twitter, Chatting, dan lain-lainnya.

Yang kurang diketahui para pebisnis Dunia Maya LN tentang Indonesia adalah masalah daya belinya yang sangat rendah, padahal layanan-layanan Jaringan Sosial tersebut hidupnya dari sewa ruang iklan di Dunia Maya dan transaksi e-Commerce sebagai hasil dari pemasangan iklan. Mereka menerima kunjunan ribuan atau jutaan kali ke Situs-situs mereka, namun realisasi transaksi yang ada uangnya hanya terjadi sangat kecil.

Bulan lalu eksekutif Facebook meminta kepada para pemegang saham agar menambah pinjaman untuk dana operasional mereka, walaupun investasi mereka belum kembali. Tujuhpuluh persen traffic Facebook berasal dari LN, dimana yang terbesar adalah dari Turki dan Indonesia. Facebook harus keluar biaya besar untuk menyimpan 850 juta foto dan 8 juta video yang di-upload para pelanggannya.

Jumlah pelanggan MySpace saat ini mencapai 130-juta, dimana 45%-nya berada di LN. Pelanggan MySpace di India telah mencapai 750.000 orang.

Untuk pertamakalinya dalam sejarah, jumlah pelanngan MySpace dilampaui oleh Facebook, karena jejaring sosial baru ini makin digemari masyarakat, terutama dari Indonesia dan negara-negara berkembang, sebab sudah tersedianya berbagai fitur layanan yang lebih menarik.

Melihat persaingan yang begitu ketat ini, maka bulan ini manajemen MySpace untuk mem-PHK-kan 67% karyawan luar negerinya agar dapat menghemat biaya operasional. Awal tahun ini MySpace mencatat kerugian sebesar US$89 juta. Perusahaan ini dimiliki oleh Rupert Murdoch, seorang konglomerat multimedia yang terkenal.

Bagaimanakh prospek pebisnis Dunia Maya Indonesia? Yang jelas, detik.com, kompas.com, kaskus.com, kapanlagi.com masih terus bertahan dan berinnovasi. Yang terbaru, Kompas memberikan layanan akses iklan menggunakan Barcode dua dimensi.

Silahkan ditanggapi.

Communicasia 2009: LTE akan mendominasi 4G, namun INTEL akan tetap mendukung WiMAX

Mr. Alan Hadden, President Global cellular Supplier Association (GSA) yang berbicara pada acara Next Generation Broadband Forum summit di Communicasia 2009 pada tanggal 19 Juni 2009 memberikan kesimpulan bahwa masa depan komunikasi pita lebar akan didominasi oleh sistem LTE (Long Term Evolution) yang merupakan kelanjutan dari sistem 3.5G HSDPA yang saat ini sudah beroperasi di Indonesia.

Sistem komunikasi pita lebar berbasis WiMAX tidak akan pernah mencapai skala ekonomis dalam jangkauan dan jumlah pelanggan yang saat ini didominasi oleh jaringan pita lebar GSM 3G, sebab memang mulainya sudah sedikit terlambat. Namun para pendukung WiMAX menyatakan bahwa sistem ini akan menempati ceruk pasar pita lebar tertentu. INTEL juga menyatakan bahwa produsen Chipset WiMAX ini akan tetap mendukung pengembangan WiMAX Standard 802.16e.

Masih ada kesempatan selama 2 tahun untuk mengembangkan jaringan WiMAX agar mencapai titik ekonomis. Ini bermanfaat bagi pemain pita lebar baru yang belum dapat atau tidak mungkin mendapatkan lisesni 3G untuk masuk ke bisnis pita lebar. Walaupun WiMAX dan LTE memiliki kesamaan dalam penggunaan OFDMA (Orthogonal Frequency Division Multiple Access) untuk Radio Access Network (RAN), namun konvergensinya tidak diharapkan dalam waktu dekat (dalam spesifikasi WiMAX standard 802.16n). Didalam kelompok studi 3GPP (3G Partnership Program), telah dibahas interworking antara LTE dan WiFi, didalamnya termasuk WiMAX. Dalam waktu 12-bulan mendatang diharapkan akan disiapkan sertifikasi untuk end-to-end WiMAX.

Kesimpulannya, pilihan LTE atau WiMAX bukanlah pilihan Teknologi, melainkan ditentukan oleh Model Bisnis dan Skala Ekonomisnya. WiMAX tidak akan pernah mengalahkan skala ekonomis LTE. WiMAX sangat cocok buat pemain pita lebar kecil yang tidak bisa memperoleh lisensi 3G.

Bagaimanakah dengan WiMAX Indonesia? Silahkan ditanggapi.

Ternyata Komunikasi via HP GSM mudah dimonitor

Jaringan STKB GSM di dunia saat ini sudah sangat luas cakupannya maupun jumlah pelanggannya, sehingga diperkirakan bahwa masa depan komunikasi melalui jaringan ini akan makin mendominasi sistem komunikasi, bahkan diperkirakan komunikasi mobile generasi 4G akan didominasi oleh LTE (Long Term Evolution) yang merupakan kelanjutan dari HSDPA yang sudah diterapkan di Indonesia.

Namun sistem ini memiliki kelemahan dalam sistem keamanannya, sebab komunikasi melalui saluran GSM pada umumnya tidak diproteksi dengan sistem acak/encryption, sehingga dengan mudah dapat dimonitor atau dilacak. Dengan cukup mengetahui identitas pengguna GSM, maka pembicaraan melalui jaringan ini dapat dipantau dengan menggunakan perangkat yang harganya tidak lebih dari US$900,-

Cerita lengkapnya dapat dilihat dari URL sbb:

KLIK DISINI

Makanya behati-hatilah berbicara rahasia melalui jaringan ini.
Flexyspy

Media Indonesia: Seorang PNS terancam dipecat akibat tulisan di Facebook

MANADO–MI: Seorang PNS di Sulawesi Utara terancam dipecat gara-gara membuat tulisan tentang kejelekan Pemerintah Kota (Pemkot) Kota Kotamubagu, Sulut di facebook.

Indra Sutriafi Pipil, PNS yang mengajar di salah satu sekolah kejuruan, dituduh telah melakukan pencemaran nama baik Walikota Kotamubagu, Drs. Djelantik Mokodompit setelah menulis lewat blog-nya di facebook kalau Pemerintah Kota Kotamubagu telah melakukan “korupsi waktu”.

Indra ketika dikonfirmasi di Kotamubagu, Selasa (9/6), mengatakan mengaku tidak menyangka kalau tulisannya itu membuat pemerintah kota menjadi gerang.

Sementara kabar yang beredar, kausus terebut telah masuk tahap satu dan saat ini sudah dilakukan pelimpahan berkas ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kotamobagu, dengan menggunakan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektroik dengan ancaman enam tahun penjara.

“Laporan sudah kami terima dan kasusnya telah dilimpahkan ke kejaksaan,” ungkap Kapolsek Kotamubagu, Iptu. Muhammad Monoarfa,S.Sos.

Secara terpisah, Sekrrtaris Kota Kotamubagu, Muhamad Mokoginta, menyesalkan dengan adanya kejadian tersebut karena dinilai sangat merugikan pemerintah kota terutama pencemaran nama baik, dan dia pun mengakui kalau pihaknya telah melaporkan kasus ini kepada kepolisian untuk diproses.

“Kami telah melaporkan kasus ini ke pihak berwajib sekitar sebulan yang lalu untuk ditindak lanjuti,” katanya.(Ant/OL-04)

Separuh Timor Leste sudah tersambung WiMAX: Indonesia perlu belajar dari Timor Leste

Oleh Onno W. Purbo (detik.inet)

Dili РKami berempat, Pak Kemal Prihatman, Pak Muchlis, Pak Harry Sufehmi dan saya, Onno W. Purbo,  berangkat dari Indonesia dengan misi berkontribusi membantu IT di Timor Leste khususnya dalam bidang open source. Kami berada di Timor Leste antara tanggal 1-5 Juni 2009.

Istana Perdaan Menteri Timor Leste

Istana Perdana Menteri Timor Leste

Kami di sambut oleh teman-teman dari Ministry of Infrastructure Timor Leste sebuah lembaga yang bertanggung jawab untuk masalah telekomunikasi, jalan dan energy. Teman yang menyambut kami adalah Pak Paulo Dacosta, Pak Hilman Akil dan dua orang staff wanita. Pak Paulo Dacosta yang merupakan salah seorang manajer di Ministry of Infrastructure. Sedang, Pak Hilman Akil merupakan advisor untuk Direktorat National ICT di bawah Ministry of Infrastructure.

Dalam obrolan awal kami dengan teman-teman dari Timor Leste ini, hal yang akan menarik bagi kita di Indonesia adalah keberhasilan Ministry of Infrastructure Timor Leste, yang di pimpin oleh Pak Pedro Lay da Silva salah seorang lulusan Atmajaya. Timor Leste sedang implementasi National Connevtivity Project (NCP) dilakukan oleh Directorate National ICT dari Ministry of Infrastructure, yang di pimpin oleh Pak Flavio C. Neves lulusan UGM.

Melalui NCP, Ministry of Infrastructure Timor Leste berhasil menyambungkan 5 distrik dari 13 distrik yang ada di Timor Leste menggunakan WiMAX. Hampir setengah dari Timor Leste tersambung WiMAX. Di samping itu mereka juga mengoperasikan VoIP atau lebih tepat-nya Next Generation Network (NGN) seperti yang kita kenal di VoIP Rakyat di atas  infrastuktur WiMAX mereka.

Hal ini menjadikan biaya telekomunikasi secara keseluruhan akan menjadi rendah. Naga-naga-nya Indonesia tertinggal jauh dan harus belajar ke Timor Leste dalam implementasi WiMAX & NGN.

Directorate National ICT di bawah Ministry of Infrastructure Timor Leste pada saat ini sedang mengimplementasikan National Connectivity Project (NCP) yang merupakan infrastruktur kunci untuk e-government Timor Leste yang akan datang. Dikawal oleh Pak Hilman Akil seorang Indonesia, seorang alumni MIT Amerika Serikat, yang menjadi advisor untuk Directorate National ICT proses tender hingga pengawalan implementasi national connectivity project dilakukan.

Pada dasarnya National Connectivity Project (NCP) ini lahir dari kebutuhan akan komunikasi data untuk seluruh jajaran pemerintah di Timor Leste. Proyek ini akan mendukung komnunikasi data antara departemen dengan departemen lainnya, maupun antara Dili dengan pemerintahan distrik.

Di dalam implementasinya, NCP ini ada tiga Phase, yakni Phase-1 untuk Dili, Oecusse dan Baucau, Phase-2 untuk Maliana, Ermera, Suai, dan Batugade (di perbatasan), dan Phase-3 Ainaro, Liquica, Aileu, Manatuto,Same, dan Viqueque dan Phase tambahan untuk Perbatasan, yakni Sakato, Salele dan Bobomento.

Seluruh distrik seluruh negara Timor Leste kemungkinan akan tersambung secara penuh paling tidak akhir tahun 2009 atau awal 2010. Antar Distrik digunakan infrastruktur VSAT menggunakan satelit Telkom-2. Dari ibu kota distrik, antar kantor pemerintah digunakan WiMAX versi 802.16d yang bekerja pada frekuensi 3.5GHz. Sedang di dalam gedung pemerintah digunakan WiFi dan jaringan LAN.

Yang lebih mengagumkan, seluruh proses National Connectivity Project (NCP) dilakukan dalam waktu yang singkat. Agustus 2008 konsep NCP mulai dimatangkan. Termasuk proses study banding terhadap berbagai negara yang telah melakukan implementasi WiMAX seperti di Nauru. Ada 18 peserta tender yang ingin berpartisipasi di NCP dari berbagai negara seperti Australia, Portugal, Singapore, Singapore, Indonesia, dengan 9 prakualifikasi, tapi hanya 7 peserta yang memasukan dokumen. Proses tender di menangkan oleh Telkom Indonesia International yang di pimpin oleh Pak Mulya Tambunan.

Proses transfer teknologi di lakukan dengan baik. Untuk tahap pertama, implementasi di tiga Distrik, Telkom Indonesia International yang melakukan implementasi sambil melakukan training terhadap orang Timor Leste.

Untuk dua (2) distrik selanjutnya, proses implementasi dilakukan oleh teman-teman dari Timor Leste sendiri dengan panduan dari Jakarta. Ada sekitar 30-an orang Timor Leste yang direkrut sebagai help desk dan call center untuk implementasi National Connectivity Project (NCP). Salah satu kunci sukses dari NCP adalah alokasi budget untuk capacity building, penaikan kapasitas dari kemampuan SDM, termasuk di dalamnya beasiswa untuk staff NCP untuk belajar ICT. Seperti Linda salah satu staff NCP ternyata lulusan STT Telkom (sekarang IT Telkom di Bandung).

Demikian laporan singkat dari perkembangan Timor Leste di bidang ICT yang tampaknya jauh lebih maju dari apa yang kita sangka di Indonesia. Kita tampaknya perlu belajar juga ke Timor Leste.