Monthly Archives: May 2009

Digital Divide ternyata karena Kurangnya Demand dan Perangkat yang Kompleks

Telah terbukti di banyak negara maju dan berkembang bahwa tingginya penetrasi Broadband menjadi pendorong kemajuan ekonomi suatu negara. Di negara-negara maju tingkat penetrasi Broadband mencapai diatas 50%, namun selanjutnya pertumbuhannya menurun karena masalah kurangnya minat dari kelompok minoritas dan kebutuhan pengetahuan yang relatif tinggi untuk dapat mengoperasikan perangkat broadband yang kompleks.

Hal tersebut diatas terungkap sebagai hasil study Konsultan Ovum, dimana untuk menjembatanai Digital Divide di suatu negara diperlukan strategi sebagai berikut:

  1. Kurangi kerumitan teknologi Broadband agar masyarakat awam mau memanfaatkan layanan Broadband, melalui penelitan bersama antara Perusahaan Komersiil, Non-Profit dan Sektor Publik untuk menciptakan produk perangkat dan layanan Broadband yang user friendly.
  2. Masukkan layanan Broadband dalam Program-program Pemberdayaan Sosial dan Ekonomi Pemerintah, seperti pendidikan, penyediaan lapangan kerja, kesehatan dan lainnya untuk memberdayakan masyarakat (di-embedded dalam program).
  3. Penyedia layanan Broadband perlu memperhatikan relevansi layanannya dengan kebutuhan komunitas, dari pemasarannya sampai aktivitas “akar-rumput” masyarakat. melaui kerjasama Public-Private Partnership (PPP).

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat.

Advertisements

Menkominfo dan BRTI Digugat Rp 2 Triliun!

(Ardhi Suryadhi – detikinet)
Jakarta – Para penyelenggara jasa konten yang tergabung dalam IMOCA (Indonesia Mobile & Online Content Provider Association) berjuang mati-matian demi menolak PerMenKominfo No: 01 PER/M.KOMINFO/ 01/2009 tentang SMS/MMS Premium yang dinilai merugikan penyelenggara jasa konten.

Tak tanggung-tanggung, Menteri Kominfo dan BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) pun ikut mereka seret ke pengadilan dengan gugatan sebesar Rp 2 triliun lebih.

Gugatan didaftarkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (27/5/2009), oleh kuasa hukum IMOCA, Andreas Tri Suwito Adi, SH, MIP, dengan nomor perkara 198PDT.G/2009/PN. JKT.PST yang ditandatangani oleh Panitera Muda perdata Lindawati Serikit SH. MH.

“Klien kami merasa Permen 01/2009 itu sangat merugikan pelaku bisnis jasa konten, baik saat ini maupun di masa datang. Gugatan ini sudah diperhitungkan dengan matang. Gugatan klien kami itu berkaitan dengan kerugian materiil dan immateriil,” tambah Andreas.

Adapun pihak yang digugat adalah Mohammad Nuh dalam kapasitasnya sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, beralamat di Jalan Medan Merdeka Barat No. 9 Jakarta 10110 sebagai tergugat satu. Kemudian Heru Sutadi dalam kapasitasnya sebagai Anggota BRTI, beralamat di Gedung Menara Ravindo 11th Floor, Jl. Kebon Sirih Kav. 75, sebagai tergugat dua, dan Basuki Jusuf Iskandar dalam kapasitasnya sebagai Dirjen Postel Depokominfo dan Ketua BRTI, beralamat di Gedung Sapta Pesona Jalan Merdeka Barat Nomor 17 Jakarta 10110, sebagai turut tergugat.

Alasan Penolakan

Seperti diketahui, Permen 01/2009 tersebut mendefinisikan penyelenggara jasa konten sebagai pihak penyelenggara telekomunikasi sehingga akan dikenakan BHP(biaya hak pakai) jasa telekomunikasi. Besarnya BHP yang termasuk dalam PNBP (penerimaan Negara bukan pajak) tersebut adalah 1% dari pendapatan kotor (gross revenue) sebelum diberlakukan aturan baru jadi 0.5%.

Dengan perhitungan dari nilai pendapatan kotor tersebut, penyelenggara jasa konten mengaku akan kelimpungan. Bahkan saat ini saja sudah banyak yang gulung tikar.

Oleh karena itulah, para penyelenggara jasa konten yang tergabung dalam IMOCA mati- matian untuk memperjuangkannya. Tak lama setelah dikeluarkannya peraturan itu, IMOCA mencoba pendekatan ternyata BRTI dan Depkominfo. Namun kedua badan itu dianggap ngeyel dan bersikukuh tidak mau mengubah. Akhirnya IMOCA mengajukan somasi, judicial review, dan akhirnya menggugat.

Menurut Andreas, dikeluarkannya PERMEN 01/PER/M.KOMINFO/ 01/2009 tersebut
tanpa didasari oleh suatu pertimbangan hukum yang jelas sebagaimana tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 Tentang Telekomunikasi, Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Jasa Telekomunikasi.

“Penyusunan PERMEN 01/PER/M.KOMINFO/ 01/2009 jelas sangat terburu-buru dengan
tidak memperhatikan prinsip-prinsip dasar dalam penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia sebagaimana tertuang di dalam peraturan yang berhubungan dengannya,” jelas Andreas.

Lebih jauh dijelaskannya, dalam Permen itu disebutkan dalam pasal 1 ayat 11, Pasal 1 ayat (11) PERMEN 01/PER/M.KOMINFO/ 01/2009 telah memberikan suatu definisi baru mengenai klasifikasi usaha penyelenggaraan jasa pesan premium adalah penyelenggaraan jasa SMS atau MMS yang diselenggarakan melalui mekanisme berlangganan dan atau tidak berlangganan, dengan tarif yang lebih tinggi daripada tarif penyelenggaraan jasa sms.

“Pengklasifikasian usaha penyelenggaraan jasa pesan premium dan pengiriman jasa pesan singkat ke banyak tujuan adalah berbeda dengan kegiatan usaha Penyediaan Jasa Konten. Penyelenggaraan jasa pesan premium dan pengiriman pesan singkat ke banyak tujuan merupakan klasifikasi baru dalam penyelenggaraan jasa telekomunikasi. Ini aneh dan mengada-ada, ” tegas pengacara muda ini.

Menurut dia, Penyediaan Jasa Konten secara natural tidak dapat dikategorisasikan sebagai bisnis baru dalam penyelenggaraan jasa dan atau jaringan telekomunikasi. Alasannya, secara bisnis penyelenggara jasa konten sangat bergantung dengan penyelenggara jasa dan atau jaringan telekomunikasi itu sendiri. “Jadi sangat tidak tepat kalau penyelenggara jasa konten dikenakan BHP,” tegas Andreas.

Masih dalam Permen tersebut, di pasal 2 disebutkan bahwa penyelenggara jasa konten diwajibkan izin ke BRTI. Menurut Andreas hal itu juga tidak tepat.

“Bahwa ketentuan mengenai Perizinan di dalam penyelenggaraan jaringan dan jasa telekomunikasi berdasarkan Pasal 57 Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi menerangkan bahwa perizinan dalam penyelenggaraan jaringan dan atau jasa telekomunikasi diberikan oleh Menteri yang wajib diajukan secara tertulis. Jadi bukan BRTI,” pungkasnya.

RISTEK: Vendor Hariff dan TRG belum siap sediakan WiMAX 16d di 2.3GHz

Vendor WiMAX buatan lokal Standard 802.16d dinilai belum siap untuk menyediakan perangakt yang dibutuhkan oleh paar Operator WiMAX yang mengikuti Tender BWA Ditjen POSTEL R.I. untuk memperoleh alokasi pita frekwensi di 2.3GHz. Sedangkan untuk pita 3.3GHz mereka menyatakan jauh lebih siap. Mungkin ketidak-siapan produksi besar-besaran perangkat itu yang menjadi sebab terundanya Tender BWA sebagaiman dilaporkan kemarin.

WiMAX Forum menetapkan bahwa jumlah pelanggan WiMAX yang meng-akses adalah sebanya 100 pelanggan minimum, sedangkan perangkat WiMAX produksi lokal baru dapat mencapai 10-16 pelanggan pada saat yang sama (concurrent).

Untuk WiMAX satndar 802.16e spesifikasi jumlah pelanggan yang akses pada saat bersamaan adalah sebesar 200 orang minimal. Jadi Standard 16e sudah lebih dari memenuhi syarat.

Pengumuman Penundaan Penyampaian Besaran Reserved Price dan Juga Penundaan Jadwal Tender BWA

Siaran Pers No. 120/PIH/KOMINFO/5/2009

(Shenzhen, 22 Mei 2009). Tim Pelaksana Seleksi Lelang Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel Pita Lebar Pada Frekuensi Radio 2.3 GHz Untuk Penyelenggaraan Telekomunikasi pada tanggal 22 Mei 2009 ini menyampaikan Pengumuman No. 41/TIMSEL-BWA 2.3 GHz/5/2009 tentang Penundaan Jadwal Seleksi Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Berbasis Packet Switched Yang Menggunakan Pita Frekuensi 2.3 GHz Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband). Menurut rapat penjelasan (Anwijzing) kedua pada tanggal 15 Mei 2009, besaran reserved price untuk 2 blok frekuensi akan disampaikan kepada para calon peserta prakualifikasi dalam seleksi ini melalui korespondensi surat secara tertutup dan langsung pada tanggal 22 Mei 2009. Namun demikian, sampai dengan tanggal 22 Mei 2009 ini ternyata besaran reserved price tersebut belum dapat ditetapkan.

Sehubungan dengan itu, Tim Seleksi menyampaikan permohonan maaf atas penundaan penyampaian informasi besaran reserved price ini kepada seluruh calon peserta seleksi. Penundaan ini tentu saja secara langsung berpengaruh pada penundaan seluruh rangkaian kegiatan seleksi ini. Hanya saja, Tim Seleksi tetap berkomitmen untuk sesegera mungkin menyampaikannya besaran reserved price ini kepada seluruh calon peserta seleksi tender BWA ini setelah besaran reserved price tersebut sudah berhasil ditetapkan melalui formal korespondensi per surat maupun melalui website ini. Penundaan ini sama sekali tidak disengaja oleh Tim Seleksi dan semata-mata hanya masalah teknis administratif, sehingga tidak ada maksud atau agenda tertentu yang dirancang oleh Tim Seleksi bagi penundaannya.

Peluncuran WiMAX pada titik “Make-or-Break”

Tahapan peluncuran layanan Mobile WiMAX standar 802.16e saat ini mencapai titik “Make-or-Break” karena adanya berbagai hambatan yang sedang dialami, seperti terlambatnya lelang Spektrum Frekwensi WiMAX, tidak tersedianya dana investasi karena krisis Finansial Global, serta lambatnya pembangunan jaringan WiMAX.

Tujuan pembangunan Layanan Mobile WiMAX adalah untuk memberikan pengalaman kepada pelanggan yang belum bisa menikmati layanan Broadband Internet karena terbatasnya kecepatan layanan ADSL, serta lokasi yang diluar jangkauan jaringan ADSL seperti yang banyak dialami oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia. WiMAX cocok untuk layanan Broadband Access daerah rural di negara-negara ini karena jangkauan layanannya yang luas sampai mencapai radius 50 km, tanpa harus menarik-narik kabel yang biayanya mahal.

Melihat tujuan mobile Broadband WiMAX, maka layanan ini akan bersaing dengan layanan 3G GSM dan EV-DO CDMA yang sekarang telah beroperasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, sebab saat ini sudah ada perangkat WiMAX standard 802.16e yang di-embedded pada Laptop yang canggih seperti Lenovo ThinkPad tipe SL-500 seharga US$ 899,-

Informasi ini dapat dilihat pada URL:

KLIK DISINI

Bila launching WiMAX tidak segera dilaksanakan, maka bagi Operator akan lebih baik untuk mengembangkan GSM 3.5G dan CDMA EV-DO menuju ke LTE (Long Term Evolution) yang convergence dengan Standar WiMAX 802.16m.

Dalam kasus WiMAX Nomadic Standar 802.16d yang saat ini sedang ditenderkan Spektrum Frekwensinya pada pita 2,3 GHz, karena perangkat CPE-nya dengan Antena Flat Panel yang masih “bulky”, maka Sistem ini hanya bisa menjadi Feasible secara Komersiil bilamana perangkat CPE itu tidak hanya untuk Last-Mile-Access saja, tetapi yang lebih banyak lagi adalah dipakai sebagai Backbone atau  Backhaul untuk jaringan HotSpot WiFi ataupun jaringan GSM 3.5G dan CDMA EV-DO untuk meningkatkan jangkauan jaringan masing-masing. Dengan fungsinya sebagai Backbone atau Backhaul, maka tidak diperlukan CPE WiMAX 16d yang saat ini harganya masih mahal pada sisi end-users, melainkan perangkat WiFi, Modem 3.5G dan EV-DO yang harganya murah pada HP, LapTop dan PDA yang sudah banyak dipakai masyarakat.

Silahkan ditanggapi.

May 21, 2009

By Robert Clark

telecomasia.net

Mobile Wimax networks are being rolled out more slowly than expected because of a lack of spectrum and finance, says Juniper Research.

The slow rollout means service revenues will grow more slowly than forecast a year ago, a new study concluded.

But it predicted that revenues from Wimax 802.16e broadband subscribers would exceed $15 billion globally by 2014.

Wimax promised an improved experience for broadband customers receiving low-speed DSL or cable modem services, or at the limit of DSL coverage, Juniper said. It says mobile Wimax has a role to play in providing broadband in developing countries where there is no wired network.

“However, Wimax is faced by spectrum auction postponements in several countries, funding problems from the credit crunch, and slow network implementations, all combining to handicap network operators signing up subscribers,” the research firm said.

“These factors – some of which are outside the control of the Wimax ecosystem – are holding back the market.

“Whilst market leaders such as Clearwire are launching services and expanding internationally, there are also well-publicized challenges for Wimax such as those highlighted by French regulator ARCEP.  We’re on the cusp of make or break time for Wimax,” said analyst Howard Wilcox, who authored the report.

Wilcox said it was time the Wimax ecosystem began translating trials into “reliable, commercial services that attract customers.”

He predicted that North America, east Asia and western Europe together would account for 70% of market by 2014. Africa and the Middle East, South America, India and eastern Europe would together be worth $4 billion by 2014.

Peluncuran TV Digital: Digital Dividend pada Pita 700 MHz untuk WiMAX

Besok hari Rabu 20 Mei 2009 Presiden SBY akan meresmikan Grand Launching Siaran TV Digital Indonesia bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-101 tahun. Soft launching TV Digital Indonesia sudah dimulai sejak tanggal 13 Agustus 2008 yang lalu di Studio TVRI Jakarta.

Siaran TV Digital ada dua jenis yaitu Digital TV Broadcast – Terrestrial (DVB-T) sebagai standar TV Digital penerimaan tetap di Indonesia. Teknologi ini dipilih karena terbukti memberikan banyak kelebihan dibanding teknologi lainnya. Kelebihan yang paling nyata adalah kemampuannya untuk melakukan effisiensi dalam pemakaian frequensi. Karena teknologi ini mampu memultipleks beberapa program sekaligus, di mana paling tidak enam program siaran dapat “dimasukkan” sekaligus ke dalam satu kanal TV berlebar pita 8 MHz, dengan kualitas cukup baik. Analoginya, satu lahan, yang tadinya hanya dapat dipergunakan untuk membangun satu gedung, dengan teknologi ini mampu dibangun enam gedung sekaligus tanpa perlu menambah lahan yang ada, dengan kualitas bangunan lebih baik dan daya tampung jauh lebih banyak.

Jenis siaran TV Digital lainnya adalah Digital TV Broadcast – Handheld (DVB-H) untuk dipakai sebagai siaran TV Digital melalui penerima TV Portable atau Handheld. Pada saat bersamaan juga akan dapat dikembangkan Digital Audio Broadcast (DAB) untuk menggantikan Radio Analog FM, sehingga banyak sekali Pita Spektrum Frekwensi yang dapat dihemat.

Kelebihan Pita Spektrum Frekwensi ini pada pita VHF dan UHF dapat dimanfaatkan untuk aplikasi-aplikasi transmisi lainnya seperti untuk Broadband Wireless yang dapat untuk mempercepat kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Dari contoh di India baru-baru ini, pembangunan Infrastruktur Broadband sebesar 1% dapat meningkatkan GDP atau perekonomian sebesar 3%. Oleh karena itu disarankan agar Dividend Pita Spektrum Frekwensi UHF 700 MHz dipergunakan untuk WiMAX yang stan dardisasinya sedang dirampungkan oleh WiMAX FORUM.

Terlampir Peta Spektrum Frekwensi VHF dan UHF yang dapat dialokasikan untuk WiMAX. Silahkan ditanggapi.

Spektrum UHF untuk WiMAX 700 MHz

Spektrum UHF untuk WiMAX 700 MHz

Keberhasilan WiMAX Packet One Malaysia: Revenue tetap meningkat ditengah Krisis Finansial

Operator WiMAX Malaysia Packet One yang baru berjalan sekitar 1-tahun yang lalu terpilih sebagai Operator Broadband yang paling Innovative di Malaysia (Red Herring’s Asia’s Most Innovative Private Technology Company). Perusahaan ini juga tetap berhasil meraih keuntungan ditengah Krisis Finasial Global yang melanda seluruh dunia, termasuk di Malaysia.
Packet One menggunakan Teknologi WiMAX berstandar IEEE 802.16e Internasional yang lebih baru dari standar IEEE 802.16d yang lebih lama. Standar WiMAX baru ini juga memungkinkan lebih banyak pelanggan yang terhubung ke Stasion WiMAX, yaitu sekitar 200 pelanggan pada saat yang sama (200 concurrent users), sedangkan WiMAX Standar 802.16d hanya mampu menampung sebanyak 16 concurrent users pada satu saat yang sama. Ini dimungkinkan karena Standar baru WiMAX ini memakai Sub-carrier pada tramsmisi datanya yang membuatnya makin effisien dan efektif. Keuntungan lain dari WiMAX Standar 802.16e ini adalah karena sistem modulasi dan transmisinya juga kompatibel kedepan dengan Standar 802.16m yang akan convergen dengan sistem transmisi GSM masa depan yaitu yang dikenal sebagai Long Term Evolution (LTE).
Hasil pengoperasian WiMAX Packet One di Malaysia adalah sangat bagus, saat ada acara WiMAX Forum di Singapura, didemokan pengoperasiannya pada para peserta yang sedang naik bus berjalan yang menghasilkan kecepatan transmisi sebesar 9 Mbit/detik secara efektif.
Sebagai perbandingan, saat ini Idonesia sedang mengadakan Tender Operator WiMAX untuk seluruh Indonesia yang diikuti oleh 73 Peserta Tender. Yang perlu dilakukan saat ini di Indonesia adalah pembuatan Feasibilty Study bagi para Operator WiMAX apakah mereka bisa mendapatkan laba yang terus meningkat seperti Packet One Malaysia, dengan kondisi keterbatasan kemampuan sistem yang hanya sebanyak 16 concurrent user utuk tiap pemancar WiMAX.
Silahkan ditanggapi.
Berikut ini adalah rincian lengkap keberhasilan Operator WiMAX Packet One Malaysia.
May 04, 2009
By John C. Tanner
telecomasia.net

The Wimax Forum held its second annual Asia-Pac conference and exhibition in Singapore last week. Here’s what we learned.

1. Wimax works … even on a slow-moving bus!

The day before the show, Malaysian Wimax operator PacketOne went out of its way to show off its network in Johor Bahru, shipping three busloads of journalists, analysts and delegates across the strait for a live network driving demo.

With a downlink running to the bus at 5.8 Mbps, the P1 team demoed YouTube, gaming, VoIP and video surveillance, which performed fine, although it would have been nice for the audience to be allowed to select their own sites. Worth noting is P1’s Wimax/Wi-Fi handover capability which leverages MobileIP to handoff sessions between the two access links for best-connection speeds. That all of this was done on a moving vehicle would be more impressive if the bus hadn’t been caught up in afternoon traffic jam. But who am I to be critical?

2. Economy failing? Wimax can save you!

Taking a page from the GSM Association playbook, Wimax Forum president Ron Resnick said that Wimax is essential to economic stability. For one thing, he said, the Wimax sector is still growing despite the recession, which shows its potential to weather the economic downturn. He also pointed to a McKinsey report showing that broadband overall is worth investing in because every 10% of penetration equals 0.7% growth in your GDP. And people use the Internet more during hard economic times anyway as they look for cheaper forms of entertainment (or at least job-hunting sites).

Zhao Songpu, GM for Wimax products at ZTE made a similar point, noting that people keep their mobiles and their Internet when the economy slumps, so selling them mobile Internet is a no-brainer.

3. The exaflood is coming!

Well, not literally. But several speakers made the point that dongles, laptops and smartphones are going to push mobile Internet usage levels into the stratosphere, especially video. Frank Perthel, head of Wimax business development at Nokia Siemens Networks, claimed that one laptop consumes the same amount of mobile data as ten iPhones or 100 standard 3G phones. Ali Tabbasi, senior VP for global ecosystem and standards at US-based Clearwire, put that figure at 450 handsets.

Which may not be a useful statistic, but Tabbasi did add that the Internet has reached the point where using up 1 GB of data a month isn’t all that hard – three hours of web browsing and email, a few CD downloads from iTunes, one or two Facebook sessions and you’re done. Cellcos still entertaining the idea of data usage caps might keep this in mind.

4. Embedded devices still rule!

Wimax players, Cannistra said, need to work harder to make Wimax compelling enough for the CE manufacturers to go forward.5. Roaming: it’s hard!

There are lots of options for enabling Wimax to roam, from operator alliances a’la Bridge and Conexus to central bodies like the Wireless Broadband Alliance (WBA), but the ease of roaming depends on just what you want to roam seamlessly. Straight Web access? Relatively easy, says John Dubois, global roaming director for the Wimax Forum, as long as you drop volume-based billing. Content-based services like video and music? Much harder.

Frequency fragmentation will also be an issue until Wimax devices go multiband, though WBA chief Shrikant Shenwai says that technical issues are the easiest barriers to remove. “The real problem will be cooperation on the business front and the commercial dynamics,” he says.

6. Simplicity sells!

Magnus Johansson, group director for Broadband Digicel in Jamaica, described the impact of Digicel’s marketing strategy – which was that customers could buy their Wimax CPE, take it home and be up and running in three minutes. Result: within six months, Digicel took 25% of the incumbent’s broadband access market share.

7. Wimax is LTE have a lot more in common besides OFDMA

All right, no one actually said that. But it’s striking that all of the above points are not unique to Wimax. They could be applied to HSPA/LTE as well. LTE works, is claimed to be an economic growth engine, can handle the massive data loads that new devices will generate, and will rely on things like embedded devices, roaming and über-simplicity to realize its potential.