Category Archives: Uncategorized

Direksi Baru TELKOMSEL 2012-2017

Metrotvnews.com, Jakarta: Alex Janangkih Sinaga ditetapkan sebagai Presiden Direktur PT Telkomsel. Alex ditunjuk para pemegang saham untuk menggantikan Sarwoto Atmosutarno.

“Penunjukan Alex Janangkih Sinaga sebagai Presiden Direktur Telkomsel didasarkan pada keputusan pemegang saham yang berlaku efektif Rabu (16/5) bersamaan dengan pergantian direksi lainnya,” kata Head of Corporate Communication and Affair PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Eddy Kurnia dalam siaran pers di Jakarta, Rabu.

Menurut Eddy, dengan formasi direksi baru Telkomsel ini akan dapat meningkatkan kinerja perusahaan yang jauh lebih bagus. “Transformasi bisnis Telkom dan Telkomsel akan melaju dengan pesat,” tegas Eddy.

Menurut catatan, Alex Sinaga sebelumnya menjabat Direktur Utama pada PT Multimedia Nusantara anak usaha PT Telkom.

Eddy menjelaskan, Sarwoto selanjutnya mendapatkan penugasan baru sebagai Chief of The Mission Peluncuran Satelit Telkom-3.

Sarwoto yang dikenal sebagai ahli satelit yang telah teruji dan berpengalaman, diyakini dapat menyukseskan peluncuran Satelit Telkom-3 yang rencananya direalisasikan Juni 2012.

Berikut Susunan direksi Telkomsel:

Mas`ud Khamid sebagai Director of Sales
Heri Supriadi sebagai Director of Finance
Herdy Rosadi Harman sebagai Director of Human Capital Management
Abdus Somad Arif sebagai Director of Network
Edward Ying Siew Heng sebagai Director of Planning and Transformation
Ng Soo Kee sebagai Director of IT
Goh Hui Min Rachel sebagai Director of Marketing.(Ant/TII)

Advertisements

Ternyata Smartphone seperti BlackBerry dan lainnya sudah sangat bermanfaat untuk Teleworking

Ternyata perangkat ponsel canggih seperti BalckBerry, iPhone, Android dan Nexian telah banyak digunakan oleh para Pejabat yang cerdas seperti Bapak Dahlan Iskan, Meneg BUMN, para Eksekutif dan Selebrities seperti Anissa Pohan untuk melakukan kerja jarak jauh atau TELEWORK. Ini adalah sebuah awal yang baik untuk memanfaatkan kemajuan teknologi bagi hal-hal yang produktif, efektif, efisien demi kemajuan bangsa dan negara.

Meneg BUMN Dahlan Iskan

Meneg BUMN Dahlan Iskan

Bapak Dahlan Iskan baru-baru ini membuat pernyataan yang sangat mendukung TELEWORK di Indonesia, dimana dinyatakan oleh beliau bahwa beliau kalau mengadakan rapat-rapat dengan Direksi BUMN yang ada dibawak kendali Meneg BUMN, lebih sering tanpa harus bertemu face-to-face secara fisik, tetapi lebih sering dengan cara Online memakai BlackBerry Messenger (BBM). Ini membuat beliau mampu mengendalikan lebih dari 150 BUMN-BUMN yang ada dalam kendali beliau secara efektif dan efisien, tanpa banyak membuang waktu dan bensin (BBM) untuk penempuh jalan-jalan macet di ibukota Jakarta.

Tanpa dukungan ponsel canggih BlackBerry dan BBM-nya, tentu akan sangat sulit bagi beliau untuk mengedalikan banyak BUMN-BUMN itu dan menyelesaikan berbagai masalah penting secara cepat dan tepat waktu.

Artis terkenal Anissa Pohan juga telah lama mempromosikan penggunaan BBM untuk tetap berkomunikasi dengan pengasuh putri tercintanya, ditengah kesibukannya sebagai artis yang populer.

Kesimpulannya, kita semua harus dapat meniru Bapak Dahlan Iskan maupun Anissa Pohan untuk dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi yang sudah dimiliki dan dikuasai bangsa Indonesia untuk makin memajukan bangsa Indonesia, serta meningkatkan efisiensi da produktivitas kerja kita, sekaligus juga bisa menjadi solusi krisis BBM (Bahan Bakar Minyak) yang sednag melanda bangsa Indonesia, serta sebagai solusi atas kegagalan kebijakan untuk menghemat energi, tanpa repot-repot untuk menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang berakibat menyengsarakan mayoritas rakyat Indonesia.

Bila saja ada 20-juta pemilik ponsel canggih seperti Bapak Dahlan Iskan dan Anissa Pohan yang menerapkan kerja jarak jauh atau TELEWORK, berapa banya BBM Pemium yang dapat dihemat perharinya? Kalau saja ada 5-liter BBM yang dihemat oleh 20-juta pemilik ponsel cangih, maka ada 100-juta liter BBM Premium yang dihemat per hari, atau 36.500-juta liter atau 36,5 Milyar liter per tahun yang dapat dihemat. Ini setara dengan 36,5 milyar x Rp4500,- = Rp 164,250 Trilyun.

Jadi tanpa repot-repot, Pemerintah tidak perlu lagi menaikkan harga BBM Premium seperti telah ber-kali-kali direncanakan, tetapi selalu batal atau gagal!

Ini merupakan solusi yang tepat dan cerdas bagi dilemma kenaikan harga BBM Premium yang telah banyak menyita waktu dan energi bangsa Indonesia.

Semoga Pemerintahan Bapak Presiden SBY bisa menerapkan solusi ini dan mendapat pujian Rakyat Indonesia.

Pemerintah Putuskan Pemilihan Teknologi BWA Diserahkan ke Pemenang Lisensi

JAKARTA (IFT) – Pemerintah akhirnya memutuskan pemilihan teknologi broadband wireless access (BWA) diserahkan ke perusahaan pemegang lisensi BWA. Keputusan tersebut terkait dengan kelanjutan penggelaran layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) atau jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita frekuensi radio 2,3 GHz (IPSFR) untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel yang tertunda sejak 2009.

Sebelumnya, Kementerian  menetapkan menggunakan teknologi BWA, yaitu teknologi WiMax (worldwide interoperability for microwave access) 16d  yang bersifat nomadic. Sementara terdapat teknologi terbaru yakni WiMax 16e yang bersifat mobile.

Muhammad Budi Setiawan, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian, dalam siaran persnya, mengatakan para pemenang tender BWA di 2009 diberi beberapa opsi untuk menyelenggarakan BWA, yaitu bisa tetap memakai teknologi sesuai ketentuan tender 2009 atau memakai teknologi BWA lainnya.

Jika pemegang lisensi memlilih teknologi BWA lain, konsekuensinya para pemegang lisensi wajib menerima biaya hak penggunaan (BHP) IPSFR dari penyesuaian harga seleksi lelang 2009. Para pemenang lisensi BWA tersebut adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT First Media Tbk (KBLV), PT Berca Hardayaperkasa, PT Indosat Mega Media (IM2), dan PT Jasnita Telekomindo.

Selanjutnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika  segera menetapkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang Penggunaan Teknologi pada Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (wireless broadband). Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tersebut akan dipublikasikan dalam satu dua hari ini.

“Kepada pihak yang berkepentingan langsung atau tidak langsung dengan substansi kebijakan ini  diundang partisipasinya untuk menyampaikan tanggapannya secara terbuka,” kata Budi.

Proses berikutnya, setelah pemegang lisensi memenuhi kewajiban komitmen antara pilihan Opsi 1 atau Opsi 2, maka pemegang lisensi  harus mengikuti ULO (Uji Laik Operasi). Setelah melalui proses ULO dan dinyatakan lulus, kemudian pemegang lisensi bisa melakukan pengajuan permohonan untuk memperoleh izin penyelenggaraan.

Setelah izin penyelenggaraan disetujui maka kepada para penyelenggara BWA telah diizinkan untuk melakukan kegiatan komersial kepada para pelanggannya. Namun jika hanya masih memegang izin prinsip (yang kesemuanya ini akan berakhir pada sekitar tanggal 6 November 2011), maka pemegang izin prinsip dilarang untuk melakukan kegiatan komersial.

Indar Atmanto, Direktur Utama PT Indosat Mega Media, mengatakan perusahaan beranggapan bahwa yang terpenting adalah bagaimana pemerintah menyediakan teknologi yang enabler dan teknologi tersebut bisa diadopsi oleh perusahaan, sehingga dapat membantu rencana-rencana perusahaan.

“Teknologi yang dipakai dapat menyediakan kualitas yang baik dalam memberi nilai dan biaya yang terjangkau,” ujar Indar.

Pertengahan Februari lalu, PT Berca Global Access melakukan uji coba layanan WiMax dengan brand WiGO di Denpasar, Bali, meski belum memiliki ULO. Uji coba serupa juga dilakukan di Medan, Sumatera barat, dan Balikpapan, Kalimantan Timur.

Duta Saroso, Wakil Direktur Utama PT Berca Global Access, mengatakan  Berca menyiapkan investasi US$500 juta dalam tiga tahun ke depan untuk menggarap jaringan broadband di luar Pulau Jawa, yakni Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali-Nusa Tenggara. Ini setara dengan 60% terhadap wilayah yang diperoleh dari pemerintah.

(Sumber: Aprillia Ika, Ekarina – Indonesia Finance Today)

Mastel Future Mobile Payment and Mobile Banking

Perlukah lisensi SLI ditambah lagi?

Ada berita bahwa Ditjen Postel bulan depan akan menyelenggarakan Tender untuk penambahan satu lagi Penjelenggara Jasa SLI di Indonesia, yang saat ini sudah ada 3 Operator Penyelenggara SLI, yaitu PT TELKOM (007), PT INDOSAT (001 dan 008) dan PT Bakrie Telccom (009), sehingga nantinya akan ada 4 Penyelenggara Jasa SLI.

Selain dari SLI, saat ini ada juga layanan jasa VoIP internasional yang diselenggarakan oleh PT TELKOM (01017), PT INDOSAT (01018), XL Jimat (0100) dan Bakrie Telecom (01019).

Kode akses SLI yang 4-digit ini masih mengacu kepada Fundamental Technical Plan yang lama, sebab Blue Print Telematika baru yang disesuaikan dengan Era Konvergensi Jaringan dan Layana Jasa dengan Numbering Plan baru berbasiskan IP masih belum ada.

Penambahan jumlah Operator SLI memang akan menguntungkan pelanggan layanan jasa. Namun dampak penambahan ini tentu akan mengurangi pendapatan SLI para operator SLI lama, sebab akan muncul pesaing baru, yang mungkin saja akan pasan tarif yang jauh lebih murah untuk menarik pelanggan baru dan perpindahan pelanggan SLI lama. Selain dari itu, penambahan Operator SLI baru akan menambah pundipundi Pemerintah dengan pembayaran biaya lisensi baru itu.

Silahkan ditanggapi.

IPTV: Missing Link agar Operator Telco mampu bersaing dengan Operator TV Kabel dalam meperebutkan Layanan Triple Play di tiap rumah

Layanan Triple Play adalah layanan Audio, Video dan Data/Internet yang dibutuhkan oleh tiap individu atau rumahtangga. Bila layanan ini dapat diberikan oleh satu operator melalui satu jaringan telekomunikasi, maka lengkaplah kebutuhan mereka untuk komunikasi. Mereka tidak membutuhkan layanan dari operator lainnya. Saat ini layanan Triple Play ini sudah dapat diberikan melalui jaringan Operator TV Kabel berlanganan. Dengan demikian operator ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan Operator Telekomunikasi.

Untuk mengimbangi hal ini, maka dimunculkan teknologi IPTV, yaitu layanan Streaming Video dengan kualitas setara dengan Standar Definition TV (SDTV) dan High Definition TV (HDTV) melalui pengendalian kualitas end-to-end. Untuk kualitas SDTV diperlukan kecepatan transmisi sebesar 1,5 – 2 Mbps dan untuk kualitas HDTV diperlukan kecepatan transmisi 8 Mbps.

IPTV: Pertempuran Perusahaan Telco dan TV Kabel untuk menguasai Single Home Entry bagi Layanan Triple Play

Triple Play adalah layanan Audio, Video dan Data di Era Konvergensi Next Generation Network (NGN) melalui satu saluran telekomunikasi atau pipa (kabel, serat optik, microwave). Dengan menguasai pintu masuh ke-rumah-rumah pelanggan yang bisa menikmati layanan Triple Play tersebut, maka semua kebutuhan layanan telekomunikasi maupun entertainment di tiap rumah itu sudah terpenuhi, sehingga mereka tidak memerlukan jasa perusahaan lainnya.

Dewasa ini kebutuhan layanan telekomunikasi dilayani Operator Telekomunikasi, sedangkan untuk layanan entertainment TV dilayani oleh TV Broadcaster dan TV Kabel. Keunggulan lainnya dari TV Kabel adalah dapat pula memberikan layanan Data/Internet dan Suara (VoIP), sehingga lengkaplah layanan Triple Play ini diberikan oleh Perusahaan TV Kabel.

Untuk mengimbangi layanan Triple Play dari Operator TV Kabel, maka dibuatkan standar layanan Streaming Video dari Operator Telekomunikasi yang mutu layananannya dijamin end-to-end dengan teknologi IPTV. Untuk kualitas gambar Standard Definition TV diperlukan kecepatan transmisi 1,5-2 Mbps, sedangkan untuk High Definition TV diperlukan kecepatan transmisi 8 Mbps.

Dibanyak negara maju umumnya telah terpasang jutaan sst saluran kabel tembaga PSTN yang dapat ditingkatkan manfaatnya untuk transmisi digital dengan sistem Asymetric Digital Subscriber Line (ADSL) untuk menghemat biaya investasi. Di Indonesia jaringan kabel tembaga PSTN hanya terbatas sampai sekitar 8 juta sst dan tidak akan ditambah lagi dimasa depan, karena sudah digantikan dengan sistem seluler CDMA Fixed Wireless Acces yang biaya investasinya jauh lebih murah per sst. Saat ini kabel PSTN di Indonesia dipakai untuk layanan InternetTelkom  Speedy. Jadi bila IPTV diterapkan di Indonesia oleh PT TELKOM, maka penggunaan ADSL harus berbagi dengan layanan Telkom Speedy.

Di Indonesia selain PT TELKOM juga telah banyak Operator Jasa Broadband Internet (ISP) yang memberikan layanan melalui jaringan Serat Optik, seperti First Media dengan mutu layanan yang cukup baik. Mereka memilki kesempatan yang lebih baik untuk memberikan layanan Triple Play IPTV dengan mutu yang memuaskan pelanggan. Sekarang tinggal berapakah tarif yang akan dibebankan kepada pelanggan agar dapat menutup biaya CAPEX dan OPEX, dan seberapa besarnya potensi pasar di Indonesia. Melihat tarif Broadband Internet saat ini di Indonesia yang sekitar Rp 1-juta per bulan untuk kecepatan transmisi 1-Mbps, maka kita dapat memperkirakan berapa nantinya jumlah pelanggan IPTV yang akan mampu berlangganan.

Menurut peneltian Multimedia Research Group, jumlah pelanggan IPTV dunia pada tahun 2005 sebesar 3,7 juta menjadi 36,9 juta pada tahun 2009, dimana mayoritasnya ada di Eropa. Pendapatan yang akan diperoleh bisa mencapai US$10 milyar pada tahun 2009.

Bagaimanakah prospek bisnis IPTV di Indonesia? Berapakah perkiraan jumlah pelanggannya? Apakah sudah banyak yang menginginkan layanan ini, mengingat sudah ada layanan yang cukup baik dan murah walaupun belum interaktif, yaitu TV Kabel berlangganan,  Digital TV Broadcast, serta Internet TV.

Silahkan ditanggapi.