Monthly Archives: June 2008

Yang Penting2 dari Rakornas Telematika &Media 2008 KADIN: Blue Print, Kepastian Hukum, Persaingan Ketat

Rakornas Telematika & Media 2008 KADIN Indonesia telah diselenggarakan
dengan lancar dan sukses pada hari Senin 23 Juni 2003, yang dibuka oleh
Bapak MenKominfo M. Nuh dan sambutan oleh Ketua Umum KADIN Indonesia
M.S. Hidayat.

Dari 3 presentasi yang disampaikan oleh 3 Operator, yaitu bapak Diruttel
Rinaldi Firmansyah, Direktur Mobile-8 pak Merza Fachys dan Direktur
INDOSAT pak Wahyu Wijayadi, menyuarakan kesimpulan yang sama atau
serupa, yaitu judul Subject Milis diatas: Blue Print, Kepastian Hukum,
dan Persaingan yang terlalu ketat sebab normalnya hanya ada 3-4 operator
dalam satu negara
. Diperkirakan akan terjadi merger operators dalam
kurun waktu kurang dari 3 tahun mendatang, agar persaingan bisnis
Telekomunikasi menjadi lebuh mudah dikendalikan.

Yang paling menonjol dan menentukan semuanya adalah belum adanya Blue
Print Telematika yang baku
yang dapat menjadi acuan para pelaku bisnis.
Mastel tahun lalu telah menyampaikan Draft Blue Print, Kadin menurut pak
Teguh juga sudah membuat, dan terakhir, kami juga ikut serta dalam
meeting2 penyusunan Blue Print atau Road Map Telematika yang
dikoordinasikan oleh Ditjen Postel/BRTI akhir tahun 2007 y.l.

Blue Print Telematika Indonesia ini memang harus sangat komprehensif,
mencakup berbagai aspek perencanaan dan kebutuhan masa depan:
Arah perkembangan Teknologi, mana yang dipilih?
– Struktur Industri Telematika yang dikehendaki, baik operasional
layanan jasa-nya maupun Industri Manufacturing-nya.
– Kebijakan Investasi bagi Operator dan Manufacturing
– Kebijakan Persaingan Usaha dan Pentaripan

Kami akui bahwa draft-draft Blue Print yang pernah ada belum mencakup
semua hal diatas secara komprehensif dan bersifat futuristik (bisa
meramalkan kondisi minimal 10-tahun ke depan).

Bila Blue Print yang komprehensif ini sudah tersusun, maka segala
peraturan turunannya dapat menjadi sinkron dan terarah dalam
pelaksanaannya, yaitu UU, PP, KepMen, KepDirjen, dll.

Ini juga secara otomatis menjawab pertanyaan soal kepastian hukum dalam
bisnis Telematika di Indonesia.

Silahkan diberikan tanggapan dan saran-saran yang positif demi kemajuan
bangsa dan negara.

Advertisements

Yogya Cybercity Pertama Indonesia “Republik Hot Nglesot”. Apakah dampaknya pada Industri Telematika?

Yogyakarta, mantan Ibukota Republik Indonesia di zaman Revolusi 1945, saat ini telah berkembang sebagai Ibukota “Republik Hot Nglesot”, sebab sudah banyak sekali lokasi-lokasi tempat anak-anak muda ber-lesehan di tikar sambil minum kopi panas dan makan nasi kucing, sambil berselancar di dunia maya. Hal ini dimungkinkan karena di lokasi-lakasi cafe atau cybercafe tersebut telah dipasang jaringan Wifi atau HotSpot yang memungkinkan para pengunjungnya berselancar di Internet secara gratisan, dengan imbalan memesan sekadar secangkir kopi, snack atau nasi kucing dengan harga yang sangat murah, khas tarif mahasiswa dan pelajar, di kisaran Rp1.000-an.
Kondisi ini dimungkinkan oleh karena makin murahnya sewa jaringan Broadband Internet di kota itu, sekitar Rp 350.000 – Rp 500.000 ber bulan Flat-Rate. Pemilik cafe tinggal memasang perangkat Transceiver WiFi untuk membuat HotSpot di cafe mereka. Selain di cafe-cafe, HotSpots juga dipasang di Mal-mal dan beberapa lokasi Taman Kota.

Surabaya merupakan kota kedua yang memiliki HotSpots gratisan di Taman-taman Kota yang peluncurannya dilakukan oleh Bapak MenKominfo pada awal tahun 2008 ini.

Sedangkan Pelopor HotSpots gratisan di Kota Bandung adalah Melsa Net, dengan imbalan branding Produk Layanan Internet mereka. Ini perlu dicontoh oleh para Penyelenggara Jasa Internet lainnya seperti IM2, Indonet, CBN, First Media dan Telkom Speedy di Bandung.

Di Jakarta kita dapat memperoleh HotSpot gratisan di lokasi Tugu Monas yang disediakan oleh Telkom Speedy. Di banyak Mal-mal dan Cybercafe di Jakarta masih banyak yang mengenakan tarif khusus dari para Penyelenggara Jasa Internet, seperti di Mal Pondok Indah-II, Citos, dan di Restoran di Bandara Sukarno-Hatta.

Di kota Batam juga sudah banyak Mal-mal yang memberikan layanan HotSpot gratis dengan harapan agar makin banyak pengunjung yang datang untuk berbelanja.
Sebenarnya penyelenggaraan HotSpots gratis ini dapat pula dibiayai dari hasil pemasangan iklan di halaman depan Web para Penyelenggara, yaitu cybercafe, Mal-mal, dan Penyelenggara Jasa Internet, saat para pengguna jasa melakukan Login.

Dengan makin maraknya HotSpots gratisan ini, maka sudah tentu akan memberikan dampak terhadap Industri Telematika dan Budaya Kerja Masyarakat Indonesia. Industri Telematika pertama yang akan terpengaruah adalah Warnet-warnet yang saat ini jumlahnya sekitar 10.000-an, sebab jumlah pengunjungnya akan makin berkurang, beralih ke tempat-tempat layanan HotSpots gratisan yang lebih nyaman untuk berselancar di Dunia Maya. Pukulan beruntun pada Industri Warnet datang pula dari makin banyaknya para pelanggan layanan jasa Telpon Seluler 3g/HSDPA yang mampu memberikan layanan Broadband Internet dimana saja dan kapan saja dengan tarif yang relatif murah.

Namun saat ini para Pengusaha Warnet masih sedikit beruntung, sebab para Operator Jasa 3G/HSDPA masih belum memberikan layaan bermutu tinggi, sebab mereka pada umumnya lebih mem-fokuskan perluasan jangkauan dari pada perbaikan mutu layanan.

Dampak positif bagi budaya kerja bangsa Indonesia dengan maraknya HotSpots gratisan ini dan layanan jasa 3G/HSDPA adalah makin banyak masyarakat Indonesia yang memilih untuk melakukan Kerja Jarak Jauh atau Teleworking. Di saat makin meningkatnya harga BBM, maka Teleworking dapat menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan BBM, dan penghematan biaya masyarakat. Budaya ini perlu secepatnya diperluas dan disosialisasikan bila bangsa Indonesia ingin maju secara cepat dan mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kemajuan Teknologi Telematika ini.

Industri lainnya yang akan diuntungkan adalah para Penyelenggara Online News, seperti Detik.com, Kompas.com, PressTalk.info dan QBHeadlines.com. Mereka diuntungkan karena akan makin banyak pengakses situs mereka, sehingga mereka lambat atau cepat akan menggantikan suratkabar, minnguan dan majalah berbentuk hardcopy atau lemabr-lembar kertas tulis. Media Online ini akan dapat meraih makin banyak iklan berbayar dengan imbalan yang sangat besar.

Lalu apakah yang harus dilakukan oleh para Pengusaha Warnet, dimana masa depan mereka akan makin suram? Ada strategi bisnis yang berbunyi sbb: “If you cannot fight them, the you should join them!” Ini barangkali strategi yang tepat bagi para Warnetters untuk merubah tempat layana mereka menjadi Cybercafe murah atau gratisan, dengan imbalan para pengunjung membeli makanan atau minuman, atau barang di kedai mereka. Alternatif lainnya adalah menjalin kerjasama dengan Penyelenggara Pendidikan Jarak-jauh, agar para mahasiswa mereka melakukannya dari Warnet-warnet dengan biaya murah atau gratis, dengan mengambil imbalan dari Uang Kuliah para mahasiswa tersebut.
Dibawah ini adalah tulisan Wartawan Kompas tentang perkembangan HotSpot di Yogyakarta dan beberapa kota lainnya sebagai referensi.

————0———-

Republik “Hot Ngelesot” KOMPAS, Minggu, 8 Juni 2008 | 00:37 WIB :Budi Suwarna dan Lusiana Indriasari

Orang Yogya sedang mengalami demam hotspot. Fasilitas hotspot disediakan di mana-mana, mulai kampus, sekolah, taman kanak-kanak, kedai, kos-kosan, arena futsal, hingga angkringan. Saking banyaknya hotspot, anak-anak muda di sini berseloroh, ”Kalau ada republik hotspot, Yogyakarta pasti jadi ibu kotanya.”

Jika Anda jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza (Amplas) di Jalan Laksda Adisucipto, Anda akan mudah menjumpai anak-anak muda menenteng laptop. Mudah ditebak, mereka pasti akan mampir ke salah satu kafe yang dilengkapi hotspot (area di mana orang bisa mengakses internet tanpa kabel). Mereka akan memesan segelas minuman, kemudian menyalakan laptopnya dan mulai berinternet selama dua jam sesuai batas maksimal yang ditetapkan kafe-kafe di sana.

Pemandangan serupa bisa ditemui di mal Jogjatronik di Jalan Brigjen Katamso, tepatnya di lantai tiga. Jumat (6/6) sore, ada dua belas orang duduk lesehan di selasar toko sambil memangku laptopnya dan asyik beraselancar di dunia maya. Sama seperti di Amplas, mereka adalah para pemburu hotspot. Bedanya, mereka tidak perlu mampir di kedai dan membeli minuman sebagai prasyarat menikmati fasilitas hotspot. Mereka cukup memanfaatkan gelombang hotspot gratisan yang meluber hingga ke selasar toko. Pemburu hotspot di tempat ini mungkin termasuk orang yang hemat atau mungkin bokek.

Sejumlah kedai di sepanjang Selokan Mataram, Gejayan, Sagan, dan Terban juga banyak yang ber-hotspot. Biasanya kafe itu akan memasang spanduk bertuliskan ”Free Hotspot, Unlimited”. Ada juga yang bertuliskan ”Hot Ngelesot”. Maksudnya, fasilitas hotspot bisa digunakan sambil ngelesot atau lesehan di lantai.

Fasilitas hotspot di kedai-kedai semacam itu pun gratis. Di Kafe Djendelo Tanah Airkoe, misalnya, Anda cukup membeli segelas Es Teh Djendelo Bersoebsidi seharga Rp 4.000 dan Anda sudah bisa memanfaatkan fasilitas hotspot mulai kafe itu buka di siang hari hingga tutup pukul 22.00. Itu kalau Anda tidak malu!

Nyatanya, kata Korlap Djendelo, Yusuf Sinaga, ada beberapa pelanggan yang tidak punya rasa malu. ”Main internet dari pagi sampai malam kok cuma pesan satu gelas teh. Saya sudah mendelik-mendelik dan hilir mudik di depannya, eh dia cuek aja,” katanya.

Tidak mau ketinggalan, kos-kosan, lapangan futsal, dan TK juga dilengkapi hotspot. Ibu-ibu lebih senang hanyut dalam dunia maya ketimbang ngerumpi dengan sesama sambil menunggu anaknya selesai belajar dan bermain di TK.

Yang lebih fenomenal, hotspot juga bisa dijumpai di angkringan. Salah satunya angkringan di halaman Sawitsari, Condongcatur, Sleman. Kamis (5/6) malam, ada 10 anak muda tenggelam dalam dunia maya. Ada yang sekadar chatting, bergabung dengan milis, membuka situs Friendster, YouTube, bahkan ada yang sedang bertransaksi bisnis (mungkin jutaan rupiah) sambil menyeruput kopi dan makan nasi kucing (nasi seukuran porsi makan kucing yang harganya cuma Rp 1.000 per bungkus).

Ah, di sini simbol-simbol saling bertabrakan. Angkringan yang merupakan simbol kaum jelata Yogyakarta bertabrakan dengan internet yang menjadi simbol kelas menengah. Gaya metropolis pengunjung bertabrakan dengan gojek kere (humor kaum jelata) khas Yogya yang biasa beredar di angkringan.

”Bapakmu masih kerja di Segitiga Bermuda? Kenapa enggak pindah ke Segiempat Bermuda atau Trapesium Bermuda?” canda salah satu pengunjung.

”Booming”

Bagaimana demam hotspot terjadi? Riza Tantular, Manager Citranet, perusahaan penyedia jasa internet, mengatakan, fenomena ini sebenarnya dimulai sejak munculnya kafe dan kedai kopi kecil seperti yang ada di sepanjang Selokan Mataram tahun 2004. ”Kedai-kedai itu menyediakan fasilitas hotspot untuk menarik mahasiswa,” ujarnya.

Setelah Amplas—yang dilengkapi fasilitas hotspot—berdiri tahun 2006, demam hotspot kian menjadi. Orang makin betah nongkrong, sambil berselancar di dunia maya.

Para pemilik tempat usaha mengakui, hotspot bisa menjadi alat yang efektif untuk memancing pelanggan. Franzeska Mei, General Manager Neofutsal, mengatakan, pengunjungnya terus bertambah setelah pihaknya memasang fasilitas hotspot. Dia mengaku hanya mengeluarkan dana Rp 380.000 per bulan untuk berlangganan internet. ”Dana yang dikeluarkan sebanding dengan penambahan pengunjung,” katanya.

Manager Data Internet PT Telkom Kandatel Yogyakarta Taryoko mengatakan, penggunaan akses internet nirkabel di Yogya memang mengalami ledakan sejak tahun lalu. Orang tinggal menambahkan perangkat access point seharga Rp 400.000 ke koneksi internet dan, bimsalabim, layanan hotspot tersedia.

Taryoko menambahkan, saat ini pelanggan Speedy (produk layanan internet Telkom) di Yogyakarta berjumlah 7.000 orang. Dia memperkirakan lebih dari 100 pelanggan telah menambahkan fasilitas hotspot.

Riza dan Taryoko yakin demam hotspot akan terus berlanjut. Pasalnya, pengguna internet di Yogyakarta makin praktis dan mobil. Apalagi laptop yang dilengkapi perangkat Wi-Fi (wireless fidelity) semakin murah. Dengan uang kurang dari Rp 5 juta, orang sudah bisa memiliki laptop dengan Wi-Fi.

Gejala itu memang semakin nyata. Indikasinya, penjualan laptop di Yogyakarta laris bak kacang goreng. Arie Asimilia, Media Relation Emax Fortune Jogja—distributor notebook Apple—mengatakan, sejak membuka gerai di Amplas tiga bulan lalu, pihaknya mencatat angka penjualan sangat tinggi. Bahkan, angka penjualan di gerai ini melampaui angka penjualan gerai Emax di Jakarta. Sayangnya, dia tidak bersedia menyebutkan jumlahnya.

Sekarang, lanjutnya, pembeli di gerainya harus menunggu 14 hari kerja untuk mendapatkan notebook. Notebook yang banyak dicari adalah yang harganya berkisar Rp 10 juta-Rp 11 juta dengan model trendi. Kebanyakan pembelinya mahasiswa.

Diaz Ario, Junior Project Manager PT Dyandra Promotion Yogyakarta, yang sering mengadakan pameran komputer mengatakan, penjualan laptop satu-dua tahun terakhir di Yogyakarta memang gila-gilaan, terutama yang harganya berkisar Rp 3 juta-Rp 4 juta. ”Sekali pameran, ratusan laptop yang terjual. Banyak yang tidak kebagian sehingga laptop pajangan pun ditawar,” katanya.

IGADD dan Business 2.0: Hasil Business Luncheon Kamis 5 Juni 2008

Siang hari ini Kamis 5 Juni 2008 kami ikut menghadiri acara Business Lunch yang diselenggarakan oleh IGADD dan MASTEL di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan Jakarta.

IGADD atau Investors Group Against Digital Divide adalah sebuah organisasi non-profit yang didirikan oleh Dr. Ilham Habibie dari The Habibie Center dan Prof. Craig Warren Smith dari MIT, masing-masing selaku Co-Chairman. Tujuan utamanya adalah membuat lingkungan yang kondusif bagi para Investors besar maupun kecil agar mau berinvestasi
bagi pembanguan Backbone Jaringan Broadband maupun Jaringan Acces ke para pengguna jasa, dan menjadikannya sebagai broadband yang bermanfaat bagi Rakyat Indonesia.

Dalam acara itu, ada tiga orang pembicara, yaitu Bapak Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar, Pak Ilham Habibie, dan pak Craig Warren Smith.

Bapak Dirjen menyampaikan perkembangan mutakhir pembangunan jaringan Serat Optik DN maupun LN yang menghubungkan Jakarta dengan Singapore, Kuala Lumpur, Australia, Vietnam, Hongkong dan Tokyo yang telah mendapat ijin, dan ada yang sudah mulai instalasi. Tender untuk Jaringan SO Palapa Ring saat ini juga sudah dimulai. Diharapkan pada tahn 2009 berbagai Jaringan Backbone SO ini sudah akan beroperasi.

Yang masih diharapkan adalah investor untuk hubungan Backbone dari Manado ke Filipina, agar makin banyak alternatifnya, dan dipakai untuk sistem back-up/redundancy.

Untuk Jaringan Akses ke pelanggan, maka akan dipakai Jaringan WiMAX, selain dari existing jaringan Seluler Mobile, dan 3G/HSDPA, dan WiFi/HotSpots.

Pak Dirjen Postel boleh berbagga, bahwa semmua jaringan itu dibangun melalui kerjasama Public-Private-Partnership (PPP).

Sebagai penutup, pak Dirjen mengutip lagu Martin Luther King dalam mengharapakan impiannya: “I have a Dream….”. Suatu hari Indonesia akan maju pesat dengan jaringan Broadband Internet. Semoga!

Pak Ilham Habibie menjelaskan tentang organisasi IGADD, Visi, Misi dan Tujuannya. Dilaporkan bahwa IGADD saat ini telah menandatangani MOU dengan DEPKOMINFO dan MASTEL.

Pak Craig Warren Smith memberikan uraian tentang cara untuk merealisasikan tujuan IGADD, yaitu melalui kerjasama dengan berbagai pihak, Pemerintah/Regulator, Organisasai2 Internasional (World Bank, ITU, dll), NGO Indonesia (MASTEL, Universitas2, dll), Para Investor LN maupun DN (Goldman Sachs, dll), Perbankan (BCA, HSBC, BRI, Mandiri, dll).

Dari hasil tanya-jawab, dapat disimpulkan bahwa “Meaningful Broadband” di Indonesia hanya akan dapat dicapai bilamana melibatkan semua stakeholders, baik investor maupun operator jaringan infrastruktur Broadband, maupun penyedia dan pengguan Content untuk meramaikan penggunaan Jaringan Broadband itu bagi kemajuan bangsa dan negara.

Menyangkut Investors, sesuai kepanjangan dari IGADD, ada investor besar dan operator2 besar untuk jaringan Backbone yang panjang dan mahal (kabel SO bawah laut), namun lebih banyak lagi investor2 dan operator2
kecil untuk jaringan akses lokal yang relatif murah dan bisa didanai dari DN. Juga untuk content-nya umumnya bisa disediakan dan di-operasikan oleh anak-anak bangsa Indonesia. Inilah makna penting dari Business 2.0, partisipasi semua pihak yang berkepentingan, sebagaimana dengan era Web 2.0 Social Networking yang melibatkan partisipasi semua pihak yang berkepentingan.

Semoga tujuan yang mulia dari IGADD ini didukung oleh semua elemen bangsa Indonesi demi mencapai Masyarakat Indonesia yang maju, cerdas, aman, makmur, damai dan sejahtera. Insya Allah, Indonesia Bisa!

Wassalam,
Sumitro Roestam
Sent via Open Source Software Blankon “Lontara” version 3.0 Made in Indonesia
————————————————————————–
Pakailah Software Legal – Awas ada sweeping Laptop di Bandara Cengkareng!
————————————————————————–