Category Archives: Legal Software dan HAKI

Legal Software dan HAKI

Silahkan lihat bahan presentasi DeTIKNas tanggal 27 Des 07 di Dept. Keuangan.

Guna meningkatkan dinamika “Diskusi Telematika 2008 di Cyberpace“, dengan izin Bapak2 dan Ibu2 sekalian, maka Topik Bahasan “Legal Software Pemerintah” kami usulkan untuk diperluas menjadi “Legal Software dan HAKI“.

Ini karena masalah penggunaan Software di kalangan Lembaga/Institusi Pemerintahan relatif mudah penyelesaiannya, dan akan merupakan keputusan yang sifatnya “Top-Down“, Instruksi dari Pimpinan Lembaga/Institusi Pemerintahan masing-masing.

Sedangkan software yang di pakai masyarakat umum dan swasta sangat bervariasi, sehingga pengaturannya akan lebih sulit.

Kami tambahkan sub-topik “HAKI”, karena ini adalah kunci dari legal-
tidaknya sesuatu software. Disini dapat dibahas bagaimana seharusnya UU
HAKI diterapkan, dan dibahas topik2 yang berdasakan realisasinya
dilapangan, seperti soal besarnya angka pembajakan, boleh/tidaknya
suatu organisasi, asosiasi atau lembga tertentu mengumumkan tentang
angka2 pembajakan di Indonesia dengan atau tanpa bukti2 hasil riset
mereka.

Sebagai catatan, dalam sub-Topik “HAKI” termasuk pula permasalahan Hak Paten. Khusus masalah Paten ini, kami terinspirasi dari berita Koran Kompas edisi hari ini, Senin, 7 Jan 2007, halaman 13, dimana ada Pengumuman oleh Garuda Indonesia bahwa phaknya
telahmemenagkan gugatan atas paten “Sistem dan Metode Untuk Pembayaran Penjualan Tiket Melalui Fasilitas On-line Perbankan”, yang semula di-paten-kan oleh Sdr. Bagus Tanuwidjaya.

Garuda memenagkan gugatannya melalui Pengadilan Niaga Jakarta Pusat
dan dikuatkan oleh MA.
Selanjutnya paten atas nama Sdr. Bagus Tanuidjaya dibatalkan oleh Direktorat Paten, DepHUKHAM.

Silahkan Bapak2 dan Ibu2 memberikan tanggapannya melalui Topik Bahasan ini.

OPEN SOURCE

Pintu Garasi pak Onno W. Pubo terbuka lebar: No Windows, No Gates. It is Open. No Bill, It is FREE!”

Judul diatas adalah Tulisan di depan pintu garasi Dr. Ir. Onno W. Purbo, yang rumahnya serba sederhana, berlantai dua, sama seperti rumah2 lainnya disekitarnya. Informasi ini saya dapat dari Koran "Sinar Harapan" edisi hari ini Rabu, 9 Januari 2008.

Pak Onno adalah lambang kesederhanaan Generasi Muda Indonesia, dimana dengan sikap kesederhanaannya ini beliau ingin membantu masyarakat kelas menengah kebawah untuk dapat menikmati kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Karena kepeloporan perjuangan beliau yang gigih, maka Pemerintah akhirnya membebaskan lisensi penggunaan pita 2.4 GHz untuk kepentingan masyarakat banyak. Beliau juga telah mempelopori penggunaan barang-barang bekas untuk membuat antena "Wajanbolic"

Selain dari itu, bersama kawan-kawan lainnya, belaiu mempelopori pengembangan "RT/RW-net" dan "VoIP Rakyat" yang murah atau gratis.

Terkait dengan judul tulisan diatas, saya juga sependapat dengan beliau, bahwa bagi masyarakat umum Indonesia, Open Source software hendaknya menjadi pilihan mereka, sebab daya beli mereka hanyalah Pas-pasan. Tidak masuk diakal kalau mereka dipaksakan untuk memakai Software-software Proprietary, sebab akhirnya karena daya beli mereka sangat terbatas, mereka terpaksa harus melanggar HAKI dengan membajak.

Saya bukan anti SW Proprietary, karena menurut saya, sah-sah saja kalau Perusahaan Besar di Indonesia memakai software Proprietary, sebab mereka memang mampu. Namun jangan sampai mereka yang mampu itu membajak SW Proprietary.

Jadi menurut saya, Pemerintah hendaknya mengarahkan penggunaan Software Open Source, melalui intensifikasi penggunaannya dan promosinya kepada masyarakat luas. Ini yang kelihatannya kurang mendapat prioritas.

Silahkan ditanggapi dan diberikan saran-saran yang positif.
Selamat beristirahat dan berlibur pada liburan panjang ini.

Wassalam,

Advertisements