Monthly Archives: October 2009

Debat TV-One: Roy Suryo vs Syamsu Anwar (Pengacara Prita)

Berikut ini adalah laporan pandangan mata Debat TV-One pada hari Rabu 14 Oktober 2009 antara Roy Suryo (RS- Saksi Ahli Telematika) dan Syamsu Anwar (SA-Pengacara Prita Mulyasari) agar permasalahan yang sedang dihadapi dapat diselesaikan dengan hasil yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia sbb:

1.  Tentang Alat Bukti yang diajukan Jaksa, yaitu fotocopy surat elektronik yang disebar-luaskan oleh kawan2 Prita:

RS: Alat bukti itu syah, sebab isinya sama dengan isi email awal yg dikirim oleh Prita
SA (Pengacara Prita): Alat bukti itu tidak syah, sebab bukan dikirim oleh Prita, melainkan disebarkan oleh kawan2 Prita. Alat bukti itu berbeda dengan e-mail asli Prita, sebab sudah melalui proses forwarding dan bisa saja ada editing saat dikirim. Alat bukti itu adalah barang yang bukan milik Prita.

2.  Tentang sudah atau belum berlakunya UU ITE No. 11/2008:
RS: Sudah berlaku syah sejak diundangkannya UU ini (Pasal 54 ayat 1).
SA: Belum berlaku syah, sebab masih belum ada Peraturan Pemerintah (PP) yang menjabarkan definisi-definisi dan rumusn2 yang ada dalam UU itu. Contohnya, belum ada definisi dan rumusan dari istilah2 yang ada di Pasal 27 ayat 1, 2 dan 3 tentang: “mendistribusikan”, “mentransmisikan”, “membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik/Dokumen Elektronik”, sebab memang Peraturan Pemerintah tentang hal ini belum dibuat.

3.  Tentang Kepakaran Telematika Roy Suryo:
RS: Pernah menjadi pembicara Telematika di Forum PBB dan saat ini sebagai Anggota Tim Ahli Telematika Presiden SBY
SA: sudah tahu siapa Roy Suryo

4.  Tentang perbuatan sengaja dari Prita:
RS: Email itu dikirim secara sengaja oleh Prita, sebab penerimanya lebih dari satu orang (20 kawan2nya). Kalau dikirim ke satu atau dua orang, OK, boleh dibilang tidak sengaja. Lagi pula isi email menyebut bahwa mudah2an dibaca oleh Manajemen RS Omni. Mengapa tidak langsung saja dikirim ke Manajemen RS OMNI?
SA: Tidak ada dalam UU ITE disebutkan bahwa seseorang dilarang mengirim email ke lebih dari satu atau dua orang. Lebih dari seribu penerimapun tidak dilarang. Belum ada rumusan definisi istilah “sengaja”, “penyebaran” atau “distribusi” dari suatu email, sebab memang PP-nya belum dibuat. Saksi Ahli Telematika tidak perlu mengomentari tentang isi e-mail Prita, sebab itu merupakan jatah pakar Bahasa Indonesia. Jangan mencampuradukkan hal-hal yang belum pasti (kemungkinan, perkiraan).

5.  Tentang kesaksian RS yang terlihat memojokkan Prita:
RS: Saya membela kepentingan Negara dan membela UU ITE sebab ikut serta dalam penyusunannya.
SA: Sebagai Pengacara, juga punya prinsip membela kepentingan bangsa dan Negara.

Pada kesempatan itu Roy Suryo mengklarifikasi bahwa dirinya tidak menyodor-nyodorkan diri untuk jadi saksi ahli, tetapi memang ada surat permintaan dari Jaksa.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua, memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi segenap bangsa dan rakyat Indonesia yang kita cintai. Silahkan diberikan tanggapan atau saran-saran yang positif bagi kemajuan bangsa.

Advertisements

Perlukah lisensi SLI ditambah lagi?

Ada berita bahwa Ditjen Postel bulan depan akan menyelenggarakan Tender untuk penambahan satu lagi Penjelenggara Jasa SLI di Indonesia, yang saat ini sudah ada 3 Operator Penyelenggara SLI, yaitu PT TELKOM (007), PT INDOSAT (001 dan 008) dan PT Bakrie Telccom (009), sehingga nantinya akan ada 4 Penyelenggara Jasa SLI.

Selain dari SLI, saat ini ada juga layanan jasa VoIP internasional yang diselenggarakan oleh PT TELKOM (01017), PT INDOSAT (01018), XL Jimat (0100) dan Bakrie Telecom (01019).

Kode akses SLI yang 4-digit ini masih mengacu kepada Fundamental Technical Plan yang lama, sebab Blue Print Telematika baru yang disesuaikan dengan Era Konvergensi Jaringan dan Layana Jasa dengan Numbering Plan baru berbasiskan IP masih belum ada.

Penambahan jumlah Operator SLI memang akan menguntungkan pelanggan layanan jasa. Namun dampak penambahan ini tentu akan mengurangi pendapatan SLI para operator SLI lama, sebab akan muncul pesaing baru, yang mungkin saja akan pasan tarif yang jauh lebih murah untuk menarik pelanggan baru dan perpindahan pelanggan SLI lama. Selain dari itu, penambahan Operator SLI baru akan menambah pundipundi Pemerintah dengan pembayaran biaya lisensi baru itu.

Silahkan ditanggapi.

Bagaimanakah bentuk Wireless Web masa depan?

Awal tahun 2000-an kita mengalami kehancuran model bisnis Web Dotcom yang sebelumnya diperkirakan akan mengambilalih bisnis perdagangan fisik ke perdagangan virtual (eCommerce). Hanya segelintir Web Dotcom yang mampu bertahan, yang umumnya adalah situs berita online seperti detik.com dan kompas.com.

Antara tahun 2005-2007 kita juga mengalami kegagalan layanan 3G yang tadinya diperkirakan akan berkembang pesat dengan traffik yang meningkat tajam sebab akan menjadi “killer apllication” yang baru. Kegagalan ini dipicu oleh ketidakmampuan layanan ini untuk memberikan kinerja layanan yang berkecepatan tinggi dan berkapasitas tinggi seperti yang diharapkan masyarakat pemakai jasa. Dalam kasus 3G Indonesia, permasalahan utamanya adalah karena sempitnya alokasi pita frekwensi yang diberikan kepada tiap operator 3G, dengan hasil layanan yang sangat lelet dan menjengkelkan bagi pelanggan. Pengalaman buruk ini berakibat para pengguna enggan untuk mengembangkan berbagai aplikasi yang innovatif dan kreatif untuk bisnis dan entertainment.

Namun dalam perkembangan mutakhir di banyak negara, internet dial-up yang sebelumnya menjadi andalan masyarakat, sekarang mulai ditingglkan dan dilupakan, sebab muncul layanan baru yang jauh lebih memuaskan, yaitu layanan broadband melalui kabel tembaga (ADSL, Speedy, Coaxial) dan serat optik (FTTH). Selanjutnya berkembang pula layanan HotSpot di cafe, restauran maupun perumahan dengan memanfaatkan layanan wireless WiFi baik yang berbayar maupun yang gratis.

Di banyak negara, layanan 3G mulai dibenahi dengan menyediakan pita frekwensi yang cukup dan memanfaatkan teknoloogi transmisi data berkecepatan tinggi HSDPA (High Speed Data Packet Access) yang nantinya akan berevolusi ke sistem transmisi Long Term Evolution (LTE). Di beberapa negara dimunculkan pula layanan tandingan mobile wireless, yaitu WiMAX standar 802.16e, namun jumlah pelanggannya masih jauh dibawah pelanggan layanan jasa 3G atau 3.5G.

Dengan membaiknya layanan broadband berkecpatan tinggi melalui wireless 3.5G atau HSDPA serta WiFi, maka muncul produk-produk Handphone (Smartphone) berlayar lebar, berkeyboard QWERTY, touchscreen, dan berdaya prosesor tinggi dari vendor besar seperti Nokia, Ericsson, Samsung, Motorola, Blackberry, K-Touch, Nexian, Android, dan lain-lain. Dampaknya saat ini adalah makin banyaknya pengguna HP yang menafaatkannya untuk layanan data dan Internet. Hasil survey menunjukkan bahwa duapertiga pengguna HP sekarang memanfaatkannya untuk layanan data, meningkat dari angka 25% pengguna yang memakai HP untuk layanan data pada 3-tahun yang lalu. 60% dari layanan data itu saat ini adalah untuk browsing Internet. Pembelian Smartphone di AS, Kanada dan Inggris meningkat dari 3% beberapa tahun yang lalu, menjadi 20% tahun ini.

Beberapa tahun yang lalu, layana MMS gagal menempatkannya pada posisi killer apllication, karena leletnya GPRS dan 3G. Namun sekarang layanan HSDPA dan WiFi di banyak negara maju sudah cukup baik, sehingga pertanyaannya adalah bentuk apakah layanan Wireless Web melalui Handphone/Smartphone yang akan datang? Apakah merupakan replika layanan Web di Internat konvensional, ataukah akan ada simplifikasi atau kompresi yang akan digunakan agar dapat lebih cepat dan efisien dalam penampilannya?

Silahkan ditanggapi.