Pemerintah Putuskan Pemilihan Teknologi BWA Diserahkan ke Pemenang Lisensi

JAKARTA (IFT) – Pemerintah akhirnya memutuskan pemilihan teknologi broadband wireless access (BWA) diserahkan ke perusahaan pemegang lisensi BWA. Keputusan tersebut terkait dengan kelanjutan penggelaran layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) atau jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita frekuensi radio 2,3 GHz (IPSFR) untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel yang tertunda sejak 2009.

Sebelumnya, Kementerian  menetapkan menggunakan teknologi BWA, yaitu teknologi WiMax (worldwide interoperability for microwave access) 16d  yang bersifat nomadic. Sementara terdapat teknologi terbaru yakni WiMax 16e yang bersifat mobile.

Muhammad Budi Setiawan, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian, dalam siaran persnya, mengatakan para pemenang tender BWA di 2009 diberi beberapa opsi untuk menyelenggarakan BWA, yaitu bisa tetap memakai teknologi sesuai ketentuan tender 2009 atau memakai teknologi BWA lainnya.

Jika pemegang lisensi memlilih teknologi BWA lain, konsekuensinya para pemegang lisensi wajib menerima biaya hak penggunaan (BHP) IPSFR dari penyesuaian harga seleksi lelang 2009. Para pemenang lisensi BWA tersebut adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT First Media Tbk (KBLV), PT Berca Hardayaperkasa, PT Indosat Mega Media (IM2), dan PT Jasnita Telekomindo.

Selanjutnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika  segera menetapkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang Penggunaan Teknologi pada Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (wireless broadband). Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tersebut akan dipublikasikan dalam satu dua hari ini.

“Kepada pihak yang berkepentingan langsung atau tidak langsung dengan substansi kebijakan ini  diundang partisipasinya untuk menyampaikan tanggapannya secara terbuka,” kata Budi.

Proses berikutnya, setelah pemegang lisensi memenuhi kewajiban komitmen antara pilihan Opsi 1 atau Opsi 2, maka pemegang lisensi  harus mengikuti ULO (Uji Laik Operasi). Setelah melalui proses ULO dan dinyatakan lulus, kemudian pemegang lisensi bisa melakukan pengajuan permohonan untuk memperoleh izin penyelenggaraan.

Setelah izin penyelenggaraan disetujui maka kepada para penyelenggara BWA telah diizinkan untuk melakukan kegiatan komersial kepada para pelanggannya. Namun jika hanya masih memegang izin prinsip (yang kesemuanya ini akan berakhir pada sekitar tanggal 6 November 2011), maka pemegang izin prinsip dilarang untuk melakukan kegiatan komersial.

Indar Atmanto, Direktur Utama PT Indosat Mega Media, mengatakan perusahaan beranggapan bahwa yang terpenting adalah bagaimana pemerintah menyediakan teknologi yang enabler dan teknologi tersebut bisa diadopsi oleh perusahaan, sehingga dapat membantu rencana-rencana perusahaan.

“Teknologi yang dipakai dapat menyediakan kualitas yang baik dalam memberi nilai dan biaya yang terjangkau,” ujar Indar.

Pertengahan Februari lalu, PT Berca Global Access melakukan uji coba layanan WiMax dengan brand WiGO di Denpasar, Bali, meski belum memiliki ULO. Uji coba serupa juga dilakukan di Medan, Sumatera barat, dan Balikpapan, Kalimantan Timur.

Duta Saroso, Wakil Direktur Utama PT Berca Global Access, mengatakan  Berca menyiapkan investasi US$500 juta dalam tiga tahun ke depan untuk menggarap jaringan broadband di luar Pulau Jawa, yakni Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali-Nusa Tenggara. Ini setara dengan 60% terhadap wilayah yang diperoleh dari pemerintah.

(Sumber: Aprillia Ika, Ekarina – Indonesia Finance Today)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s