Informasi Penjualan Satelit ProtoStar I dan II

Rencana penjualan satelit ProtoStar II atau Indostar memicu kontroversi. Penjualan tersebut dinilai bisa memengaruhi nasib slot orbit yang dimiliki pemerintah Indonesia.Rencana penjualan satelit ProtoStar II atau Indostar memicu kontroversi. Penjualan tersebut dinilai bisa memengaruhi nasib slot orbit yang dimiliki pemerintah Indonesia.ProtoStar Ltd yang terbelit utang sekitar 495 juta dollar AS berencana menjual semua asetnya, baik Satelit Protostar I maupun II.

Pengadilan Amerika Serikat memberikan batas waktu hingga 17 Sepetember 2009 bagi pihak yang tertarik membeli aset perusahaan tersebut.Presiden dan Chief Executive Officer ProtoStar Ltd Philip Father, seperti dikutip dalam keterangan resmi di situs perusahaan itu menyebutkan penjualan aset adalah langkah terbaik untuk keluar dari masalah yang dihadapi saat ini.

Protostar merupakan perusahaan yang berdomisili di Bermuda dan beroperasi di Amerika Serikat.Perusahaan ini menyediakan jasa satelit komunikasi geostationary berkekuatan tinggi yang digunakan untuk layanan direct-to-home (DTH) televisi satelit dan akses Internet broadband di wilayah Asia Pasifik.

Protostar mengoperasikan dua satelit, yakni satelit Protostar I (dimiliki oleh Protostar I Ltd) dan satelit Protostar II (dimiliki oleh Protostar II Ltd).

Satelit Protostar I diluncurkan pada 7 Juli 2008 dan menyediakan jangkauan Ku-band untuk layanan digital DTH, televisi high-definition, dan Internet broadband di wilayah layanan Asia Tenggara hingga Timur Tengah, serta transponder C-band yang menyediakan backhaul seluler, traditional last mile telecom, dan layanan penyiaran dasar.

Sedangkan Satelit Protostar II diluncurkan pada 16 Mei 2009 dan baru beroperasi pada 17 Juni 2009. Nah, di satelit Protostar II inilah munculnya kepentingan Indonesia.

Jika merujuk pada keterangan resmi situs Protostar disebutkan satelit Protostar II menyediakan pelayanan kepada PT Media Citra Indostar (MCI) dan PT MNC Skyvision, operator layanan televisi satelit DTH terbesar di Indonesia dengan merek dagang Indovision.

Satelit Protostar II atau di Indonesia dikenal dengan nama Indostar II menempati slot orbit 107,7 derajat BT dan bekerja di pita frekuensi 2,5 GHz selebar 150 MHz.Satelit yang menelan investasi sebesar 300 juta dollar AS tersebut membawa 32 transponder.

Dari 32 tranponder yang dimiliki, 10 transponder aktif dan 3 transponder cadangan akan difungsikan sebagai penguat gelombang frekuensi S-Band untuk menyediakan jasa layanan penyiaran langsung ke rumah-rumah atau (Direct-To-Home/DTH)

MCI mengharapkan adanya satelit baru tersebut akan membuat televisi berbayar Indovision memiliki jumlah saluran (channel) sebanyak 120 channel dari sebelumnya 56 channel.

Meningkatnya jumlah channel juga diharapkan akan membuat angka pelanggan menjadi satu juta pada akhir tahun nanti.

Indostar-II juga menggunakan frekuensi KU-Band yang didesain untuk layanan DTH dan telekomunikasi di India.

Sedangkan transponder KU-Band lainnya digunakan untuk akses Internet berkecepatan tinggi dan layanan telekomunikasi di Filipina, Taiwan, maupun Indonesia.

Aksi penjualan Protostar sontak memunculkan sejumlah pertanyaan.

Pertanyaan utama tentunya tentang nasib dari slot orbit yang menjadi hak milik dari pemerintah Indonesia dan masalah kepemilikan dari satelit itu sendiri.Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Id-wibb) Bambang Sumaryo Hadi mendesak MCI mengklarifikasi status investasinya di satelit Protostar II.Jika benar berinvestasi sepertiga di aset tersebut, MCI dinilai mengetahui akan ada penjualan aset.

“Nah, jika dijual seperti itu bagaimana nasib slot orbit yang notabene hak pemerintah Indonesia,” tegas dia kepada Koran Jakarta, Senin (24/8).

Direktur Kelembagaan Internasional Ditjen Postel Ikhsan Baidirus mengatakan sejak awal surat yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengelola slot orbit 107,7 derajat BT adalah kepada MCI. “Perusahaan tersebut mengatakan akan membangun satelit di Amerika Serikat. Masalahnya pengadaan satelit itu kan bervariasi ada yang bayar kontan atau leasing. Ini yang perlu diklarifikasi lebih jauh ke MCI,” kata dia.

Ikhsan meyakini slot orbit yang menjadi hak milik dari pemerintah Indonesia tetap aman karena telah terdaftar di International Telecommunication Union (ITU).

“Jika ditanya satelitmu mana oleh ITU, maka kita akan merujuk kepada satelit milik MCI itu. Masalah ada penjualan oleh mitra MCI, itu hal lain.

Kita perlu mendalami kerja sama antara MCI dengan mitranya,” katanya.

Untuk diketahui, di mata pemerintah Indonesia MCI adalah pengelola Indostar II, namun wewenang dalam pelaksanaan untuk penyiaran mutlak dikendalikan oleh MNC Sky Vision. Kedua perusahaan ini masih dalam genggaman taipan Hary Tanoesudibjo.

Nasib Frekuensi

Regulator telekomunikasi sendiri menyatakan akan berkonsentrasi terhadap nasib dari frekuensi yang dimiliki oleh MCI. Apalagi, perusahaan itu menempati spektrum premium untuk wimax mobile.

“Kami akan memantau penjualan tersebut. Jangan sampai, sumber daya alam menjadi mubazir,” tegas Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi.

Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan MCI Arya Mahendra menegaskan layanan yang diberikan oleh perusahaannya kepada masyarakat Indonesia tetaplah aman. Karena tidak ada hubungannya antara penjualan aset tersebut dan layanan Indovision.

“Bahkan, Indovision tetap berekspansi untuk menunjukkan bukti ke masyarakat semua aman-aman saja,” kata dia, akhir pekan lalu. Ekspansi yang dilakukan MCI adalah membeli hak siar Liga Inggris belum lama ini dan berencana akan menambah 30 channel pada November nanti.

“Jika kami tidak yakin aset yang dimiliki aman, tentunya ekspansi tidak dilakukan. Anda tahu kan berapa harga Liga Inggris. Puluhan miliar rupiah,” tegasnya.

Arya pun membantah selentingan bahwa perusahaannya menyewa satelit ke Protostar. Hal itu diperlihatkan dengan nama satelit adalah Protostar II atau Indostar II.

“Pakai logika sajalah, jika tidak ada investasi mana mungkin nama satelit bisa disebut sesuai merek yang kita mau,” kata dia.

Pada kesempatan lain, Ketua Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Tonda Priyanto menduga sikap optimistis yang ditunjukkan MCI terhadap kepemilikan asetnya karena kerja sama yang dilakukan dengan Protostar berbentuk Condosat.

Condosat adalah kondisi di mana satu satelit menggunakan beberapa filling. “Kerja sama mengisi filling, tidak membuat kepemilikan slot menjadi berganti.

Slot tetap dimiliki negara bersangkutan. Tetapi itu tentunya akan lebih jelas jika pola kerja samanya dibuka,” tandas dia. dni/E-2 (sumber: Warsono).

——–0——–

Yesterday, ProtoStar Ltd. filed two separate motions seeking approval of procedures to separately sell substantially all of the assets of two of its subsidiaries – ProtoStar I Ltd. and ProtoStar II Ltd. All three of the entities filed voluntary chapter 11 bankruptcy petitions in the United States Bankruptcy Court for the District of Delaware on July 29, 2009.

ProtoStar was formed in 2005 to “acquire, modify, launch and operate high-power geostationary (i.e., fixed with respect to a given point on Earth) communication satellites optimized for direct-to-home satellite television and broadband internet access across the Asia-Pacific region.” ProtoStar operates two such satellites – the ProtoStar I Satellite (owned by ProtoStar I Ltd.) and the ProtoStar II Satellite (owned by ProtoStar II Ltd.). The ProtoStar I Satellite launched on July 7, 2008 and “provides Ku-band coverage for digital DTH services, high-definition television and broadband internet to under-served areas from Southeast Asia to the Middle East, while C-band transponders on the satellite enable ProtoStar to provide cellular backhaul, traditional last mile telecom and basic broadcasting services.” The ProtoStar II Satellite launched on May 16, 2009 and became operational on June 17, 2009 following in-orbit testing. At that time, the ProtoStar II Satellite began providing services to PT Media Citra IndoStar and PT MNC Skyvision (the largest DTH satellite television service operator in Indonesia).

According to the motions, there is no stalking horse bidder for ProtoStar I’s assets, but “potential acquirers have expressed an interest to purchase the assets.” However, ProtoStar is seeking the authority to enter into a stalking horse agreement and provide a break-up fee and expense reimbursement in an amount of up to three percent of the cash purchase price (in aggregate). There is also no stalking horse bidder for the assets of ProtoStar II and the company is similarly seeking the ability to enter into a stalking horse agreement later. However, ProtoStar II seeks advance approval of a three percent break-up fee and a separate $500,000 expense reimbursement.

The bidding and auction procedures sought for both sets of assets include the following (differences between the two proposed sets of procedures are noted):

  • Bid Deadline: 4:00 p.m. (Eastern) on September 17, 2009
  • Good Faith Deposit: 10% of proposed purchase price
  • Minimum Overbid (in the event a stalking horse bidder is selected): $500,000
  • Credit Bidding: ProtoStar’s lenders are entitled to submit a credit bid at any time before or at the auctions
  • Auction: September 23, 2009

In addition, each motion attaches a proposed form of asset purchase agreement for bidders to use in submitting their bids (a bidder must include a copy of the form agreement with its bid which is marked to show any requested changes to that form).

(source: Randall Reese)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s