Yogya Cybercity Pertama Indonesia “Republik Hot Nglesot”. Apakah dampaknya pada Industri Telematika?

Yogyakarta, mantan Ibukota Republik Indonesia di zaman Revolusi 1945, saat ini telah berkembang sebagai Ibukota “Republik Hot Nglesot”, sebab sudah banyak sekali lokasi-lokasi tempat anak-anak muda ber-lesehan di tikar sambil minum kopi panas dan makan nasi kucing, sambil berselancar di dunia maya. Hal ini dimungkinkan karena di lokasi-lakasi cafe atau cybercafe tersebut telah dipasang jaringan Wifi atau HotSpot yang memungkinkan para pengunjungnya berselancar di Internet secara gratisan, dengan imbalan memesan sekadar secangkir kopi, snack atau nasi kucing dengan harga yang sangat murah, khas tarif mahasiswa dan pelajar, di kisaran Rp1.000-an.
Kondisi ini dimungkinkan oleh karena makin murahnya sewa jaringan Broadband Internet di kota itu, sekitar Rp 350.000 – Rp 500.000 ber bulan Flat-Rate. Pemilik cafe tinggal memasang perangkat Transceiver WiFi untuk membuat HotSpot di cafe mereka. Selain di cafe-cafe, HotSpots juga dipasang di Mal-mal dan beberapa lokasi Taman Kota.

Surabaya merupakan kota kedua yang memiliki HotSpots gratisan di Taman-taman Kota yang peluncurannya dilakukan oleh Bapak MenKominfo pada awal tahun 2008 ini.

Sedangkan Pelopor HotSpots gratisan di Kota Bandung adalah Melsa Net, dengan imbalan branding Produk Layanan Internet mereka. Ini perlu dicontoh oleh para Penyelenggara Jasa Internet lainnya seperti IM2, Indonet, CBN, First Media dan Telkom Speedy di Bandung.

Di Jakarta kita dapat memperoleh HotSpot gratisan di lokasi Tugu Monas yang disediakan oleh Telkom Speedy. Di banyak Mal-mal dan Cybercafe di Jakarta masih banyak yang mengenakan tarif khusus dari para Penyelenggara Jasa Internet, seperti di Mal Pondok Indah-II, Citos, dan di Restoran di Bandara Sukarno-Hatta.

Di kota Batam juga sudah banyak Mal-mal yang memberikan layanan HotSpot gratis dengan harapan agar makin banyak pengunjung yang datang untuk berbelanja.
Sebenarnya penyelenggaraan HotSpots gratis ini dapat pula dibiayai dari hasil pemasangan iklan di halaman depan Web para Penyelenggara, yaitu cybercafe, Mal-mal, dan Penyelenggara Jasa Internet, saat para pengguna jasa melakukan Login.

Dengan makin maraknya HotSpots gratisan ini, maka sudah tentu akan memberikan dampak terhadap Industri Telematika dan Budaya Kerja Masyarakat Indonesia. Industri Telematika pertama yang akan terpengaruah adalah Warnet-warnet yang saat ini jumlahnya sekitar 10.000-an, sebab jumlah pengunjungnya akan makin berkurang, beralih ke tempat-tempat layanan HotSpots gratisan yang lebih nyaman untuk berselancar di Dunia Maya. Pukulan beruntun pada Industri Warnet datang pula dari makin banyaknya para pelanggan layanan jasa Telpon Seluler 3g/HSDPA yang mampu memberikan layanan Broadband Internet dimana saja dan kapan saja dengan tarif yang relatif murah.

Namun saat ini para Pengusaha Warnet masih sedikit beruntung, sebab para Operator Jasa 3G/HSDPA masih belum memberikan layaan bermutu tinggi, sebab mereka pada umumnya lebih mem-fokuskan perluasan jangkauan dari pada perbaikan mutu layanan.

Dampak positif bagi budaya kerja bangsa Indonesia dengan maraknya HotSpots gratisan ini dan layanan jasa 3G/HSDPA adalah makin banyak masyarakat Indonesia yang memilih untuk melakukan Kerja Jarak Jauh atau Teleworking. Di saat makin meningkatnya harga BBM, maka Teleworking dapat menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan BBM, dan penghematan biaya masyarakat. Budaya ini perlu secepatnya diperluas dan disosialisasikan bila bangsa Indonesia ingin maju secara cepat dan mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kemajuan Teknologi Telematika ini.

Industri lainnya yang akan diuntungkan adalah para Penyelenggara Online News, seperti Detik.com, Kompas.com, PressTalk.info dan QBHeadlines.com. Mereka diuntungkan karena akan makin banyak pengakses situs mereka, sehingga mereka lambat atau cepat akan menggantikan suratkabar, minnguan dan majalah berbentuk hardcopy atau lemabr-lembar kertas tulis. Media Online ini akan dapat meraih makin banyak iklan berbayar dengan imbalan yang sangat besar.

Lalu apakah yang harus dilakukan oleh para Pengusaha Warnet, dimana masa depan mereka akan makin suram? Ada strategi bisnis yang berbunyi sbb: “If you cannot fight them, the you should join them!” Ini barangkali strategi yang tepat bagi para Warnetters untuk merubah tempat layana mereka menjadi Cybercafe murah atau gratisan, dengan imbalan para pengunjung membeli makanan atau minuman, atau barang di kedai mereka. Alternatif lainnya adalah menjalin kerjasama dengan Penyelenggara Pendidikan Jarak-jauh, agar para mahasiswa mereka melakukannya dari Warnet-warnet dengan biaya murah atau gratis, dengan mengambil imbalan dari Uang Kuliah para mahasiswa tersebut.
Dibawah ini adalah tulisan Wartawan Kompas tentang perkembangan HotSpot di Yogyakarta dan beberapa kota lainnya sebagai referensi.

————0———-

Republik “Hot Ngelesot” KOMPAS, Minggu, 8 Juni 2008 | 00:37 WIB :Budi Suwarna dan Lusiana Indriasari

Orang Yogya sedang mengalami demam hotspot. Fasilitas hotspot disediakan di mana-mana, mulai kampus, sekolah, taman kanak-kanak, kedai, kos-kosan, arena futsal, hingga angkringan. Saking banyaknya hotspot, anak-anak muda di sini berseloroh, ”Kalau ada republik hotspot, Yogyakarta pasti jadi ibu kotanya.”

Jika Anda jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza (Amplas) di Jalan Laksda Adisucipto, Anda akan mudah menjumpai anak-anak muda menenteng laptop. Mudah ditebak, mereka pasti akan mampir ke salah satu kafe yang dilengkapi hotspot (area di mana orang bisa mengakses internet tanpa kabel). Mereka akan memesan segelas minuman, kemudian menyalakan laptopnya dan mulai berinternet selama dua jam sesuai batas maksimal yang ditetapkan kafe-kafe di sana.

Pemandangan serupa bisa ditemui di mal Jogjatronik di Jalan Brigjen Katamso, tepatnya di lantai tiga. Jumat (6/6) sore, ada dua belas orang duduk lesehan di selasar toko sambil memangku laptopnya dan asyik beraselancar di dunia maya. Sama seperti di Amplas, mereka adalah para pemburu hotspot. Bedanya, mereka tidak perlu mampir di kedai dan membeli minuman sebagai prasyarat menikmati fasilitas hotspot. Mereka cukup memanfaatkan gelombang hotspot gratisan yang meluber hingga ke selasar toko. Pemburu hotspot di tempat ini mungkin termasuk orang yang hemat atau mungkin bokek.

Sejumlah kedai di sepanjang Selokan Mataram, Gejayan, Sagan, dan Terban juga banyak yang ber-hotspot. Biasanya kafe itu akan memasang spanduk bertuliskan ”Free Hotspot, Unlimited”. Ada juga yang bertuliskan ”Hot Ngelesot”. Maksudnya, fasilitas hotspot bisa digunakan sambil ngelesot atau lesehan di lantai.

Fasilitas hotspot di kedai-kedai semacam itu pun gratis. Di Kafe Djendelo Tanah Airkoe, misalnya, Anda cukup membeli segelas Es Teh Djendelo Bersoebsidi seharga Rp 4.000 dan Anda sudah bisa memanfaatkan fasilitas hotspot mulai kafe itu buka di siang hari hingga tutup pukul 22.00. Itu kalau Anda tidak malu!

Nyatanya, kata Korlap Djendelo, Yusuf Sinaga, ada beberapa pelanggan yang tidak punya rasa malu. ”Main internet dari pagi sampai malam kok cuma pesan satu gelas teh. Saya sudah mendelik-mendelik dan hilir mudik di depannya, eh dia cuek aja,” katanya.

Tidak mau ketinggalan, kos-kosan, lapangan futsal, dan TK juga dilengkapi hotspot. Ibu-ibu lebih senang hanyut dalam dunia maya ketimbang ngerumpi dengan sesama sambil menunggu anaknya selesai belajar dan bermain di TK.

Yang lebih fenomenal, hotspot juga bisa dijumpai di angkringan. Salah satunya angkringan di halaman Sawitsari, Condongcatur, Sleman. Kamis (5/6) malam, ada 10 anak muda tenggelam dalam dunia maya. Ada yang sekadar chatting, bergabung dengan milis, membuka situs Friendster, YouTube, bahkan ada yang sedang bertransaksi bisnis (mungkin jutaan rupiah) sambil menyeruput kopi dan makan nasi kucing (nasi seukuran porsi makan kucing yang harganya cuma Rp 1.000 per bungkus).

Ah, di sini simbol-simbol saling bertabrakan. Angkringan yang merupakan simbol kaum jelata Yogyakarta bertabrakan dengan internet yang menjadi simbol kelas menengah. Gaya metropolis pengunjung bertabrakan dengan gojek kere (humor kaum jelata) khas Yogya yang biasa beredar di angkringan.

”Bapakmu masih kerja di Segitiga Bermuda? Kenapa enggak pindah ke Segiempat Bermuda atau Trapesium Bermuda?” canda salah satu pengunjung.

”Booming”

Bagaimana demam hotspot terjadi? Riza Tantular, Manager Citranet, perusahaan penyedia jasa internet, mengatakan, fenomena ini sebenarnya dimulai sejak munculnya kafe dan kedai kopi kecil seperti yang ada di sepanjang Selokan Mataram tahun 2004. ”Kedai-kedai itu menyediakan fasilitas hotspot untuk menarik mahasiswa,” ujarnya.

Setelah Amplas—yang dilengkapi fasilitas hotspot—berdiri tahun 2006, demam hotspot kian menjadi. Orang makin betah nongkrong, sambil berselancar di dunia maya.

Para pemilik tempat usaha mengakui, hotspot bisa menjadi alat yang efektif untuk memancing pelanggan. Franzeska Mei, General Manager Neofutsal, mengatakan, pengunjungnya terus bertambah setelah pihaknya memasang fasilitas hotspot. Dia mengaku hanya mengeluarkan dana Rp 380.000 per bulan untuk berlangganan internet. ”Dana yang dikeluarkan sebanding dengan penambahan pengunjung,” katanya.

Manager Data Internet PT Telkom Kandatel Yogyakarta Taryoko mengatakan, penggunaan akses internet nirkabel di Yogya memang mengalami ledakan sejak tahun lalu. Orang tinggal menambahkan perangkat access point seharga Rp 400.000 ke koneksi internet dan, bimsalabim, layanan hotspot tersedia.

Taryoko menambahkan, saat ini pelanggan Speedy (produk layanan internet Telkom) di Yogyakarta berjumlah 7.000 orang. Dia memperkirakan lebih dari 100 pelanggan telah menambahkan fasilitas hotspot.

Riza dan Taryoko yakin demam hotspot akan terus berlanjut. Pasalnya, pengguna internet di Yogyakarta makin praktis dan mobil. Apalagi laptop yang dilengkapi perangkat Wi-Fi (wireless fidelity) semakin murah. Dengan uang kurang dari Rp 5 juta, orang sudah bisa memiliki laptop dengan Wi-Fi.

Gejala itu memang semakin nyata. Indikasinya, penjualan laptop di Yogyakarta laris bak kacang goreng. Arie Asimilia, Media Relation Emax Fortune Jogja—distributor notebook Apple—mengatakan, sejak membuka gerai di Amplas tiga bulan lalu, pihaknya mencatat angka penjualan sangat tinggi. Bahkan, angka penjualan di gerai ini melampaui angka penjualan gerai Emax di Jakarta. Sayangnya, dia tidak bersedia menyebutkan jumlahnya.

Sekarang, lanjutnya, pembeli di gerainya harus menunggu 14 hari kerja untuk mendapatkan notebook. Notebook yang banyak dicari adalah yang harganya berkisar Rp 10 juta-Rp 11 juta dengan model trendi. Kebanyakan pembelinya mahasiswa.

Diaz Ario, Junior Project Manager PT Dyandra Promotion Yogyakarta, yang sering mengadakan pameran komputer mengatakan, penjualan laptop satu-dua tahun terakhir di Yogyakarta memang gila-gilaan, terutama yang harganya berkisar Rp 3 juta-Rp 4 juta. ”Sekali pameran, ratusan laptop yang terjual. Banyak yang tidak kebagian sehingga laptop pajangan pun ditawar,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s