Kode Etik Bisnis

Di awal berdirinya Republik Indonesia, Pemerintahan memang benar-benar netral, tidak ikut serta dalam bisnis. Fungsi Pemerintah benar-benar sebagai fasilitator bisnis. Namun dengan semakin banyaknya BUMN yang harus bersaing ketat dengan swasta, maka kenetralan Pemerintah sedikit-demi-sedikit telah berubah, sebab ada keinginan Pemerintah agar para BUMN miliknya itu menyumbangkan Dividen sebesar mungkin yang akan digunakan untuk membiayai operasional Pemerintahanan.

Namun kita perlu pula bersyukur bahwa di Era Reformasi ini kita telah dapat membentuk sebuah institusi yang akan berperan sebagai wasit yang netral, sebab personalianya di-rekrut dari masyarakat yang independen, yaitu institusi Komite Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Gebrakan KPPU yang paling mutakhir adalah dalam keputusannya agar TELKOMSEL, INDOSAT dan XL menurunkan tarif Pelayanan Jasa Telpon Seluler mereka agar tidak memberatkan masyarakat, karena dianggap terlalu mahal.

Dengan adanya krisis supply Kedele beberapa minggu terakhir ini, yang mengakibatkan naikknya harga jual Kedele di Indonesia, maka KPPU saat ini sedang melakukan penyelidikan apakah ada/tidaknya kartel dalam bisnis per-kedele-an ini.

Selain dari masalah tarif jasa, dalam bisinis Pelayanan Jasa Telekomunikasi (TIK) ini ada pula masaah Etika atau Tata-krama berbisnis agar terjadi persaingan usaha yang sehat, dan agar Industri Jasa Telekomunikasi secara keseluruhan maju pesat, baik usaha kelas Besar, Menengah maupun Kecil. Untuk itu diperlukan suatu Etika Berbisnis yang baik.

Sebagai pengantar diskusi dalam pokok bahasan tersebut diatas, kami lampirkan diskusi di Milis Telematika yang sangat relevant, sbb:

—————————

On Saturday 02 February 2008 19:25, S Roestam wrote:
> Terimakasih atas masukan istilah baru Strategi Bisnis, yaitu “Strategi
> Pukat harimau”
>
> Perlu ada aturan Kode Etik Bisnis.

Beda jaman, beda kode etik.

Duluuu sekali, perumtel itu seperti departemen PU.
Dept PU membangun jalan, dan memberi kesempatan pada pengusaha becak,
mikrolet, bis kota, dll untuk cari duit di atasnya. Jadi wajar kalau si
pengusaha bayar pajak. Semua gembira.

Begitupun dengan telekomunikasi. Perumtel membangun infrastruktur, kita rakyat kecil bisa buka usaha “nilai tambah” di atasnya.

Sekarang jaman berubah.

Sekarang ISP, warnet dll bayar pajak, pajaknya digunakan pemerintah untuk membiayai telkom mematikan bisnis mereka.

ISP yang bisa hidup dengan wajar tinggal ISP yang mampu membangun infrastruktur end-to-end. dari internet global sampai pelanggan. 100% bebas telkom/indosat. Jadi semua orang mesti membangun infrastruktur masing masing.

Di jalanan juga begitu. Pengusaha mikrolet, bis kota dll bayar pajak, pajaknya digunakan untuk
membiayai busway dan mendubsidi tarifnya, yang pada dasarnya mematikan bisnis si pengusaha bis kota, mikrolet dll tersebut.
Kalau di jalan menggunakan sistem yang digunakan di telekomunikasi, maka tinggal tunggu waktu, hanya pengusaha bisa kota/mikrolet yang mampu membangun jalanan sendiri yang bisa bertahan hidup.

Untung busway baru di jakarta.
Kalau di kota sekecil makassar ada busway, maka matilah pengusaha pete-pete.

Kalau tidak salah, pemerintah pusat akan membangun busway di Makassar.
(http://makassarkota.go.id/transportasi/busway-makassar-beroperasi-november-2008.html)
Agar tidak mati kelaparan, sekarang sedang dibahas pemda agar para pengusaha
angkutan kota tersebut bisa dikonversi dari pengusaha menjadi karyawan.
(http://makassarkota.go.id/transportasi/pemkot-berencana-terapkan-sistem-tiket.html)

Yang namanya jaman memang selalu berubah.
Ya tinggal kita kita menyesuaikan diri.

Jaman dulu cocok jadi pengusaha. Pemerintah jaman dulu senang masyarakat buka
usaha, untuk membuka sebanyak mungkin lapangan kerja. Pemerintah sendiri
cukup menjadi wasit.

Kalau sekarang cocoknya jadi karyawan.

Jaman sekarang, pemerintah sedang mengupayakan agar sebanyak mungkin
perusahaan di Indonesia menjadi milik asing, sedangkan bangsa kita jadi
karyawan di perusahaan asing tersebut. Makanya BUMN BUMN pada dijual ke
asing, dan investor asing diberi insentif. Sebaliknya, pengusaha lokal
dimatikan, dengan memberi pajak besar kalau menjual kembali jasa yang dibeli.
Ini untuk menjaga agar harga di end user lebih murah daripada harga beli
pengusaha. Alhasil, pengusaha lokal tidak bakal bisa jualan, dan perusahaan
perusahaan milik asing bisa sukses di tanah air.

Jadi, kalaupun mau jadi pengusaha, bukalah kantor pusat di luar negeri, baru
buka cabang di Indonesia, untuk mendapatkan insentif insentif sebagai
investor asing.

Makanya anak saya saya upayakan agar pintar bahasa inggris, karena kemungkinan
besar, pada saat mereka dewasa, mayoritas perusahaan nasional sudah berhasil
dijual pemerintah ke negara negara asing. Jadi anak anak saya bisa jadi
karyawan di perusahaan asing tersebut.

Feeling saya, kalau dalam 10 tahun ini pemerintah kita berhasil menjual semua
aset bangsa kita, bakal dibutuhkan lebih dari 100 tahun kalau mau
dinasionalisasi kembali. Itupun kalau mau dan mampu.


Salam,

Adi Nugroho – http://adi.internux.co.id/
iNterNUX — http://www.internux.net.id/
Jalan Dr. Sam Ratulangi No. 53J Makassar
Tel. +62-411-834690 Fax. +62-411-834691
CDMA:+62-411-6109535 GSM:+62-816-27-9193

One response to “Kode Etik Bisnis

  1. Mengutip salah satu artikel blog di atas,

    “Dengan adanya krisis supply Kedele beberapa minggu terakhir ini, yang mengakibatkan naikknya harga jual Kedele di Indonesia, maka KPPU saat ini sedang melakukan penyelidikan apakah ada/tidaknya kartel dalam bisnis per-kedele-an ini.”

    saya teringat salah satu tayangan TV Januari 2008 lalu–bahwa kenaikan harga jual kedelai disikapi dengan pembakaran hasil panen kedelai oleh beberapa petani di Demak. Di tengah kelangkaan kedelai, harga jual kedelai naik, panen kedelai dibakar… yang menambah kelangkaan, (hukum ekonomi mengatakan di tengah kelangkaan, tanpa intervensi/variabel lain “given”), harga naik…

    Di tengah diskusi kode etik bisnis dan perilaku bisnis dewasa ini, saya teringat isi buku The Speed of Trust (oleh Stephen MR Covey, 2006, Free Press): bahwa trust atau kepercayaan dibangun dari dua hal utama yaitu KARAKTER dan KOMPETENSI. Menarik bagi saya untuk bertanya: bagaimana karakter dan kompetensi bisnis kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s