Telecommuting, Teleworking atau Home Working

Kemarin, hari Rabu, 9 Januari 2008 jalan Medan Merdeka Barat terasa sangat macet, dari mulai pagi sampai sore hari. Setelah kami selidiki, ternyata Bapak Presiden R.I. Susilo Bambang Yodhoyono (SBY) menyelenggarakan rapat bersama seluruh jajaran Dept. Perhubungan, dimana pasti dibahas pula permasalah kemacetan lalulintas di jalan-jalan Ibukota R.I. dan kota-kota besar lainnya.

Sore hari sekitar pukul 15:30 ketika kami harus menghadiri sebuah rapat lainnya di Ditjen Postel yang ada di gedung Dept. Budaya dan Pariwisata yang terletak sekitar 200 meter dari tempat rapat yang sebelumnya, di DEPKOMINFO, kami harus menempuhnya dengan mobil selama 30 menit lebih, padahal kalau berjalan kaki hanyalah diperlukan waktu tidak lebih dari 10 menit.

Coba kita bayangkan, kalau saja Bapak Presiden R.I. SBY punya sebuah Operations Room di Istana Merdeka yang dilengkapi dengan peralatan Videoconferencing (yang mungkin sudah tersedia), dan dilakukan Konferensi Jarah Jauh (sekitar 500 meter) antar Istana Merdeka dan Dept. Perhubungan untuk sebuah Rapat Kerja Presiden R.I. dengan Jajaran Dept. Perhubungan seperti kemarin pagi sampai sore, maka berapakah penghematan yang akan diperoleh, yaitu:

  • Biaya Satuan Pengamanan Presiden R.I., 200 orang xRp 100.000,- = Rp20 juta
  • Kerugian waktu kerja sekitar 5.000 orang eksekutif yang terjebak macel selama 30 menit rata2 tiap kali melintas di jalur Jalan Merdeka Barat dan sekitarnya, dimana asumsi gaji para eksekutif rata2 adalah Rp 5 juta/bulan (Rp 25.000/jam)= 5.000 orang x0,5 jam xRp25.000,-/jam =Rp 62,5 juta
  • Biaya bensin mobil 5.000 orang eksekutif yang macet 30 menit, dengan asumsi konsumsi bensin rata2 5 liter =5 liter x5.000 mobil x Rp4.500/liter =Rp112,5 juta

Total penghematan adalah Rp 195 juta karena acara Rapat Kerja Presiden R.I. dengan Jajaran Dept. Perhubungan dilakukan melalui Videoconferencing saja.

Keuntungan lainnya adalah, Rapat Kerja antara Presiden R.I. dengan Jajaran Departemen2 R.I. bisa dilakukan bukan hanya SATU Tahun sekali, melainkan lebih sering, misalnya tiap TIGA Bulan, sebab acara2 ini tidak perlu persiapan yang lama dan mahal, karena dianggap sebagai acara rutin saja. Jadi Kabinet Indonesia Bersatu bisa lebih sering berkoordinasi, sehingga berbagai permasalahan Nasional bisa lebih cepat dicarikan solusi dan penyelesaiannya.

Dari informasi yang kami peroleh kemarin, khabarnya Presiden SBY memberikan arahan pada Jajaran DEPHUB bahwa mulai sekarang tidak boleh lagi ada Laporan ABS (Asal Bapak Senang) yang bisa menjerumuskan bangsa Indonesia.

Dengan penerapan Videoconferencing (Streaming) saat para Menteri (Pembantu Presiden) atau Gubernur sedang melakukan kunjungan ke Daerah, Presiden bisa bertanya langsung kepada Pejabat Daerah, atau salah satu wakil Rakyat di lokasi itu, apakah Laporan yang diterima Presiden itu benar atau ABS. Kepentingan Rakyat di Daerah dengan ini akan terjamin. Mereka juga sangat gembira bisa berbicara langsung dengan Presiden R.I., face-to-face melalui layar Video. Presiden juga tidak kehabisan waktu, serta makin banyak Daerah2 yang dapat dikunjungi tiap Tahun.

Hal lain yang membuat kami sangat optimis bahwa Telecommuting, Teleworking atau Home Working ini dapat segera dilaksanakan di Indonesia adalah Response mendukung dari para Alumni pendidikan Luar Negeri (sementara baru dari Alumni Australia, belum dari yang lainnya, seperti AS, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Jepang, Kanada, dll) melalui Mailing List alumni@adsjakarta.or.id yang kami lampirkan dibawah ini:

—————————– PROPOSAL ke Para Alumni —————————-

Dear Alumni,

I would like to make a propasal to overcome the daily traffic jam in Jakarta and large cities in Indonesia by implementing a new working culture, namely:

Telecommuting, or Teleworking or Home Working.

In short, I would recommend all Alumni to go to their offices only when necessary to attend a meeting or meeting someone at an Office, hotel, or restaurant in town. The rest of the day I would like to recommend to all Alumni to stay at home doing their office work or assignment using their own Laptops or Personal Computers. When the work or assignment is completed, it can easily be sent to their Offices through the existing Broadband Networks:

  • Wireless Broadband NW:
    • Mobile GSM HSDPA, 3.5G, 3G/UMTS, EDGE or GPRS
    • Mobile and Fixed Wireless CDMA EV-DO
    • WiFi or WiMAX networks
  • Wireline Broadband NW:
    • TELKOM ADSL-Speedy
    • PLN Powerline Communications
    • Optical Fiber cable NW
  • Internet Acces via Cybercafe or Warnets
  • Public Switched Telephone Network TELKOMNET Instant
  • With this new Working Culture, If all Alumni and Other Executives and Staff of all corporations and Government Offices implement this new culture, I believe the roads will be empty and quiet, we can enjoy travelling through the Jakarta city.

    We do not lost time to travel through traffic jams, and we save many gallons of petrol. The Government do not need to raise Petrol prices, since the demand has been reduced substantially.

    Please do implemnt this Telecommuting or Home Working culture. It saves us from many problems and stress!

    The relevant articles on this subject can be read from the following links:

    http://sroestam.wordpress.com/2007/11/26/hari-ini-senin-26-nov-07-jakarta-macet-lagi/
    http://sroestam.wordpress.com/2007/12/11/per-1-jan-2008-harga-bensin-premium-naik-ke-rp6250liter-apa-tidak-ada-alternatif-lain/
    http://sroestam.wordpress.com/2007/12/24/solusi-kemacetan-lalulintas-pakai-taksi-udara-ataukah-telecommuting/

    Thank you for your participation in the implementation of this Telecommuting or Home Working program.

    Best regards,
    Sumitro Roestam
    The Indonesian Information Society (MASIF)

Beberapa Response dari Alumni:

—-Original Message—-
From: gmardianto@yahoo.com
Date: 09/01/2008 13:50
To: “faisal abdullah”<aanthur@yahoo.com>, <alumni@adsjakarta.or.id>
Subj: Re: [AusAID Alumni] Alumni Digest: Proposal to Overcome Traffic
Jam in Jakarta

I absolutely agree, Faisal.

Even in Bandung, my hometown, I had to drive around 50
minutes for 9 km back in 2002. It’s mad. So I try to
find a small house in the city centre and moved there.
It takes now around 15 minutes. I am grateful.

But please, do find solution and implement. People are
now in trouble, mentally and physically because of
this traffic. At the moment, we are now forced to find
our own solution.

Gatot Mardianto, Wollongong ’92

———————

Hi all,

It’s a good idea indeed. What we need is a different
work culture that depends heavily on IT.

I work with a large Multinational Telecommunications
company based in Bandung and I used to work like that.
My boss is in Sydney, and my collegues are in Bangkok,
Jakarta, Singapore and India. No need to be in the
office. Company pays for the IT connection. Most of
the things are done electronically (e.g. travel
approval, expense claim, virtual meeting, documents
sharing and download).

An important prerequisite for this is a good, reliable
and affordable IT infrastructure.

Even myself, if it’s for my own, Telkom Speedy or IM2
are still too expensive (and they are not so stable
too). So please try to make it cheaper …

Just my two rupiah🙂

Gatot Mardianto,
Wollongong Alumni, 1992

————-

— Bambang SOESATYO <bsatyo@indonesian-aerospace.com>
wrote:

> I think it is a good idea. It is worth to try.
———————————————————–

7 responses to “Telecommuting, Teleworking atau Home Working

  1. setuju pak. Andai aja pak presiden menginstruksikan jajaran depkominfo untuk membuat streaming server dan voip server, tentu anak buahnya cukup di kantor aja teleconference. streaming server sudah tersedia dalam aplikasi opensource (vlc) dan voip (bisa menggunakan asterisk) .

  2. andaikan bisa semudah itu :p

  3. seharusnya memang mudah, yang dibutuhkan kan cuman kemauan untuk melaksanakannya aja. 🙂

  4. Total penghematan adalah Rp 195 juta karena acara Rapat Kerja Presiden R.I. dengan Jajaran Dept. Perhubungan dilakukan melalui Videoconferencing saja.

    Supaya lebih balance, kalo di atas sdh dihitung penghematannya, kira-kira berapa investasi yg diperlukan unt mempersiapkan itu semua (infrastruktur, biaya operasional, dll).

    Jawaban Admin:
    Dik Dheche Yth,

    Investasi perangkat VC (Video Streaming) walaupun relatif lebih mahal dari Rp 195 juta, ini merupakan "One-Time" cost, yang bisa dipakai ratusan kali. Juga bisa dipilih yang bagus tetapi murah, dan memakai Software Open Source, seperti Posting pak Rito diatas

    Biaya Operasional juga lebih murah, tidak perlu 200 orang Satuan Pengaman Presiden, karena Rapatnya Rutin di Istana Negara

    Masyarakat tidak dirugikan dengan kemacetan Lalulintas disekitar tempat Rapat yang dikunjungi Presiden (pada contoh, Dephub). Biaya kemacetan adalah kehilangan waktu kerja dan bensin mobil.


    Wassalam,

  5. Benny S Nasution

    Sebagai salah satu alternatif solusi dan wacana OK, tetapi sebagai peraturan tidak akan dapat dilaksanakan. Mengapa? Karena “dimensi” bekerja tidak melulu berangkat ke tempat pekerjaan. Ada banyak sekali aspek sosial dan aspek sosial turutan yang muncul karena “pergi bekerja ke kantor” – yang tidak dapat direduksi menjadi sekedar angka-angka ekonomi. Selain itu angka-angka tersebut belum memperhitungkan sisi negatif hilangnya mata pencarian banyak orang misal perkantoran jadi kosong karena tidak ada yang sewa dan kaitannya dengan investor, tukang makanan yang hidup dari jualan makan siang, tukang parkir, bengkel kendaraan yang berkurang pekerjaan, laundry karena orang lebih sedikit keluar, berbagai sektor informal dan lain-lain dan lain-lain. Aspek lain adalah orang-orang menjadi lebih egois dan individualis yang buntutnya akan lebih banyak pasien menderita psikosomatis.
    Yang jelas sistem transportasi massal menggunakan rel harus secepatnya diprioritaskan penyelesaiannya, bukan sekedar membangun jalan toll yang semakin mahal tetapi semakin macet. Saya dengar dari rekan-rekan di perguruan tinggi, tahun 1970an mata kuliah jalan raya dan jalan kereta api di Teknik Sipil sama 6 SKS tetapi sekarang mata kuliah jalan raya tetap 6 SKS sedang jalan kereta api hanya menjadi mata kuliah pilihan. Apa ini juga ikut menyumbang kebangkrutan sistem perkeretaapian dan transportasi massa di negeri kita?
    Jadi menurut saya yang harus diperbaiki adalah akar pemasalahannya, ya itu tadi, sistem transportasi massa. Kalau sistem transportasi massanya baik, nita untuk membeli kendaraan juga akan berkurang atau hilang (menurut kita lho, nggak tahu dengan para pembuat keputusan yang berangkat dan pulang bekerja dengan pengawalan yang akan merasa kehilangan “comfort” menggunakan transportasi massa sehingga tidak pernah membuat keputusan final masalah ini).

    Selamat Tahun Baru dan tetap optimis….

    BN
    ———–

    Tanggapan Admin:

    Pak Benny Yth,
    Terimakasih atas tanggapannya yang membuat kita semua jadi berpikir lebih keras dan kritis!
    1. Soal Kantor jadi kosong, bisa dimanfaatkan untuk : – Virtual Office bagi para UKM (yg jumlahnya banyak) yg bisa membuatnya lebih terpandang dan mudah dapat order pekerjaan, Ruang Conference-nya disewakan buat acara Pesta Perkawinan, atau Conference Perusahaan itu sewaktu-waktu, atau disewakan ke perusahaan lain untuk meeting.
    2. Para penjaja makanan bisa berpindah ke pinggiran kota, tempat permukiman, sehingga kota menjadi lengang, tidak macet.
    3. Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) akan memakan waktu lama dan biaya mahal
    4. Telecommuting bisa dilaksanakan sekarang juga, peralatan sudah ada atau dapat dibeli murah. Contoh, saya selalu menenteng Video camera dan Mic (seharga Rp 150.000) yang bisa disambungkan ke Laptop via USB. Untuk Laptop yg lebih baru, camera dan mic sudah built-in.
    Untuk yang punya HP 3G, langsung bisa Voice Call atau Video Call.
    5. Dengan Telecommuting tidak berarti anda tidak bersosialisasi, malah sebaliknya bisa sering ketemu via Voice Call atau Streaming Videoconferencing dimana saja, kapan saja. Malah bisa meeting di Cafe2 di luar Pusat Kota, untuk yg tidak bisa hadir bisa via Voice Call atau VC.

  6. Pak,
    mengenai pedagang yang biasa jualan makanan di jalan, mungkin setelah adanya virtual office, maka mereka juga ganti haluan. Jadi penjualan makanan online. kebayang deh, mesen gorengan or siomay tinggal klik🙂 dan, itupun mereka ga perlu modal banyak, seperti harus bikin lapak, trus belum lagi harus ketangkep sama pamong praja karena katanya mengganggu lingkungan. Yang mereka lakukan tinggal sewa web hostting, trus sewa domain. Trus mengenai yang nganter siapa, mereka juga bisa buka usaha jasa pengantaran kilat.
    Nah, jadi kurang tepat rasanya jika katakan mereka akan kehilangan mata pencarian, tapi jika melihat peluang itu mereka bahkan bisa menciptakan > 1 lapangan kerja.

    MRT, bagaimanapun juga saya rasa perlu, walaupun ide untuk virtual office adalah bagus. Namun ada kalanya kita perlu juga yang namanya Kopdar (ketemuan, trus janjian). Nah untuk acara kopdar seperti ini, daripada kita menggunakan mobil pribadi, bukankah lebih baik menggunakan transportasi umum, seperti mrt. Tentunya dengan biaya yang terjangkau.

  7. kalau telecommuting, teleworking atau home working ini terlaksana… saya pikir indonesia bisa menjadi salah satu obyek pembahasan di buku “the world is flat”-nya thomas l friedman berikutnya…🙂

    india yang secara kultur masyarakatnya tidak begitu berbeda dengan indonesia saja sudah melangkah jauh di depan dan bahkan bisa dikatakan menjadi pemasok tenaga kerja it terbesar di dunia…🙂

    yang perlu dicatat disini, india memiliki jasa tenaga kerja outsource customer service dari perusahaan-perusahaan amerika, eropa, dsb, yang dikerjakan dan tetap berada di negara india sendiri, dengan melatih karyawannya sesuai logat negara yang memintanya.

    beberapa rumah sakit di amerika mengirimkan sebagian hasil tes pemeriksaan kesehatannya (dioursourcekan) ke india untuk didapatkan laporan hasilnya, untuk kemudian oleh india dikirimkan laporan hasilnya ke amerika lagi.

    bahkan saat ini sudah banyak tenaga it di indonesia yang mendapat project2 pekerjaan dari luar negeri, namun orang yg mengerjakannya tetap di indonesia.

    so? kedepannya menurut saya, mau tidak mau, indonesia harus mengikuti trend bekerja dunia, yang tidak berjarak tempat dan waktu, alias online🙂 atau menjadi tertinggal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s