Jaringan dan Roadmap Satelit

C-Band Global Beam Siaran Pers No. 191/DJPT.1/KOMINFO/1South Pac Ku-BandJumpa Pers Menteri Kominfo Moh. Nuh Tentang Keberhasilan Delegasi Indonesia Dalam Upaya Penyelamatan Filing Satelit Indonesia Pada Sidang ITU-WRC 2007

Menteri Kominfo Moh. Nuh pada tanggal 19 November 2007 siang di Gedung Departemen Kominfo telah mengadakan jumpa pers khusus sehubungan dengan keberhasilan Delegasi Indonesia, yang telah berhasil melakukan penyelamatan filing satelit Indonesia pada ITU-WRC (World Radiocommunication Conference) 2007 yang diselenggarakan pada tanggal 22 Oktober s/d. 16 November 2007 di Geneva, Swiss. Delegasi Indonesia yang hadir dalam sidang tersebut terdiri dari unsur pejabat-pejabat dari Departemen Luar Negeri (khususnya Perwakilan Tetap RI di Geneva), Departemen Kominfo (khususnya Ditjen Postel), Departemen Perhubungan (khususnya Ditjen Perhubungan Udara dan Ditjen Perhubungan Laut), LAPAN dan beberapa penyelenggara telekomunikasi (PT Telkom, PT Indosat, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Telkomsel, PT Media Citra Indostar dan PT Aces). Sidang tersebut telah dihadiri oleh 3.117 delegasi dari 153 negara anggota ITU dan 88 organisasi internasional dan pengamat ( observer ).

 

Dalam WRC-2007 tersebut, Indonesia telah menyampaikan 6 proposal dan telah dijadikan dokumen resmi persidangan. Salah satu proposalnya yang sangat strategis adalah Proposal 5, yaitu tentang permohonan dukungan untuk notifikasi jaringan satelit Indonesia. Pada proposal ini Indonesia meminta dukungan terhadap notifikasi jaringan satelit Indostar-1 dan Palapa-C series. Dalam dokumen ini disampaikan bahwa prososal Indonesia telah mendapat dukungan di forum Regional (APG2007-5) dan meminta WRC-2007 untuk dapat menerima notifikasi ketiga jaringan satelit Indonesia tersebut. Setelah koordinasi dengan beberapa negara terkait dapat diselesaikan, maka proposal Indonesia mengenai filing satelit tersebut dapat disetujui secara aklamasi pada sidang Pleno (Plenary) ke-6 WRC-2007 pada tanggal 7 Nopember 2007. Dengan disetujuinya permohonan tersebut, maka praktis ketiga filing Indonesia, INDOSTAR-1A (107.7°BT), PALAPA-C1 (113°BT), dan PALAPA-C4 (150,5°BT) telah berhasil diselamatkan.

 

Sebagai informasi, satelit Indonesia adalah satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama administrasi telekomunikasi Indonesia (dalam hal ini Departemen Kominfo, khususnya Ditjen Postel). Dalam eksistensinya, satelit-satelit Indonesia tersebut diselenggarakan oleh para p enyelenggara satelit Indonesia, yang merupakan p enyelenggara telekomunikasi yang memiliki dan atau menguasai satelit yang didaftarkan ke ITU atas nama administrasi telekomunikasi Indonesia, yang meliputi: PT. Telkom, PT. Indosat, PT. Media Citra Indostar, PT. Pasifik Satelit Nusantara dan LAPAN. Sedangkan d aftar satelit Indonesia terdiri dari: Fixed Satellite Service: Palapa Telkom-1 (108E), Telkom-2 (118E), Palapa C1 (113E), Palapa Pacific 146E; Broadcasting Satellite Service: Cakrawarta-1 (107.7E); Mobile Satellite Service: Garuda-1 (123E); dan Space Exploration Satellite: LAPAN Tubsat (Satelit Non GSO).

 

Dalam perkembangannya, pengelolaan satelit Indonesia tersebut pernah mengalami permasalahan yang cukup komplikated. Pada tahun 2006, ITU menginformasikan bahwa sejumlah filing satelit Indonesia yang didaftar ke ITU sejak era 1990-an, dihapus oleh ITU, karena tidak memenuhi prosedur notifikasi ITU. Filing satelit-satelit tersebut adalah: Palapa C1 (113E) di slot orbit 113E (hilang tahun 2004), Indostar-1 (107.7E) / Cakrawarta di 107.7E (hilang tahun 2004) dan Palapa C4 di slot orbit 150.5E (hilang tahun 2005). Ketiga satelit tersebut adalah satelit Indonesia yang telah operasional dan telah memberikan layanan di Indonesia maupun negara lainnya. Konsekuensinya dengan hilangnya hak pengelolaan filing satelit tersebut (di-suppressed nya filing-filing tersebut) sangat merugikan Indonesia karena kehilangan hak pemanfaatan orbit satelit. Akibatnya, jika filing satelit di suppressed oleh ITU maka negara yang mem-filing kehilangan hak untuk menggunakan suatu slot orbit satelit, sehingga layanan satelit tidak dapat di lakukan dari orbit tersebut. Dalam hal di suatu slot sudah ditempatkan satelit, maka jika filingnya di suppressed oleh ITU maka satelit yang sudah ditempatkan itu harus di keluarkan dari slot tersebut. Kalaupun dilakukan filing susulan maka statusnya akan yunior dan less priority dibanding filing satelit negara lain yang ada di sekitarnya, akibatnya jika terjadi saling mengganggu/interferensi, maka parameter teknis yang yunior akan diturunkan sampai batas yang di setujui negara yang filingnya senior.

 

Itulah sebabnya, kemudian Delegasi Indonesia sejak awal 2007 dan kemudian puncaknya pada WRC-2007 telah melakukan berbagai upaya penyelematan filing satelit-satelit tersebut. Upaya yang dilakukan dengan memanfaatkan forum regional, forum multilateral dalam sistem ITU, termasuk melalui RRB (Radio Regulation Board) serta yang tertinggi adalah melalui forum WRC-2007 di Geneva ini, yang akhirnya melalui keputusannya menetapkan bahwa Indonesia berhak kembali menggunakan filing-filing tersebut.

 

Untuk masa datang, Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk melakukan penataan dan pengelolaan filing satelit mengingat nilai strategisnya, yaitu karena di samping cakupannya mampu menjangkau seluruh wilayah teritorial Indonesia juga mampu menjangkau negara-negara lain di kawasan. Di samping itu menciptakan kemandirian dalam penyediaan infrastruktur telekomunikasi nasional serta mengurangi ketergantungan dari jaringan satelit asing serta berfungsi mengintegrasikan wilayah negara dalam suatu jaringan sistem telekomunikasi nasional. Dan yang lebih penting lagi, bahwasanya filing memiliki nilai ekonomis tinggi, baik dari pengoperasian satelit itu sendiri maupun mendorong berkembangnya industri jasa layanan turunannya serta mendorong pula industri di sektor-sektor lain.

Kepala Bagian Umum dan Humas,

Gatot S. Dewa Broto

HP: 0811898504

Email: gatot_b@postel.go.id

Tel/Fax: 021.3860766

Kami persilahkan untuk membaca Komentar dibawah ini tentang Penggunaan Teknologi Transmisi Digital ke/dari Satelit yang berbasiskan IP, Routing IP di Satelit, sehingga ada efisiensi yang tinggi untuk penggunaan Bandwidth Sateit, serta tidak lagi diperlukan konversi analog-digital, sebab semuanya sudah berbasis IP (digital).

 

Roadmap Satelit

Setelah selesainya acara HUT BRTI pada hari Selasa, 8 Januari 2007, Ditjen Postel/Pokja Roadmap Satelit mengadakan rapat di Lantai-13 Ditjen Postel.
Yang hadir adalah semua Stakeholders, dari Instansi, seperti Lapan,
Meteorologi, TNI, beberapa Penyelenggara, Pak Adi Adiwoso yg sedikit
terlambat hadirnya, ASSI, MASTEL, APJII, dsb.

Beberapa kesimpulan rapat:

  1. Walaupun masih ada kekurangan disana-sini, hasil Pokja Roadmap Satelit akan segera diterbitkan sebagai Buku-I yang nantinya bisa di-update setelah mendengar masukan2 dan usul2 perbaikan dari para Stakeholders.
  2. Kekurangan itu antara lain adalah dalam penyusunan Demand Forecast, baru berdasarkan kebutuhan Transponder satelit oleh jasa2 ICT saja, dan belum menampung kebutuhan Non-ICT, seperti untuk militer, meteorologi, vehicle tracking, jardiknas, dll.
  3. Juga belum ditampung kebutuhan untuk layanan jasa2 pengguna di LN (negara2 tetangga, Afrika, dsb), maupun dampak hadirnya layanan satelit Asing di Indonesia (mengurangi demand).
  4. Menurut pakar Satelit, pak Adi Adiwoso, dimasa depan satelit2 baru tendensinya berkapasitas besar, sekitar 100 Gbit/sec, berteknologi mutakhir, sehingga kebutuhan akan transponder bisa diturunkan.
  5. Akan dimanfaatkan Band-band Frekwensi Ku (11/14 Ghz), Ka (20/30 Ghz) dan band lain yang masih kosong.
  6. Juga akan digunakan Non-Geostationary Orbits, seperti LEO (Low Earth Orbit), atau orbit rendah lainnya untuk menurunkan ukuran Antena Stasiun Bumi dan Biayanya.
  7. Hasil Pokja Roadmap Satelit akan digunakan oleh Pemerintah dalam menyusun Filing Orbit Satelit dalam pertemuan khusus tentang hal ini di Forum ITU.
  8. Bapak Dirjen POSTEL juga menyetujui untuk menyebarluaskan hasil Pokja Roadmap Satelit ini (Buku-I) melalui berbagai media, termasuk melalui media “Diskusi Telematika 2008 di Cyberspace” pada URL: https://mastel.wordpress.com sehingga dapat diperoleh masukan2 untuk penyempurnaannya, sebelum ditetapkan kebijakan pengaturan oleh Pemerintah/Menteri/Dirjen.
  9. Terungkap pula bahwa masih ada dualisme Biaya Sewa Satelit ex luar negeri, karena masih ada Dua aturan perundangan di bidang Keuangan/Perpajakan dan aturan perundangan di bidang Telekomunikasi (double tax, PPh dan PPN). Disarankan agar ASSI menindaklanjuti supaya layanan jasa satelit ini tidak terkena duble tax, sebagaimana telah dilaksanakan oleh APJII

 

One response to “Jaringan dan Roadmap Satelit

  1. Pak Djiwatampu, Pak Arifin Nugroho, Pak Taufik Hasan dan Kawan2 Yth,

    Terimakasih kepada pak Dji dan Pak Paul Tan yang telah membukakan mata kita bahwa banyak alternatif lain untuk memperoleh Infrastruktur TIK menggunakan teknologi mutakhir agar dicapai efisiensi (biaya dan pengguaan bandwidth) yang tinggi, sehingga bisa menurunkan biaya sewa infrastruktur.

    Seingat saya pada tahun 2007 yang lalu Amerika Serikat menerencanakan untuk meluncurkan satelit berbasis suitsing IP (Smart Satellite, ada IP Router di Satelit), namun sepertinya hanya akan dipakai untuk keperluan A.S. sendiri.

    Saya mendukung usul pak Paul Tan, bahwa transmisi ke/dari Satelit hendaknya langsung menggunakan sistem transmisi digital yang berbasis langsung IP, sehingga tidak lagi diperlukan konversi sistem transmisi digital di Jaringan berbasis IP di darat.

    Memang saat ini C-Band milik Indonesia sudah mendekati maksimum kapasitasnya, namun Ku-Band masih banyak yang menganggur, baik dari Palapa, Telkom, maupun yang lainnya. Kalau ini kita pakai, seharusnya bisa diberikan harga yang murah, dai pada nganggur. Istilah pak Nizar (dalam Topik Bahasan “Biaya Internet Terjangkau”) adalah Syndrome Pak Raden: biarlah jambu itu jadi busuk dari pada dijual murah!

    Saya ingin memberikan info bahwa di bagian Indonesia Timur ada tawaran satelit GE (General Electric http://www.sat-ge.com) yang cocok dengan spesifikasi coverage sbb:

    – Seluruh Indonesia Tengah dan Timur, EIRP-nya sebesar 40 dBWatt pada C-band, dan
    – Untuk Jatim, Bali, Lombok, Sumbawa, Timor dan Merauke, ada beam dengan EIRP sebsar 41-45 dBWatt pada Ku-Band,

    Silahkan dibahas dan dimanfaatkan untuk mendapatkan biaya
    Infrastruktur jaringan satelit yang murah.

    Pada kesempatan ini saya usulkan tambahan Topik Bahasan No. 35:
    Jaringan Satelit., pada “Diskusi Telematika 2008 di Cyberspace”

    Wassalam,
    ————————-

    Masukan dari Pak Paul Tan via Pak Djiwatampu, sbb:

    Pak Dji ysh,

    Dibawah sekedar mengutarakan pendapat pribadi saya sebagai konsultan dibidang telekomunikas mengenai IPStar.

    Memang komunikasi satelelit berdasarkan IP lebih efisien dari komunikasi satelit konvensional, karena jaringan didaratan sekarang kebanyakan berbasis Ethernet/IP secara menyeluruh (dalam lingkup convergence).

    Jadi sangatlah efisien jika IP tanpa konversi lagi langsung diarahkan kejalur satelit dan dibagi-bagi lagi karena sorotan gelombang radionya (downlink) dapat kemana-mana yang dituju. Penerima sorotan gelombang tadi bisa stasiun bumi atau perumahan. Terminal stasiun bumi dapat membagikan sinyal yang diterima lewat jaringan IP didaratan berdasarkan alamat IP masing-masing. Peran satelit disini serupa dengan satelit yang meneruskan Frame Relay, sebagai pipa penyalur diangkasa.

    Ada teknologi baru yang sedang diteliti dengan hasil memuaskan, yaitu dengan adanya router pada satelit (diangkasa) yang berperan lebih membagi-ratakan informasi kepada tujuan dengan beberapa cara, tergantung dari bentuk jaringan keseluruhan yang dikehendaki. Router diangkasa ini dapat melayani segala macam protokol jika dikehendaki, ataupun menangani IP seperti di IPStar. Dengan demikian kinerja link satelit lebih efisien. Faedah tambahan lagi dari konsep ini, adalah rasio pembawa dan noise+interferensi (C/N+I) kearah satelit dan yang dari satelit kearah bumi, dapat dipisah menjadi entitas yang tersendiri. Kenyataan ini dapat dimanfaatkan dengan berbagai cara, umpamanya desain ukuran antena dapat lebih optimal dan juga untuk mengurangi efek interferensi dan noise.

    Sudah diketahui bahwa ada kesulitan mendapatkan slot di orbit GEO untuk komunikasi satelit di C-band. ITU telah menjatahkan satu slot di orbit GEO dengan frekwensi didekat tapi bukan di C-band konvensional, khusus untuk Indonesia. Jika suatu konsortium dapat dibentuk untuk melaksanakan kemungkinan penggunakan satelit istimewa ini, kita akan mendapatkan peluang penggunaan transponder satelit secara utuh, dengan kapasitas ratusan MHz, bahkan bisa lebih dari seribu MHz. Satelit dengan frekwensi jatahan ini akan mudah sekali dikoordinasi pada ITU. Kendati pada saat-saat sukarnya mendapatkan slot di C-band ini, jika kita terlambat ada kemungkinan jatah ini terbengkelai dengan hasil tak tentu. Jatah ini juga mencakup band frekwensi di Ku-band. Mengingat curah hujan yang hebat di Indonesia, maka penggunaan frekwensi Ku-band ini (agak berlainan dengan Ku-band konvensional), yang juga dijatah oleh ITU, akan menambah kesulitan karena redaman hujan.

    Akan tetapi secara teoretis Planned Band di Ku-band dan C-band ini dapat di rancang dalam bentuk sebuah satelit hibrida. Umpamanya bagian Ku-band dapat digunakan untuk siaran TV demi pendidikan, IPTV, – yang taraf kepentingannya mungkin tidak setinggi komunikasi data atau suara -, penataan strategis komunikasi diantara pemerintahan, pemerintah dengan masyarakat, pengarahan penyelamat dan monitor bencana alam, dll.

    Siaran/komunikasi yang penting sekali dapat di salurkan lewat C-band atau di back-up dengan jaringan tambahan macam lain.

    Uraian ini sekedar tambahan atas anjuran Bapak kepada institusi, kelompok masyarakat terpilih yang juga saya lampirkan di copy karbon.

    Semoga masukan saya ini dapat berguna.

    Paul Tan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s