Biaya Akses Internet yang Terjangkau

Bisakah Proyek S.O. Palapa Ring membuat Biaya Akses Internet yang Terjangkau? Berapakah perhitungan diatas kertas sewa bulanan yang akan ditawarkan oleh Konsortium Palapa Ring kepada Non-Operator, Corporate Users, Operator lain yang bukan Investor, dan Masyarakat Umum?

Feederlines untuk last-mile access buat Palapa Ring apa sudah dipersiapakan, dan siapakah mereka? Apakah perhitungannya sudah termasuk biaya ini?

Menurut Ibu Koesmarihati dari BRTI, sebenarnya tarif Internet bisa murah asalkan para Operator pemilik Backbone Internet mau menurunkan tarif sewa mereka kepada ISP, NAP, Corporate Users, dsb.

Bagaimanakah dengan RT/RW-net ciptaan pak Onno dan kawannya? Bukankah itu sudah sangat murah. Apa bisa diperluas untuk seluruh Indonesia?

Silahkan diperdebatkan , dan dicari jalan keluarnya!

Silahkan baca Komentar di bawah ini, yaitu diskusi antara pak AS dan pak Nizar tentang perbedaan pasar Jakarta/Indonesia vs Singapore dan Syndrome Pak Raden (biarkanlah jambu jadi busuk daripada dijual murah). Benarkah ini untuk kasus tarif Internet Indonesia?

3 responses to “Biaya Akses Internet yang Terjangkau

  1. Pak Nizar dan Pak AS menulis di telematika@yahoogroups.com:
    Pak Nizar mengatakan:
    Pasar sudah bicara, Pasar Internet Jakarta itu lebih besar dari Singapore, toh tetep harganya gak bisa semurah singapore kecuali IIX nya, berdasarkan info dari orang yang berkepentingan, Jalur FO kita di BATAM, di jakarta dan di jalur jalur lainya masih banyak yang idle, ini yang saya bilang sebagai Syndrome Pak Raden, Lebih membiarkan jambu busuk daripada di jual murah.

    On 1/6/08, Pak AS wrote:

    Pak Nizar,
    Ini pull system, Analogi cellular phone di awal tahun 90 an.
    Pada saat itu yang dibidik adalah para eksekutif dengan gaji minimum 5 juta per bulan. HP benar-benar sangat terbatas penggunanya dan sangat elit pemakainya. Pernahkah para forecaster bisnis pada saat itu memprediksi bahwa pasar HP akan meledak seperti saat ini ? Penjual sayurpun, pengamen, petani, punya HP.

    Ketika teknologi memungkinkan HP menjadi terjangkau oleh semakin banyak masyarakat yang membutuhkan sarana komunikasi maka sampai dipelosokpun HP menjadi biasa.
    Dan, menarik bagi Telkom untuk memasang sampai ke kecamatan lewat iklannya.

    Kalau sambungan internet murah, niscaya pengguna pasti akan semakinmeningkat.
    Ini masalah hukum supply and demand, hukum Moore, dan trajectory technology

    Pak Nizar menjawab lagi pada 6 Jan 08:

    He… he….
    pasarnya beda Mas

    kita tidak bisa mengkomparasi pasar yang berbeda
    karena karakteristik supply dan demand nya juga beda.

    Maka, jangan disamakan pasar Papua dengan pasar Jakarta

    Saya pikir, pokok masalah pembangunan di Indonesia
    adalah kesenjangan yang disebabkan oleh keragaman.
    dan ini membuat setiap pemerintahan pusing, ketambahan
    beban dari parpol

    Seandainya saja ada di dunia ini model pembangunan
    negara kepulauan seperti Indonesia,

  2. Menurut pendapat saya adalah sebagai berikut:

    Bahwa internet mengikuti teori supply and demands kemungkinan benar juga, semakin tersedia, maka harga semakin murah. namun perlu diingat juga kalau tidak salah salah satu hukum teknologi adalah semakin advance, semakin murah. misal dari teknologi telepon publik(PSTN), dimana teknologi yang saat ini digunakan adalah circuit switching, bandingkan dengan teknologi VoIP, tentu akan sangat terasa kan perbedaan harganya.

    sedangkan untuk indonesia, saya melihat potensi yang sangat besar untuk jaringan intranet di kota-kota besar, seperti surabaya, jogja, dan jakarta, kan untuk akses internet dalam negeri infrastrukur yang perlu disiapakan saya rasa lebih murah, meskipun saya tidak punya data untuk mengatakan hal ini.

    mengenai bandwidth keluar negeri, kalau kita ingin mendapatkan “rasa” yang lebih cepat/murah untuk mengakses situs-situs internasional, mungkin pemerintah hanya perlu meng-efisiensi-kan bandwitdh yang sudah ada, misalnya dengan pemasangan Firewall berbasis squid, dan pembatasan terhadap content yang berbau pornografi, sebab jujur saja, padatnya lalu-lintas traffic internet di Indonesia disebabkab pengguna yang mengakses situs porno yang memakan bandwidth yang cukup besar.

    anyway, saya cuman seorang mahasiswa TI yang mungkin jauh lebih junior daripada bapak/ibu/rekan-rekan yang ada disini, tapi semoga komentar saya bermanfaat

  3. sumber: http://tech.groups.yahoo.com/group/APWKomitel/message/13745

    Bapak2 dan Ibu2 Yth,

    Terinspirasi dari diskusi antara pak AS dan pak Nizar tentang perbedaan pasar Jakarta/Indonesia vs Singapore dan Syndrome Pak Raden (biarkanlah jambu jadi busuk daripada dijual murah) di Milis
    APWKomitel@yahoogroups.com,
    saya ingin mengangkat hal ini pada Topik Bahasan No. 17: Biaya Akses
    Internet terjankau.

    Apakah memang benar bahwa Harga Sewa Bandwidth Backbone Internet di
    Indonesia sebenarnya bisa diturunkan, karena masih tersedia cukup.
    Kalau tidak salah Ibu Koesmarihati dari BRTI juga menyatakan demikian.


    [rr] pak mitro, pak rudi harahap yth:
    menarik kiasan ‘biarkan jambu jadi busuk… daripada dijual murah’

    sebetulnya ini adalah pelajaran bisnis 1.0, orang madura dipasar
    tradsional pun atau tukang becak sudah pengalaman soal supply dan
    demand macam beginian.

    Merasakan apa yang terjadi dilevel global dan juga ditulis dalam buku the world is flat (twif) , menurut si author menjadi pemicu globalisasi 3.0 ketika terjadi dot bust(kejatuhan dotcom) alias banyak perusahaan telco global seperti
    global crossing bankrut gara gara hype fiber yang digelar besar
    besaran dengan harapan demand(permintaan) bandwidth akan naik terus
    eksponensialy juga harga… ternyata tidak kunjung tiba…

    akhirnya backbone cable laut(fiber) yang digelar pun tidak laku… dan
    daripada busuk yah dijual murah saja oleh para investor.

    ini yang menyebabkan india maju menjadi negara outsourcing software
    besar didunia dan bangalore pun jadi silicon valley dan disebut
    globalisasi 3.0..dalam buku twif.

    jadi bagi banyak orang internet bust/ recession tidak baik… bagi
    India dan banyak negara yang bisa memanfaatkannya menjadi blessing in disguise…
    note: indonesia ternyata tidak dapat memanfaatkan peluang ini karena 1. policy pemerintah mengenai bandwidth luar negeri dan 2. control incumbent bandwidth luar negeri.
    Ini kenyataannya kenapa India bisa maju setelah Y2K kita tidak padahal programmer kita juga boleh dikatakan tidak kalah kok saat itu dan abundant.

    Kalau kita membiarkan jambu menjadi busuk… artinya kita membiarkan
    opportunity SME kita untuk bisa membangun silicon valley di tanah air
    kita seperti apa yang terjadi di India…
    warnet dalam hal ini bisa menjadi tempat kerja/commuting yang nyaman
    kalau bandiwdht murah dan reliable ( SLA/QoS nya terjamin)

    Semoga incumbent kita tidak egois dan membiarkan jambunya menjadi
    busuk… dan seperti tengkulak… daripada harga rusak dan murah…
    lebih baik jual mahal kalau perlu dibuang jika sudah busuk alias tidak
    laku lagi.
    Kasihan kalau pemikirannya masih seperti pak raden atau tengkulak
    pasar tradisional atau mungkin belum dengar/baca buku twif.

    is just a matter of someone’s paradigm…to be or not to be…
    salam, rr – apwkomitel

    note:1 barang barang di cina… dijual sangat sangat murah terkadang
    lebih murah dari harga bahan grosir nya kalo kita beli di Indonesia
    atau di Amerika sekalipun… welcome to globalisiasi 3.0

    2. price fixing… ini kayanya bukan urusan BPK jika belum kearah
    masalah di accountingnya… lebih kearah monopoli pasar dan price
    fixing dan menjadi kewenangan KPPU pak Mitro….
    Jika pasar sifatnya tidak kompetisi… maka price ditentukan oleh
    vendor sehingga kita sebut price fixing… contoh lain harga software
    proprietary ditentukan harga mahal dan internasional sepihak oleh
    vendor bukan oleh pasar lokal/nasional setempat… apakah ini juga
    bisa disebut price fixing ?
    cmliiw

    Apakah ada keengganan Direksi Perusahaan Telekomunikasi/Operator untuk
    tidak mau menurunkan Tariff sewa bandwith Internet dikarenakan takut
    menurunkan tarif sewa, sebab di-akhir jabatan mereka, mereka bisa
    dianggap merugikan keuangan Negara, sebab banyak diantara Perusahaan2
    itu ada kepemilikan saham Pemerintah.

    Jadi kalau demikian memang sinyalemen adanya Syndrome pak Raden itu
    ada benarnya: biarlah jambu itu busuk dari pada di jual murah!

    Kita mungkin perlu meminta tanggapan atau advis kawan2 dari BPK atau
    BPKP (khan pak Rudy M. Harhap ada di Milis).
    Silahkan di tanggapi dan diberikan solusi pemechannya, agar Internet
    segera jadi murah.
    Bisa Posting langsung ke URL:
    https://mastel.wordpress.com/category/biaya-akses-internet-terjangkau/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s