Indonesian Infocom Society – Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL)

Entries categorized as ‘Uncategorized’

Perlukah lisensi SLI ditambah lagi?

October 5, 2009 · Leave a Comment

Ada berita bahwa Ditjen Postel bulan depan akan menyelenggarakan Tender untuk penambahan satu lagi Penjelenggara Jasa SLI di Indonesia, yang saat ini sudah ada 3 Operator Penyelenggara SLI, yaitu PT TELKOM (007), PT INDOSAT (001 dan 008) dan PT Bakrie Telccom (009), sehingga nantinya akan ada 4 Penyelenggara Jasa SLI.

Selain dari SLI, saat ini ada juga layanan jasa VoIP internasional yang diselenggarakan oleh PT TELKOM (01017), PT INDOSAT (01018), XL Jimat (0100) dan Bakrie Telecom (01019).

Kode akses SLI yang 4-digit ini masih mengacu kepada Fundamental Technical Plan yang lama, sebab Blue Print Telematika baru yang disesuaikan dengan Era Konvergensi Jaringan dan Layana Jasa dengan Numbering Plan baru berbasiskan IP masih belum ada.

Penambahan jumlah Operator SLI memang akan menguntungkan pelanggan layanan jasa. Namun dampak penambahan ini tentu akan mengurangi pendapatan SLI para operator SLI lama, sebab akan muncul pesaing baru, yang mungkin saja akan pasan tarif yang jauh lebih murah untuk menarik pelanggan baru dan perpindahan pelanggan SLI lama. Selain dari itu, penambahan Operator SLI baru akan menambah pundipundi Pemerintah dengan pembayaran biaya lisensi baru itu.

Silahkan ditanggapi.

Categories: Uncategorized

IPTV: Missing Link agar Operator Telco mampu bersaing dengan Operator TV Kabel dalam meperebutkan Layanan Triple Play di tiap rumah

July 9, 2009 · Leave a Comment

Layanan Triple Play adalah layanan Audio, Video dan Data/Internet yang dibutuhkan oleh tiap individu atau rumahtangga. Bila layanan ini dapat diberikan oleh satu operator melalui satu jaringan telekomunikasi, maka lengkaplah kebutuhan mereka untuk komunikasi. Mereka tidak membutuhkan layanan dari operator lainnya. Saat ini layanan Triple Play ini sudah dapat diberikan melalui jaringan Operator TV Kabel berlanganan. Dengan demikian operator ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan Operator Telekomunikasi.

Untuk mengimbangi hal ini, maka dimunculkan teknologi IPTV, yaitu layanan Streaming Video dengan kualitas setara dengan Standar Definition TV (SDTV) dan High Definition TV (HDTV) melalui pengendalian kualitas end-to-end. Untuk kualitas SDTV diperlukan kecepatan transmisi sebesar 1,5 – 2 Mbps dan untuk kualitas HDTV diperlukan kecepatan transmisi 8 Mbps.

Categories: Uncategorized

IPTV: Pertempuran Perusahaan Telco dan TV Kabel untuk menguasai Single Home Entry bagi Layanan Triple Play

July 9, 2009 · Leave a Comment

Triple Play adalah layanan Audio, Video dan Data di Era Konvergensi Next Generation Network (NGN) melalui satu saluran telekomunikasi atau pipa (kabel, serat optik, microwave). Dengan menguasai pintu masuh ke-rumah-rumah pelanggan yang bisa menikmati layanan Triple Play tersebut, maka semua kebutuhan layanan telekomunikasi maupun entertainment di tiap rumah itu sudah terpenuhi, sehingga mereka tidak memerlukan jasa perusahaan lainnya.

Dewasa ini kebutuhan layanan telekomunikasi dilayani Operator Telekomunikasi, sedangkan untuk layanan entertainment TV dilayani oleh TV Broadcaster dan TV Kabel. Keunggulan lainnya dari TV Kabel adalah dapat pula memberikan layanan Data/Internet dan Suara (VoIP), sehingga lengkaplah layanan Triple Play ini diberikan oleh Perusahaan TV Kabel.

Untuk mengimbangi layanan Triple Play dari Operator TV Kabel, maka dibuatkan standar layanan Streaming Video dari Operator Telekomunikasi yang mutu layananannya dijamin end-to-end dengan teknologi IPTV. Untuk kualitas gambar Standard Definition TV diperlukan kecepatan transmisi 1,5-2 Mbps, sedangkan untuk High Definition TV diperlukan kecepatan transmisi 8 Mbps.

Dibanyak negara maju umumnya telah terpasang jutaan sst saluran kabel tembaga PSTN yang dapat ditingkatkan manfaatnya untuk transmisi digital dengan sistem Asymetric Digital Subscriber Line (ADSL) untuk menghemat biaya investasi. Di Indonesia jaringan kabel tembaga PSTN hanya terbatas sampai sekitar 8 juta sst dan tidak akan ditambah lagi dimasa depan, karena sudah digantikan dengan sistem seluler CDMA Fixed Wireless Acces yang biaya investasinya jauh lebih murah per sst. Saat ini kabel PSTN di Indonesia dipakai untuk layanan InternetTelkom  Speedy. Jadi bila IPTV diterapkan di Indonesia oleh PT TELKOM, maka penggunaan ADSL harus berbagi dengan layanan Telkom Speedy.

Di Indonesia selain PT TELKOM juga telah banyak Operator Jasa Broadband Internet (ISP) yang memberikan layanan melalui jaringan Serat Optik, seperti First Media dengan mutu layanan yang cukup baik. Mereka memilki kesempatan yang lebih baik untuk memberikan layanan Triple Play IPTV dengan mutu yang memuaskan pelanggan. Sekarang tinggal berapakah tarif yang akan dibebankan kepada pelanggan agar dapat menutup biaya CAPEX dan OPEX, dan seberapa besarnya potensi pasar di Indonesia. Melihat tarif Broadband Internet saat ini di Indonesia yang sekitar Rp 1-juta per bulan untuk kecepatan transmisi 1-Mbps, maka kita dapat memperkirakan berapa nantinya jumlah pelanggan IPTV yang akan mampu berlangganan.

Menurut peneltian Multimedia Research Group, jumlah pelanggan IPTV dunia pada tahun 2005 sebesar 3,7 juta menjadi 36,9 juta pada tahun 2009, dimana mayoritasnya ada di Eropa. Pendapatan yang akan diperoleh bisa mencapai US$10 milyar pada tahun 2009.

Bagaimanakah prospek bisnis IPTV di Indonesia? Berapakah perkiraan jumlah pelanggannya? Apakah sudah banyak yang menginginkan layanan ini, mengingat sudah ada layanan yang cukup baik dan murah walaupun belum interaktif, yaitu TV Kabel berlangganan,  Digital TV Broadcast, serta Internet TV.

Silahkan ditanggapi.

Categories: Uncategorized

Yang Penting2 dari Rakornas Telematika &Media 2008 KADIN: Blue Print, Kepastian Hukum, Persaingan Ketat

June 25, 2008 · Leave a Comment

Rakornas Telematika & Media 2008 KADIN Indonesia telah diselenggarakan
dengan lancar dan sukses pada hari Senin 23 Juni 2003, yang dibuka oleh
Bapak MenKominfo M. Nuh dan sambutan oleh Ketua Umum KADIN Indonesia
M.S. Hidayat.

Dari 3 presentasi yang disampaikan oleh 3 Operator, yaitu bapak Diruttel
Rinaldi Firmansyah, Direktur Mobile-8 pak Merza Fachys dan Direktur
INDOSAT pak Wahyu Wijayadi, menyuarakan kesimpulan yang sama atau
serupa, yaitu judul Subject Milis diatas: Blue Print, Kepastian Hukum,
dan Persaingan yang terlalu ketat sebab normalnya hanya ada 3-4 operator
dalam satu negara
. Diperkirakan akan terjadi merger operators dalam
kurun waktu kurang dari 3 tahun mendatang, agar persaingan bisnis
Telekomunikasi menjadi lebuh mudah dikendalikan.

Yang paling menonjol dan menentukan semuanya adalah belum adanya Blue
Print Telematika yang baku
yang dapat menjadi acuan para pelaku bisnis.
Mastel tahun lalu telah menyampaikan Draft Blue Print, Kadin menurut pak
Teguh juga sudah membuat, dan terakhir, kami juga ikut serta dalam
meeting2 penyusunan Blue Print atau Road Map Telematika yang
dikoordinasikan oleh Ditjen Postel/BRTI akhir tahun 2007 y.l.

Blue Print Telematika Indonesia ini memang harus sangat komprehensif,
mencakup berbagai aspek perencanaan dan kebutuhan masa depan:
- Arah perkembangan Teknologi, mana yang dipilih?
- Struktur Industri Telematika yang dikehendaki, baik operasional
layanan jasa-nya maupun Industri Manufacturing-nya.
- Kebijakan Investasi bagi Operator dan Manufacturing
- Kebijakan Persaingan Usaha dan Pentaripan

Kami akui bahwa draft-draft Blue Print yang pernah ada belum mencakup
semua hal diatas secara komprehensif dan bersifat futuristik (bisa
meramalkan kondisi minimal 10-tahun ke depan).

Bila Blue Print yang komprehensif ini sudah tersusun, maka segala
peraturan turunannya dapat menjadi sinkron dan terarah dalam
pelaksanaannya, yaitu UU, PP, KepMen, KepDirjen, dll.

Ini juga secara otomatis menjawab pertanyaan soal kepastian hukum dalam
bisnis Telematika di Indonesia.

Silahkan diberikan tanggapan dan saran-saran yang positif demi kemajuan
bangsa dan negara.

Categories: Uncategorized
Tagged: , , ,

Dapatkah Perubahan Budaya Kerja Teleworking Mencegah kenaikan Harga BBM Dalam Negeri?

May 16, 2008 · 1 Comment

Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu dalam hari-hari ini sedang dalam proses memantapkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM, sebagai salah satu cara untuk mengurangi subsidi BBM akibat dari naiknya harga-harga minyak mentah di Pasar Internasional.

Indonesia dahulunya adalah termasuk negara peng-ekspor minyak dunia dan sampai saat ini masih menjadi Anggota OPEC (Organisasi Negara-negara Peng-ekspor Minyak), walaupun saat ini Indonesia sudah menjadi negara yang meng-impor minyak (net oil importing country), sebab kebutuhan akan minyak mentah Indonesia sudah mencapai 1,2 juta barrel per hari, versus Produksi Minyak Mentah sebesar sekitar 1 juta barrel per hari. Namun perlu kita ketahui bahwa Indonesia juga adalah peng-ekspor Gas Bumi (LNG) terbesar di dunia, peng-ekspor Batubara, dan peng-ekspor terbesar CPO yang dapat digunakan sebagai Biofuel.

Kalau saja berbagai bentuk energi tersebut diatas dapat dipertukarkan, maka sebenarnya Indonesia adalah negeri “Net Exporter of Energy”. Sehingga secara makro, maka dampak kenaikan harga BBM dunia malah akan sangat menguntungkan Indonesia, bertambahnya Devisa Negara karena sebagai “Net Exporter of Energy”. Dana besar ini malah dapat dipakai untuk mensejahterakan Rakyat Indonesia.

Di Indonesia telah pula diketahui banyak sumber energi alternatif sebagai supplement atau pengganti energi BBM, yaitu:

  1. Biogas yang berasal dari kotoran sapi,

  2. Etanol yang berasal dari tanaman Enau (satu pohon enau dapat menghasilkan 1-liter etanol murni) yang merupakan biofuel.

  3. Briket Arang yang dibuat dari sampah kota (diproduksi di Ciamis dengan harga Rp 1.600/kg briket arang),

  4. Bahan bakar dari serbuk gergaji (di lokasi-lokasi penggergajian kayu), dll

  5. Energi matahari yang diubah menjadi energi listrik dengan Solar Panel (dipakai di pedalaman Kalimantan Tengah),

  6. Energi Ombak yang diubah menjadi energi listrik di Panati Selatan Pulau Jawa.

  7. Energi Angin yang dapat dikombinasikan dengan energi matahari untuk mengisi Battery Penyimpan Energi Listrik,

  8. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

Itu semua kalau secara intensif dan dilakukan secara terkoordinasi di seluruh Indonesia, maka hasilnya akan berupa pengurangan kebutuhan BBM yang cukup signifikan.

Kembali kepada topik utama, maka kami akan uraikan bahwa dengan merubah budaya kerja dari bekerja masuk kekantor tiap hari (5-hari atau 6-hari kerja), menjadi budaya bekerja jarak jauh atau Teleworking, Indonesia akan dapat menghemat pemakaian BBM lebih banyak lagi. Dengan Teleworking, maka para karyawan tidak lagi harus masuk kantor tiap hari, tetapi cukup masuk kantor 1 -hari atau 2-hari saja dalam 1-minggu.

Sudah tentu tidak semua jenis pekerjaan dapat dilaksanakan secara jarak jauh. Yang cocok untuk kerja jarak jauh adalah pekerjaan para Top Executives, Managers, dan karyawan yang hanya memerlukan kerja otak saja yang dapat melaksanakan kerja jarak jauh. Masuk kantor secara fisik hanya diperlukan saat akan konsultasi dengan Pimpinan atau Staff, dan rapat-rapat yang memerlukan kehadiran fisik.

Di Indonesia saat ini terdapat sejumlah 27 juta orang yang sehari-harinya biasa mengakses Internet untuk berbagai keperluan bisnis maupun non-bisnis. Dengan asumsi bahwa hanya 50%-nya dari jumlah tersebut diatas yang dapat atau mau melakukan Teleworking (Kerja Jarak Jauh), dan asumsi penghematan BBM sebesar 5-liter per hari per orang, maka Total penghematan BBM dapat mencapai:

  • 27-jutax50%x5-liter = 67,5 juta liter per hari, atau

  • 67,5-juta liter x 360 hari = 24,27 juta liter per tahun

Dengan harga Bensin rata-rata Rp 5000/liter, maka akan dihemat dana subsidi BBM sebesar Rp 121,35 milyar per tahun.

Keuntungan lainnya dari penerapan Budaya Teleworking adalah berkurangnya kepadatan lalulintas, sehingga memperlancar transportasi di kota-kota besar di Indonesia.

Kesimpulan dari analisis ini:

  1. Dampak terbesar yang dapat diperoleh untuk mencegah naiknya Harga BBM di dalam negeri adalah melalui pengaturan pendapatan negara dari hasil penjualan Ekspor Energi Indonesia, sebab Indonesia adalah “Net Exporter Energy”, serta restrukturisasi penggunaan BBM di dalam negeri (tingkatkan pemakaian energi dari gas bumi, dan kurangi pemakaian energi BBM).

  2. Extensifikasikan penggunaan Energi Alternatif untuk menghemat BBM

  3. Kembangkan Budaya Kerja Jarak Jauh, yang dapat menghemat energi BBM secara moderat, serta mengurangi kemacetan lalulintas.

Semoga dapat menjadi bahan pertimbangan para Pemimpin di negeri ini dalam upaya mensejahterakan Rakyat Indonesia.

Categories: Uncategorized

Hello world!

January 1, 2008 · 1 Comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories: Uncategorized